October 31, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Agar Berdaya di Kampung Halaman, Purna Migran Diajari Ketrampilan Mengolah Nilam

2 min read

JAKARTA – Minyak nilam tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti sabun cuci piring, balsem cair, dan parfum. Peluang tersebut dipelajari sejumlah purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Banda Aceh.

“Harapannya, pekerja migran yang sudah kembali ke tanah air tidak lagi harus kembali bekerja ke luar negeri. Mereka bisa mengembangkan usaha menggunakan modal yang sudah dikumpulkan selama bekerja,” kata Pengantar Kerja Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh, Fauzah Marhamah, Jumat, 30 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pelatihan Pemberdayaan Kewirausahaan Purna PMI dan Keluarga Tahun 2026 yang diselenggarakan BP3MI Aceh pada 28–31 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari proses pembuatan produk, formulasi bahan, pengemasan, hingga pemasaran.

Fauzah Marhamah mengatakan pelatihan kewirausahaan menjadi salah satu upaya mendukung kemandirian ekonomi pekerja migran setelah kembali ke tanah air. Dia berharap pekerja migran dapat memanfaatkan tabungan selama bekerja di luar negeri sebagai modal untuk memulai atau mengembangkan usaha di daerah asal.

Peserta kegiatan berasal dari Aceh Tamiang, Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Sebagian merupakan purna PMI yang kembali dalam satu hingga dua tahun terakhir, sementara lainnya merupakan keluarga pekerja migran yang masih bekerja di luar negeri.

Fauzah menyebutkan, sebagian peserta telah memiliki usaha dengan skala berbeda. Karena itu, pelatihan tidak hanya ditujukan untuk memberikan keterampilan baru, tetapi juga memperkuat kemampuan peserta dalam mengembangkan usaha yang sudah berjalan.

Fasilitator ARC, Nanda Funna Ledita, mengatakan pengolahan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan teknologi dan hasil penelitian perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Tujuannya memberdayakan masyarakat, berbagi teknologi, informasi, dan inovasi yang sudah ada sehingga dapat mendukung peningkatan nilai ekonomi masyarakat,” kata Nanda.

Ia menjelaskan, minyak nilam yang digunakan dalam praktik telah melalui proses pemurnian sebelum diformulasikan menjadi produk turunan. Dalam pembuatan parfum, minyak nilam berfungsi sebagai fixative atau bahan pengikat aroma agar wanginya lebih tahan lama.

Menurut Nanda, pengembangan produk turunan nilam harus memperhatikan kualitas bahan dan tahapan produksi. Pengetahuan tersebut penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki kualitas yang dapat dipertahankan.

Salah satu peserta, Teuku Andri Saputra (29), menilai keterampilan mengolah minyak nilam menjadi pengetahuan baru yang dapat dikembangkan untuk memperluas usahanya.

Andri pernah bekerja di bidang kelistrikan di Brunei Darussalam selama hampir lima tahun. Setelah kembali ke Aceh, ia turut menjalankan usaha keluarga di bidang busana, meliputi penyewaan jas, pakaian adat, dan jasa bordir.

Menurut Andri, praktik langsung membuat peserta lebih mudah memahami proses produksi. Namun, pengalaman menjalankan usaha juga membuatnya menyadari bahwa kemampuan membuat produk belum cukup untuk menjamin keberlangsungan bisnis.

Ketersediaan bahan baku dan perubahan harga menjadi sejumlah hal yang perlu diperhitungkan. Pelaku usaha juga harus mampu menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta menyusun strategi pemasaran.

Selain praktik pengolahan minyak nilam, peserta dijadwalkan menyusun model bisnis dan rencana aksi usaha. Materi literasi keuangan juga diberikan untuk membantu mereka memahami pengelolaan keuangan dalam menjalankan bisnis. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply