61 Persen Pekerja Migran Indonesia Berasal dari Pulau Jawa, Mengapa?
2 min read
JAKARTA – Pulau Jawa masih menjadi lumbung utama Pekerja Migran Indonesia (PMI). Data terbaru menunjukkan lebih dari 60 persen PMI berasal dari Pulau Jawa, dengan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sebagai tiga penyumbang terbesar.
Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) / BP2MI, pada periode Januari-Juli 2025 saja, Pulau Jawa menyumbang 104.316 dari total 157.865 pekerja migran atau sekitar 66,1%. Sementara pada data penempatan Juni 2023, tiga provinsi Jawa — Jatim (5.050), Jateng (4.168), dan Jabar (3.725) — menyumbang 63% dari total penempatan nasional.
Jika ditarik lebih luas dengan data BPS tentang mobilitas kerja, pola ini konsisten. Pulau Jawa menjadi konsentrasi pekerja sirkuler mencapai 66,7 persen, dengan Jabar 25,1%, Jateng 19,5%, dan Jatim 12,4%. Angka 61 persen yang sering dikutip adalah rata-rata tahunan yang menggambarkan dominasi struktural Jawa dalam migrasi kerja.
5 Kantong Utama Pengirim PMI
1. Jawa Timur: Selalu di peringkat pertama. Pada 2024, ada 79.339 warga Jatim yang berangkat atau 26,7% dari total nasional 297.434 orang. Kabupaten seperti Ponorogo, Tulungagung, Sampang, dan Blitar menjadi kantong tradisional.
2. Jawa Tengah: Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Kendal.
3. Jawa Barat: Indramayu menjadi penyumbang terbesar kedua secara kabupaten dengan 40.870 pekerja migran.
4. Nusa Tenggara Barat: Lombok Timur menjadi kabupaten pengirim terbesar secara nasional dengan 48.187 pekerja.
5. Lampung dan NTT
Mengapa Jawa Mendominasi?
1. Faktor Demografi dan Kepadatan Penduduk
Pulau Jawa dihuni lebih dari 56% penduduk Indonesia. Persaingan lapangan kerja sangat ketat, terutama di pedesaan. Data BPS 2024 menunjukkan 55,36% PMI berasal dari pedesaan, di mana keterbatasan lahan pertanian mendorong migrasi.
2. Budaya Migrasi yang Turun-Temurun
BP2MI menyebut ada kantong-kantong wilayah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur di mana masyarakat secara turun-menurun bermigrasi ketika sulit mencari kerja. Jaringan keluarga dan tetangga yang sudah sukses di Malaysia, Taiwan, dan Hong Kong menjadi modal sosial.
3. Keterbatasan Lapangan Kerja Formal
Mayoritas penempatan masih terkonsentrasi di jabatan _housemaid, caregiver, worker, plantation worker,_ dan _domestic worker_ — sebanyak 67,7%. Bagi banyak warga Jawa dengan pendidikan menengah, sektor ini lebih menjanjikan dibanding kerja serabutan di dalam negeri.
Ke Mana Mereka Pergi?
Mayoritas (75%) bekerja di kawasan Asia Pasifik. Tiga negara tujuan utama pada 2024-2025 adalah:
– Hong Kong: 99.168 penempatan
– Taiwan: 84.306 penempatan
– Malaysia: 50.917 penempatan dan menampung 1,7 juta PMI secara total, serta menjadi sumber remitansi terbesar Rp74,4 triliun atau 29,9% dari total
Sekitar 54% penempatan pada 2025 terpusat di Hong Kong dan Taiwan saja.
Tantangan dan Pekerjaan Rumah
Dominasi Jawa menunjukkan ketimpangan pembangunan. Selama lapangan kerja di daerah tidak dibuka, migrasi akan terus menjadi jalan keluar. Seperti diungkap BP2MI, pemerintah daerah perlu difasilitasi untuk membuka lapangan kerja atau setidaknya mencatat dan memfasilitasi migrasi secara prosedural.
Di sisi lain, besarnya kontribusi Jawa terhadap devisa negara melalui remitansi perlu diimbangi dengan perlindungan yang lebih kuat, pelatihan keterampilan, dan program reintegrasi purna PMI agar tidak kembali terjebak dalam siklus migrasi rentan.
Pulau Jawa mungkin menjadi asal 61 persen PMI, tetapi cerita di balik angka itu adalah cerita tentang ketangguhan, harapan, dan pekerjaan rumah besar kita untuk menciptakan kesejahteraan di kampung halaman. []
