June 30, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Benny Rhamdani: Agar PMI Tidak Lagi Bercitra Rendahan

2 min read

BANDUNG – Sebanyak 1.200 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) memadati Kampus Universitas Koperasi Indonesia atau Ikopin di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa 12 April 2022.

Para peserta PMI itu mendaftar menjadi pekerja migran di Korea Selatan untuk sektor manufaktur dan perikanan dengan metode government to government. Proses verifikasi pendaftaran pun langsung dilakukan di lokasi pendaftaran itu.

Berdasarkan pantauan di lapangan, warga yang mendaftar untuk jadi pekerja migran di Korea Selatan didominasi laki-laki dan perempuan muda dari sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti dari Indramayu, Cirebon hingga Lampung.

Datang ke Jatinangor, umumnya mereka berangkat sejak sahur bahkan ada yang menginap di sekitar Jatinangor. Total yang verifikasi pendaftaran ini mencapai 1.200 orang.

Dalam proses pendaftaran ini, para pendaftar melamar untuk posisi di bidang perikanan hingga manufaktur. Untuk bisa melamar, mereka harus punya sertifikasi kompetensi terkait keahlian di bidang yang dilamar.

Pendaftar ini juga tergabung dalam berbagai lembaga pendidikan keterampilan (LPK) di masing-masing daerah.

Seorang pendaftar, Tasrif (27) mengatakan, proses ini baru tahap awal. Masih ada beberapa proses lainnya yang harus ditempuh.

Setelah proses ini, kata dia, mereka akan menjalani serangkaian tes. Salah satunya tes bahasa Korea hingga tes skill.

“Ada tes nya. Bahasa Korea dari menulis dan mendengar, katanya langsung dari perusahaan. Setelah lolos, baru tes keterampilan,” ucapnya.

Tes keterampilan itu, umumnya mereka dapatkan lewat LPK yang mereka jalani selama beberapa waktu tertentu.

Pendaftar lainnya, Rahmat (26) yang turut mendaftar jadi pekerja migran mengaku, dirinya tergiur dengan gaji fantastis. Ada teman dan keluarganya yang sudah bekerja di Korea dan berbagi cerita soal penghasilan.

“Tergiur gaji. Gimana tidak, gaji pokoknya Rp 23 juta. Makanya saya kerja keras persiapkan diri agar lolos,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani memastikan, tidak akan ada perkeliruan dalam proses seleksi.

“Dulu sekali sempat ada jual beli seat puluhan juta per seat. Yang lulus siapa yang berangkat siapa. Kali ini saya pastikan tidak ada, siapa yang lulus dia yang berangkat,” katanya.

Dengan melihat potensi gaji yang didapat para calon pekerja migran Indonesia di Korea mencapai Rp 23 juta, sekaligus menegaskan bahwa pekerjaan pekerja migran tidak lagi bercitra rendahan.

“Kita harus bangun persepsi bahwa pekerja migran itu pekerjaan yang hebat, bagaimana tidak, mereka turut menyumbang devisa bagi negara,” katanya. []

Advertisement
Advertisement