June 22, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Barang Kiriman PMI Terhambat dan Disebut Dzalim oleh Ketua BP2MI, Kemendag Nyatakan Ada Kesalah Pahaman

4 min read

JAKARTA – Kementerian Perdagangan memastikan Permendag Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor memberikan kemudahan serta solusi yang adil dan efektif bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai negara yang akan mengirimkan barang untuk keluarganya di Indonesia. Dengan  relaksasi  dan  kemudahan  ini,  Kemendag  turut  mengapresiasi  dan  memberikan  penghargaan  atas kerja keras para pekerja migran di luar negeri yang telah menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia.

“Pemerintah berupaya memberikansolusi  yang  adil  dan  efektif  untuk  memperlancar  proses  pengiriman barang kiriman PMI ke Indonesia dengan menerbitkan Permendag 36/2023 jo. Permendag 3/2024,”kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Budi Santoso di Jakarta, Minggu  (07/04/2024).

Salah satutujuan penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 3 Tahun 2024  yaitu  memberikan  kemudahan  dan  relaksasi  terhadap  impor  barang  kiriman  yang  dilakukan  oleh  Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Permendag 36/2023 jo. 3/2024 memberi relaksasi dan kemudahan untuk impor barang kiriman PMI.Untuk beberapa kelompok barang tertentu, barang dapat diimpor dalam keadaan baru maupun tidak baru dengan jumlah  tertentu dan  dikecualikan  dari  kewajiban memiliki  perizinan impor  dari  Kementerian  Perdagangan. Relaksasi dan kemudahan impor barang kiriman tersebut khusus diberikan kepada PMI untuk memberikan penghargaan kepada PMI sebagai pahlawan devisa,” kata Budi.

Budi mengatakan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan mengamanatkan pemerintah mengatur  impor  dengan  tujuan,  antara  lain,  melindungi  keamanan,  kesehatan  dan  keselamatan  manusia serta  lingkungan  hidup;  dan  melindungi  serta  mengembangkan  industri  dalam  negeri.

Untuk  mencapai tujuan  tersebut,  pemerintah  mengatur  impor  barang  yang  salah  satu  ketentuannya  adalah  harus  dalam keadaan baru. Selain itu, impor barang tertentu diatur dengan pemenuhan kewajiban berupa perizinan impor dari  Kementerian  Perdagangan.  Kewenangan  pengaturan  impor  tersebut  diserahkan  kepada  Menteri Perdagangan.

Untuk  beberapa  kategori  tertentu,  Menteri  Perdagangan  dapat  menetapkan  impor  barang dalam keadaan baru serta pengecualian dari kewajiban perizinan impor.Budi  menegaskan,  Permendag  36/2023  ini  harus  dapat  menyelesaikan  permasalahan  barang  kiriman  PMI yang  jumlahnya  ratusan  kontainer  dan  sempat  tertahan  di  bulan  Desember  tahun  lalu.

Dalam  Permendag Kebijakan dan Pengaturan Impor sebelumnya, pengecualian atas ketentuan pembatasan impor untuk impor barang kiriman PMI belum diatur secara tegas.“Permendag 36/2023 akan memberi kepastian aturan dalam hal impor barang kiriman PMI di masa mendatang,”kata Budi.

 

Permendag Disusun Bersama

Kementerian Perdagangan tidak sendirian dalan menyusun Permendag No.36/2023. Kemendag melibatkan dan berkoordinasi dengan berbagai Kementerian dan lembaga (K/L) Pemerintah lainnya seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan  Menengah,  Kementerian  Keuangan,  Kementerian  Luar  Negeri,  Badan  Perlindungan  Pekerja  Migran Indonesia (BP2MI) yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Budi   menegaskan,   Kemendag   bersama-sama   dengan   K/L   pemerintah,   termasuk   BP2MI   menentukan kelompok barang tertentuserta jumlahnya yang dapat diimpor sebagai barang kiriman PMI dalam keadaan baru maupun tidak baru yang dikecualikan dari perizinan impor. Ketentuan ini sudah  mempertimbangkan seluruh aspek dan kepentingan yangterkait, antara lain, untuk meminimalisasi impor barang dalam keadaan tidak  baru  yang  berpotensi  membawa  kuman  dan  penyakit  yang  akan  mengganggu  aspek  keamanan, kesehatan,  dan  keselamatan  manusia  serta  lingkungan  hidup.

Selain  itu,  agar  tidak  mengganggu  kinerja industri dalam negeri, khususnya sektor industri kecil menengah (IKM) padat karya yang sangat terdampak oleh banjirnya barang asal impor.

“Permendag   No.   36/2023   bukan   merupakan   produk   hukum   dari   Kementerian   Perdagangan   sendiri. Penyusunan  Permendag No.  36/2023  dilakukan  secara  bersama-sama  dengan  melibatkan  sejumlah  K/L pembina sektor terkait seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian  Koperasi  dan  Usaha  Kecil  dan  Menengah,  Kementerian  Keuangan,  Kementerian  Luar  Negeri, termasuk  juga  Badan  Perlindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (BP2MI),  dan/atau  asosiasi  pelaku  usaha terkait, yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,” tegas Budi.

Selain  itu,  lanjut  Budi,  hal  yang  sama  dilakukandalam  penyusunan  kebijakan  impor  barang  kiriman  PMI.

“Penentuan jumlah, jenis, dan kondisi barang kiriman yang dapat diimpor oleh PMI dilakukan secara bersama-sama antara K/L pembina sektor komoditas, Ditjen Bea dan Cukai, dan BP2MI,” tambah Budi.

 

Kesalahpahaman pada Barang Kiriman PMI

Budi pun menanggapi pemberitaan terkait tertahannya barang kiriman PMI di gudang penyimpanan barang logistik   di   Tempat   Penimbunan   Sementara   (TPS)   Tanjung   Emas,   Semarang,   Jawa   Tengah.

Budi menyampaikan, terjadi kesalahpahamansaat inspeksi mendadak (sidak) pada Kamis (04/04/2024) lalu. Dalam sidak tersebut, terungkap bahwa barang bawaan PMI yang tertahan merupakan barang yang baru tiba. Untuk itu, Kemendag akan berkoordinasi lebih lanjut dengan BP2MI untuk merespons kesalahpahaman tersebut.

“Barang yang tertahan di TPS bukan barang lama, tapi barang yang baru tiba. Juga ada indikasi barang atas nama PMI sebenarnya bukan milik PMI dan jumlahnya melebihi batasan yang diatur,”tambah Budi.

Dengan telah diberikannya relaksasi impor barang kiriman PMI melalui Permendag 36/2023 jo. 3/2024, Budi berharap  agar  PMI  dapat  memahami  dan  mematuhi  ketentuan  tersebut.  Sehingga,  tidak  terjadi  kendala dalam proses impor barang kiriman PMI.

“Kami harap, kemudahan dan pengecualian kebijakan impor barang  kiriman  PMI  ini  dapat  dipahami  dan dipatuhi  PMI  sehingga  proses  pengiriman  barang  kiriman  PMI  dapat  berjalan  lancar,  segera  tiba,  serta diterima keluarga dan sanak saudara di Indonesia,” pungkas Budi.  []

Advertisement
Advertisement