Tidak Sesederhana Untuk Mencari Kerja, Namun Pendidikan Memiliki Fungsi Penting Lain Dalam Kehidupan Manusia

Prime Banner

ApakabarOnline.com – Adalah pendidikan mengenai pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Namun pendidikan juga sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Sekolah seringkali dijadikan sebagai jembatan bagi seseorang untuk mempersiapkan, memasuki atau menempuh dunia kerja. Di beberapa kesempatan terdapat juga kritik mengenai sekolah yang tidak bisa membantu kita di dunia nyata atau dalam hal ini konteksnya menghasilkan uang.

Padahal ada fungsi yang lebih esensial lagi dari sekolah selain sekadar mempersiapkan seseorang untuk mencari uang atau survive dalam dunia kerja. Saya mengelompokkannya ke dalam 3 (tiga) variabel.

Pertama yaitu mengenai konstruksi paradigma atau yang biasa kita sebut sebagai metode berpikir.

Diberbagai kesempatan, saya sering menemukan baik di lingkungan sekitar maupun dunia perkopian yang mengatakan ; “ruang kita lagi santai, ada kopi sama rokok, nimatin aja, kalau mau ilmiah di sekolah aja.”

Melalui kondisi diatas menandakan bahwa pendidikan di Indonesia telah gagal, sebab berpikir ilmiah itu seharusnya bukan hanya di sekolah. Tetapi dimanapun dan kapanpun dalam konteks apapun kita harus konsisten memakai cara berpikir yang runut, rapi, baik dan bertanggungjawab sebagaimana prinsip ilmiah.

Seperti verifiable bisa di verifikasi, reliable bisa diandalkan kebuktiannya dan falisiable bisa diuji.

Seperti seseorang yang membuat makalah, skripsi atau tesis yang dapat mencapai puncak kesimpulan, tentu melewati tahapan-tahapan ilmiah yang berbasis data atau informasi sehingga bisa diandalkan kebuktiannya untuk diujikan.

Seperti pengujian mengenai ukuran gravitasi di Indonesia, Amerika atau China. Tentu hal ini tidak memerlukan sekolah sebagai ruang ilmiah untuk sebuah pengujian.

Lain hal seperti ketika datang hujan deras dan akan terjadi banjir, maka disana kita harus bisa memastikan kebenaran atas kesimpulan tersebut, tentu melalui pengujian yang runut.

Sehingga hal ini bisa berhubungan dengan problem solving. Mengapa demikian? Ketika kita menemukan sebuah masalah dalam kehidupan, solusi kita bisa tepat sasaran. Karena kesimpulan kita benar terhadap fenomena yang kita lihat atau kita alami.

Seperti beberapa kesempatan yang lalu, Gubernur DKI Jakarta melalui Anies Baswedan mengatakan bahwa : air yang turun dari langit maka harus masuk ke dalam bumi yaitu tanah, bukan dengan gorong-gorong raksasa lalu dilimpahkan ke laut, ini namanya melawan sunnatullah.

Atas fenomena dan kesimpulan diatas, maka dapat disimpulkan solusi dari air yang turun dari langit harus masuk ke dalam bumi yaitu tanah, sehingga menyebabkan banjir. Kemudian kita hanya cukup berleha-leha menikmati sunnatullah dengan genangan air yang sedang piknik hingga ke atap rumah. Modarlah kita.

Itulah mengapa berpikir yang benar menjadi penting untuk seluruh hal. Karena hal itu menjadi dasar seseorang membuat kesimpulan atas data-data yang dimiliki.

Atau yang sering kita jumpai, ketika kita mendapatkan banyak data dan informasi dari berbagai sumber, lalu kita masukkan ke dalam otak, namun keadaan paradigma berantakan, maka kesimpulan yang diambil dari seluruh informasi itu akan menjadi ngaco. Dan ketika kesimpulan sudah menjadi ngaco, maka solusi yang diambil juga akan menjadi ngaco.

Dan inipun berlaku juga untuk kita yang menjadi sub-demokrasi dalam memilih pemimpin atau dukung tidak mendukung dari hasil kebijakan.

Sebab itulah saya mengatakan bahwa berpikir ilmiah dan runut bukan hanya di sekolah saja. Itu mengapa metode berpikir yang benar dan baik menjadi sangat penting dan itu seharusnya menjadi fungai utama dari pendidikan.

Kedua adalah transimi nilai, yaitu memindahkan nilai-nilai yang kita percaya ke generasi berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi.

Seperti di Amerika, ada 2 (dua) nilai yang selalu di kumandangkan, yaitu liberty dan equality. Bahkan monumen mereka pun adalah patung liberty yaitu kebebasan. Dan di dalam lagu kebangsaan mereka pun terdapat the land of the free, yaitu tanah orang-orang merdeka.

Hal tersebut terdapat di dalam pendidikan mereka, yaitu memakai nilai kebebasan dan kesetaraab sebagai spirit atau pondasi dasar.

Atau yang berada di masyarakat Jepang, mereka terkenal dengan budaya malu. Ketika tidak bekerja secara optimal atau tidak berintegritas bahkan hingga korupsi, maka disana mereka akan merasa malu.

Beda hal dengan di Indonesia, kalau seseorang mempunyai janji untuk rapat pukul 7 (tujuh) maka itu artinya pukul 9 (sembilan). Atas kenyataan ini semestinya proses pembentukan nilai masyarakat harus ada di dalam pendidikan.

Kemudian lebih lanjut yaitu mengenai sosialisasi atutan main bersama. Yaitu aturan bersama yang menjadi bagian dari nilai. Ketika suatu nilai telah mendarah daging dan menjadi identitas dari masyarakat, itulah yang kemudian akan menjadi aturan main bersama. Atau yang biasa kita sebut sebagai norma atau hukum.

Maka ketika ada seseorang yangn sudah S1, S2 bahkan S3 tidak mengerti bahwa lampu merah itu adalah berhenti dan lampu hijau itu adalah jalan, maka pendidikannya tidak lagi tentang nilai, hanya simbolik saja. Dan menandakan bahwa pendidikan kita di Indonesia telah gagal, sebab semestinya sosialisasi antara main bersama sudah terdapat di dalam pendidikan.

Ketiga yaitu pembangunan jejaring sosial. Ini sudah menjadi rumus bersama dalam berkehidupan sosial. Ketika kita di sekolah atau perguruan tinggi dan bertemu dengan banyak orang, itu adalah bagian dari esensial pendidikan.

Adanya interaksi sosial dari berbagai latar belakang yang berbeda dan pendapat yang berbeda, di sana kita belajar menyikapi perbedaan atau persamaan.

Kemudian perlu diketahui, bahwa politik pertama yang djajarkan di dalam hidup adalah melalui sekolah atau pendidikan.

Seperti halnya ketika membuat event, maka kita perlu adanya keterlibatan banyak orang di dalamnya. Dari sinilah interaksi sosial dengan beragam latar belakang dan perbedaan pendapat di mulai.

Dan inilah yang menurut hemat saya menjadi fungsi paling esensial dari pendidikan. []

Penulis :  Robiatul Adawiyah

You may also like...

Leave a Reply