September 20, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Bukan Hanya Penularan Virus HIV, Begini BahayaHoho Hihe Bebas Bukan Dengan Pasangan

4 min read

JAKARTA – Perilaku seksual berisiko pada remaja tidak hanya meningkatkan risiko HIV, tetapi juga memicu IMS, kehamilan tidak direncanakan, dan dampak psikologis.

Seks bebas atau perilaku seksual berisiko merupakan aktivitas seksual yang dapat meningkatkan kemungkinan penularan infeksi menular seksual atau IMS serta kehamilan yang tidak direncanakan.

Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan seksual penetratif, tetapi juga dapat muncul melalui aktivitas seksual oral dan anal. Sejumlah IMS bahkan dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga seseorang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.

Karena itu, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi menjadi penting, terutama bagi remaja. Pengetahuan yang memadai dapat membantu mengenali risiko, mencegah penularan infeksi, serta mendorong seseorang mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis ketika diperlukan.

1. HIV/AIDS
Melansir Halodoc, Jumat (18/9/2026), Human Immunodeficiency Virus atau HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4. Jika tidak mendapatkan pengobatan, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS.

Hingga saat ini, HIV belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, terapi antiretroviral atau ARV dapat menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga membantu pengidap HIV menjaga kondisi kesehatan dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Penularan HIV dapat terjadi melalui aktivitas seksual berisiko. Karena itu, pencegahan dan pemeriksaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko infeksi.

2. Sifilis
Sifilis atau raja singa merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Infeksi ini dapat berkembang melalui beberapa tahap.

Pada tahap awal, sifilis dapat ditandai dengan munculnya luka yang umumnya tidak terasa nyeri. Jika tidak ditangani, infeksi dapat berkembang dan memengaruhi berbagai organ tubuh, termasuk sistem saraf dan jantung.

Gejala dapat berbeda pada setiap tahap sehingga pemeriksaan medis diperlukan apabila terdapat riwayat paparan atau keluhan yang mengarah pada infeksi.

3. Gonore dan Klamidia

Gonore dan klamidia merupakan infeksi bakteri yang dapat menular melalui aktivitas seksual. Keluhan yang muncul antara lain nyeri saat buang air kecil dan keluarnya cairan yang tidak normal dari organ reproduksi.

Pada perempuan, infeksi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi penyakit radang panggul. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan dan kehamilan ektopik.

Kedua infeksi tersebut juga dapat terjadi tanpa gejala. Kondisi ini membuat pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi seseorang yang memiliki riwayat paparan berisiko.

4. Human Papillomavirus

Human Papillomavirus atau HPV merupakan virus yang dapat menular melalui kontak seksual dan kontak kulit di area genital.

Sebagian jenis HPV dapat menyebabkan kutil kelamin. Sementara itu, jenis HPV berisiko tinggi dapat menyebabkan sejumlah jenis kanker, termasuk kanker serviks, kanker anus, serta beberapa kanker pada tenggorokan.

Vaksinasi HPV menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi HPV dan penyakit yang berkaitan dengan virus tersebut.

5. Kehamilan yang Tidak Direncanakan

Aktivitas seksual tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko kehamilan yang tidak direncanakan. Kondisi tersebut dapat membawa konsekuensi terhadap pendidikan, kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan, terutama ketika terjadi pada usia remaja.

Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan kontrasepsi menjadi bagian penting dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

Edukasi juga perlu diberikan secara tepat agar remaja memahami risiko dari perilaku seksual dan mengetahui layanan kesehatan yang dapat diakses ketika membutuhkan informasi maupun pemeriksaan.

6. Dampak Psikologis dan Sosial

Risiko perilaku seksual tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Kekhawatiran terhadap infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta tekanan dari lingkungan dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Kecemasan, rasa bersalah, dan tekanan sosial dapat muncul setelah seseorang melakukan aktivitas seksual yang berisiko. Karena itu, edukasi kesehatan seksual dan akses terhadap layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Kenali Tanda yang Perlu Diperiksa

Seseorang perlu mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami luka, bintil, atau ruam di sekitar organ genital maupun mulut.

Keluhan lain yang perlu diperhatikan antara lain rasa panas atau nyeri ketika buang air kecil, keluarnya cairan yang tidak biasa dari organ genital, keputihan dengan perubahan warna atau bau, serta nyeri pada bagian bawah perut.

Namun, tidak adanya gejala bukan berarti seseorang terbebas dari IMS. Sejumlah infeksi dapat berlangsung tanpa gejala sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila terdapat riwayat paparan yang berisiko.

Pencegahan Seks Bebas dan IMS

Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari perilaku seksual berisiko dan memiliki hubungan seksual yang saling setia. Penggunaan kondom secara konsisten dan benar juga dapat menurunkan risiko sejumlah IMS, meski tidak memberikan perlindungan mutlak terhadap infeksi yang dapat menular melalui area kulit yang tidak tertutup kondom.

Vaksinasi HPV juga menjadi salah satu langkah pencegahan terhadap infeksi HPV dan penyakit yang berkaitan dengan virus tersebut.

Apabila seseorang merasa mengalami paparan berisiko atau menemukan gejala yang mencurigakan, pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga medis penting dilakukan.

Pengobatan sendiri, terutama dengan mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dokter, sebaiknya dihindari. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan pengobatan tidak efektif dan berkontribusi terhadap resistensi antibiotik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, lebih dari 1 juta infeksi menular seksual yang dapat disembuhkan terjadi setiap hari pada kelompok usia 15–49 tahun. Sebagian besar infeksi tersebut tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan.

Karena itu, edukasi kesehatan seksual, pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan yang tepat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko IMS serta mencegah komplikasi yang dapat terjadi. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply