May 18, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Buah Hati yang Diperjuangkan dengan Lima Tahun Menjadi PMI Meninggal Menjadi Korban Pembunuhan

4 min read

BOGOR – Seorang bocah cilik berinisial FA (8) ditemukan tewas di dalam bak mandi sebuah kontrakan di Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. FA dikenal merupakan anak tunggal dari pasangan Taufik dan Rahmawati.

Korban dalam kesehariannya tinggal bersama kakek neneknya karena sudah 5 tahun FA ditinggal sang ibu menjadi pekerja migran Indonesia (PMI). Sedangkan ayahnya, bekerja sebagai teknisi di vila kawasan Cisarua, Puncak Bogor

“Hari ini ibunya pulang, mungkin besok sampai ke Indonesia,” kata salah satu anggota keluarga korban, Ibu Ai, kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (3/7/2019).

Pihak keluarga juga tidak menyangka bahwa korban ditemukan di dalam kontrakan yang dihuni oleh tukang bubur ayam berinsial H yang merupakan kontrakan milik kakek korban.

“Gak nyangka, kita sempet nyari-nyari kan, di sungai, vila-vila sekitar kampung, sampai ke Jalan Raya Puncak. Kita juga awalnya gak curiga terhadap kamar kontrakan H, sampai bau tercium di hari ketiga,” tambah paman korban, Agus.

Korban ditemukan dalam kondisi membusuk pada Selasa (2/7/2019) sekitar pukul 19.00 WIB malam setelah hilang dan dicari keluarganya selama 3 hari.

“Diduga tindak pidana kekerasan terhadap anak di bawah umur dan atau pembunuhan berencana terhadap korban dengan cara pelaku membunuh korban dan menyimpannya di dalam bak mandi,” kata Kasubag Humas Polres Bogor, AKP Ita Puspita Lena dalam keterangannya, Rabu (3/7/2019).

Korban ditemukan di dalam sebuah bak mandi kontrakan pria berinisial H dalam kondisi terbungkus kain kemudian ditutupi ember. Penemuan itu berawal kakek korban yang curiga karema mencium bau tak sedap dari sekitar kontrakan yang dihuni oleh H.

 

Anak Semata Wayang Yang Di Perjuangkan, Telah Berpulang

 

 

Pelaku Menyerahkan Diri

Pelaku berinisial H ternyata merupakan penghuni kontrakan milik kakek korban di Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. H yang merupakan tukang bubur diketahui menghilang setelah FA dikabarkan menghilang.

Kemarin, Rabu (3/7/2019) H menyerahkan diri ke kantor polisi di Pemalang, Jawa Tengah dan mengakui perbuatannya telah membunuh FA. Dikutip dari Tribun Jateng, pelaku merupakan warga Desa Gendoang, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.

H menyerahkan diri ke Polsek Moga setelah pulang ke kampung halamannya di Desa Gendoang. Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Suhadi mengatakan pelaku sengaja menyerahkan diri karena takut terus dihantui rasa bersalah.

“H menyerahkan diri ke Polsek Moga sore tadi, ia mengaku selalu dihantui, dan setelah menceritakan perbuatannya ke keluarganya ia pergi ke Polsek setempat,” papar AKP Suhadi, Rabu (3/7/2019) petang.

Dilanjutkannya, sebelum H pulang ke kampung halaman, ia sempat ke Surabaya selama dua hari.

“Setelah ke Surabaya, ia ke Semarang selama satu hari, untuk kemudian ke Cirebon selama satu hari.”

“Karena kebingungan akhirnya H pulang ke kampungnya,” ujarnya.

Ditambahkan AKP Suhardi, pelaku bekerja sebagai penjual bubur ayam di Bogor.

“Korban merupakan cucu dari pemilik kontrakan, ia mengaku jengkel dan melakukan tindakan kejinya.”

“Pemicunya karena pelaku kesal saat pulang berdagang diganggu oleh korban,” paparnya.

Guna menindaklanjuti kasus tersebut, H akan diserahkan ke Polres Bogor.

“Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku akan kami serahkan ke Polres Bogor,” tambahnya.

 

Korban dan Pelaku Dikenal Akrab

FA (8), bocah SD yang ditemukan tewas di bak mandi kontrakan yang dihuni tukang bubur berinisial H.  Diketahui, H merupakan penghuni kontrakan milik kakek FA yang berada di Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Setelah FA ditemukan tewas di bak mandi, H pun menghilang dari kontrakan.

Selama ini warga menilai kalau hubungan H dan FA cukup akrab. Salah satu anggota keluarga korban, Ibu Ai (50), mengatakan bahwa terakhir terlihat, FA sempat memukul barang-barang yang dipikul oleh H yang merupakan alat untuk berjualan bubur. Tentu saja tujuannya hanya bercanda.

“Dia ngebrak-ngebrak barang dagangan si H, FA minta uang, namanya juga anak-anak,” kata Ai dikutip dari Tribunnews Bogor, Rabu (3/7/2019).

Ia menuturkan bahwa FA dan H memang lumayan akrab, karena H mengontrak di kontrakan milik kakek korban. Kontrakan tersebut merupakan kontrakan yang terdiri beberapa kamar dan dua lantai, dimana lantai pertama dijadikan kontrakan dan lantai 2 dijadikan tempat tinggal kakek korban pemilik kontrakan yang kerap dikunjungi FA.

Selain itu, bukti keakraban lainnya adalah FA juga kerap disuruh untuk membeli nasi oleh H dengan imbalan uang. Hal itu juga dilihat sebagi hal normal oleh keluarga almarhum dan juga warga.

 

Korban Anak Semata Wayang dan Ibunya Jadi PMI

Korban dalam kesehariannya tinggal bersama kakek neneknya karena sudah 5 tahun FA ditinggal sang ibu menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) ke Taiwan. Sedangkan ayahnya, bekerja sebagai teknisi di vila kawasan Cisarua, Puncak Bogor

Keluarga FA merupakan keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sebelum FA berumur masuk TK, sang ibu terpaksa berangkat ke Taiwan menjadi PMI.

Pihak keluarga juga tidak menyangka bahwa korban ditemukan di dalam kontrakan yang dihuni oleh tukang bubur ayam berinsial H yang merupakan kontrakan milik kakek korban.

“Gak nyangka, kita sempet nyari-nyari kan, di sungai, vila-vila sekitar kampung, sampai ke Jalan Raya Puncak. Kita juga awalnya gak curiga terhadap kamar kontrakan H, sampai bau tercium di hari ketiga,” tambah paman korban, Agus. []

Advertisement
Advertisement