Temukan Biodisel, Murid SMP 5 Jogja Ini Akan Presentasikan Hasil Penelitiannya di Hong Kong

Prime Banner

YOGYAKARTA – Suatu anugerah bagi seorang siswa SMPN 5 Yogyakarta, Gregory Hope Soegiantoro yang mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian karya ilmiahnya di depan para peneliti dan mahasiswa S2 dan S3 dalam International Conferencee for Applied Energy (ICAE) 2018.

Dalam konferensi internasional yang akan dihelat di Hong Kong pada Agustus mendatang, Gregory akan mempresentasikan ‘Biodiesel Ramah Lingkungan dari Limbah Lemak Ayam dan Minyak Jelantah’.

Gregory menceritakan, dirinya mengikuti ICAE tersebut bermula ketika seorang pembimbing penelitian dari Dosen Teknik Kimia yang memberitahukan dirinya untuk mengikuti ICAE, lantas Gregory iseng-iseng untuk mendaftarkan diri.

Selain itu, alasan mengapa ia ingin mendaftarkan diri dalam ICAE 2018 ini lantaran sejauh ini belum ada pelajar yang mengikuti konferensi internasional tersebut.

“Pesertanya ICAE ada professor, dosen peneliti. Kalau pelajar yang saya tau baru saya. Nah kaget juga bisa lolos. Karena banyak dosen yang udah bertahun-tahun bilang susah masuknya. Terlebih aku juga belum tahu standar kalau internasional itu gimana,” ujarnya pada Selasa (24/7/2018).

Dalam konferensi internasional nanti, Gregory akan memlresentasikan penelitiannya untuk mendapat pengakuan internasional tentang penelitian biodisel.

Sejauh ini, persiapan untuk presentasi nanti, Gregory menjelaskan, limbah lemak ayam dan minyak jelantah tersebut akan disaring lagi.

“Disentrifugasi supaya hasilnya murni lebih bersih, juga testing komposit gas chromatography-mass spectroscopy untuk mengetahui komposisi biodisel yang dihasilkan,” lanjutnya.

Dari hasil yang telah diujikan di Laboratorium UAD, komposisi yang dihasilkan dari limbah lemak ayam dan minyak jelantah ini sebelum disaring mencapai 85 persen.

“Kalau sudah disaring itu kemungkinan besar djatas 90 persen. Artinya biodisel yang dihasilkan itu sudah mencapai biodisel yang berkualitas tinggi,” paparnya.

Gregory menambahkan, penelitian ini telah dimulainya sejak Maret 2017 silam.

Penelitian ini bermula karena lemak ayam dan minyak jelantah masih sering dikonsumsi oleh masyarakat, padahal tidak sehat.

“Kalau dibuang juga nggak ekonomis, jadi lebih baik dimanfaatkan sebagai biodisel yang saat ini kuta juga membutuhkan,” ucapnya.[Noristera Pawestri/Tribun Jogja]

You may also like...