Ajining Rogo Gumantung Soko Busono

Prime Banner

ApakabarOnline.com – Pulang ke tanah Jawa usai merantau dari negara maupun daerah yang budayanya berbeda, seringkali mengakibatkan gunjingan dan celaan bahkan pelecehan akibat seseorang membawa pulang budaya yang diluar batas toleransi budaya setempat.

Beberapa tahun silam, sempat viral, saat seorang pekerja migran menginjakkan kakinya di Bandara Juanda usai datang dari negara penempatan lantaran gaya berpakaiannya bak artis Korea turun dari bis kota.

Setiap lebaran tiba, ungkapan “loe, gue” lazim terdengar di perkampungan Jawa dalam dialog sesama orang Jawa, yang dalam tanda kutip oleh sebagian warga disebut kleleken gaya hidup JAKARTE.

Bagaimana sebaiknya berbudaya dan bertutur bahasa saat kembali pulang ke tanah Jawa dari perantauan panjang mengais rizki di negeri orang ?  Endah, seorang kolomnis perempuan menuturkan pengalaman interaksi kulturalnya dalam sebuah paparan sebagaimana berikut :

 

Orang bilang perempuan jawa itu syarat makna. Elok dengan paras ayunya, lembut tutur katanya dan santun budi pekertinya. Kata si Mbah semua nilai-nilai budaya dan tata krama itu murni diwariskan oleh para leluhur. Sebagai perempuan yang berdarah jawa, diwarisi banyak sekali warisan. Bukan harta ataupun tahta. Melainkan akhlak dan tata krama yang baik untuk mengubah tatanan kehidupan agar menjadi lebih baik.

Ajining diri gumantung soko lathi, ajining rogo gumantung soko busono. Kehormatan diri adalah dari lisan, kehormatan raga adalah dari pakaian. Lisan yang selalu bertutur kata baik tentu akan lebih dihormati sebagaimana raga yang selalu disegani karena pakaiannya yang baik. Budaya Jawa memang mengajarkan segalanya. Tidak hanya cara bertutur kata dan berbusana, tapi juga tentang bagaimana cara saling menghormati kepada sesama.

Sedari kecil kita sudah diajari bagaimana bertutur kata yang baik kepada orang yang lebih tua maupun kepada sesama. Selalu mendahulukan yang lebih tua, tidak memotong pembicaraan, berpakaian yang baik, dan bersikap santun kepada siapapun. Si Mbah bilang, tata krama itu identitas. Jangan sampai mencederainya dengan perilaku buruk kita. Lemah lembut itu ciri khas kita, maka jangan sampai berkata kasar. Ramah tamah itu kebiasaan kita, maka jangan sampai bersifat sombong.

Aku sangat bersyukur bisa terlahir menjadi orang Jawa. Meskipun kata orang banyak aturan dan kepercayaan yang tak masuk akal. Tapi aku selalu beruntung, orang Jawa selalu dihormati di mana-mana. Si Mbahku juga selalu berpesan, “Adigang, Adigung, Adiguna.” Untuk selalu menjaga kelakuan, jangan sombong atas kekuatan dan kedudukan di manapun berada. Dengan begitu orang lain jauh lebih mudah menghormati kita dan kita jauh lebih peduli terhadap sesama.

Benar kata si Mbah bahwa budaya Jawa memang harus dilestarikan, karena di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Agar generasi berikutnya tidak seperti generasi sekarang. Krisis moral dan etika. Tidak mau kalah dan suka berani menentang nasihat orangtua. Dan sekarang aku mencoba untuk mempertahankannya melalui bahasa. Karena setiap tingkah laku itu dimulai dari lisannya. Bahasa krama inggil sepertinya sudah jarang dipakai. Karena anak zaman sekarang lebih suka bahasa “Loe, gue” yang kedengarannya lebih gaul dan kekinian.

Untungnya si Mbah banyak mewarisikan nasihat, sehingga tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak beretika. “Nduk, Yen urip mung isine isih nuruti nepsu, sing jenenge mulya mesti soyo angel ketemu. (Nak, apabila dalam menjalani hidup masih dipenuhi dengan hawa nafsu, maka yang namanya kemuliaan akan sulit untuk ditemukan),” begitu kata Si Mbah. Semakin dewasa, jadi semakin patuh dengan nasihatnya. Petuahnya kadang membuat jauh lebih tenteram dalam menjalani hidup. Selalu hati-hati dalam mengambil keputusan dan lebih mensyukuri apa yang sudah Tuhan anugerahkan.

Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Si Mbah juga sangat berjasa sekali dalam hal membangun jiwa spiritualku. “Sesungguhnya Tuhan itu berada sangat dekat dengan kita meskipun kita tidak bisa menyentuhnya dan akal kita tidak bisa menjangkaunya.” Beliau memang bukan seorang kyai, tapi tutur katanya selalu membuatku jatuh hati. Jatuh pada petuah-petuahnya yang selalu menentramkan hati. Si Mbah memang guru terbaik. Bapak dan Ibu juga. Mereka adalah pokok di mana aku bisa berakhlak seperti sekarang ini. Terima kasih kalian, semoga aku bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. []

 

You may also like...