June 22, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Beban Petani Tembakau Akan Semakin Berat, Apakah Mereka Kuat ?

2 min read

YOGYAKARTA – Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno mengemukakan tantangan petani tembakau yang tergabung dalan APTI dan sektor pertembakauan ke depan akan semakin berat.

“Dengan tantangan yang semakin berat ini, kami mengajak jajaran pengurus APTI bekerja lebih giat dan bersemangat, memperkuat organisasi dan memperkuat sinergitas dengan seluruh pemangku kepentingan,” kata Soeseno saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) APTI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (27/11/2020).

Menurut dia, pertanian tembakau selama ini masih sering menghadapi persoalan baik menyangkut teknis budidaya, hingga kendala pemasaran, sehingga peran pengurus sangat diperlukan agar petani tembakau semakin lama akan semakin pintar dan sejahtera dari budidaya tembakau.

“Kami berharap pengurus yang baru semakin baik, semakin solid. Organisasi ini perlu diperkuat oleh kepengurusan yang muda. Sehingga ada regenerasi dan sekaligus mewarisi kultur pertembakauan di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan, pandemi COVID-19 membuat industri olahan tembakau lesu, yang ikut mempengaruhi serapan tembakau hasil panen petani. Industri surut sebesar 10-11 persen. Sedangkan industri menengah ke bawah yang selama ini menjadi penyerap utama tembakau kualitas rendah, banyak yang tutup karena pandemi.

“Dalam kondisi seperti ini harga tembakau menjadi merosot tajam. Kalaupun ada yang masih terserap, kebanyakan adalah milik petani yang masuk dalam program kemitraan. Tapi sekali lagi, harganya juga jatuh, tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Lebih repot lagi, kalau pemerintah jadi menetapkan cukai 23 persen. Ibaratnya petani tembakau akan terkena beban ganda,” katanya.

Sekretaris DPD APTI DIY masa bakti 2021-2025 Triyanto mengatakan, pengurus terpilih akan segera berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di DIY dan melakukan konsolidasi menyeluruh mulai dari pengurus anak cabang dan pengurus cabang, serta melakukan komunikasi efektif dengan dinas terkait sebagai wakil pemerintah daerah.

“Diharapkan antara APTI dan pemerintah daerah akan berjalan selaras dan bersinergi, untuk bersama-sama memajukan pertanian tembakau,” katanya.

Menurut dia, pertanian tembakau selama ini masih sering menghadapi kendala. Baik menyangkut teknis budidaya maupun pemasaran. Untuk budidaya misalnya, perlu pemahaman yang baik dari petani mengenai cuaca.

“Kami juga sudah bersinergi dengan BMKG. Rekomendasi dari BMKG menjadi pertimbangan penting bagi kami dalam menanam tembakau. Sedangkan untuk pemasaran, kami berharap dapat memperkuat kerjasama dengan jalur pabrikan,” katanya.

Triyanto mengatakan, lahan pertanian tembakau cenderung mengalami peningkatan.

“Di Sleman misalnya, saat ini memiliki lahan pertanian tembakau sekitar 900 hektare, dengan produksi per hektar sekitar 1 ton,” katanya. []

Advertisement
Advertisement