October 27, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Diekspor, Sarang Walet Jawa Timur Diserap Pasar Hong Kong

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

SURABAYA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melanjutkan kunjungan kerja ke rumah pemrosesan sarang burung walet atau SBW di Surabaya. Sebelumnya, Mentan melepas ekspor SBW asal Provinsi Jawa Timur sebanyak 494 kilogram senilai Rp9,9 miliar ke Hong Kong, Taiwan dan Daratan China.

Adapun pelepasan ekspor tersebut dilakukan bersama 33 komoditas pertanian unggulan Jatim lainnya senilai Rp140,3 miliar ke 12 negara tujuan sekaligus.

“Produktivitas sarang burung walet kita diminati dunia. Saya akan ke China selepas pandemi ini, agar ekspor kita ini jadi lebih kuat,” kata Mentan Syahrul dalam siaran resmi, Jakarta, Sabtu (13/03/2021).

Menurutnya, produktivitas komoditas subsektor peternakan ini berada di bawah pembinaan Ditjen Peternakan, sementara fasilitasi ekspornya dikawal Badan Karantina Pertanian.

Ia menambahkan, usaha agribisnis sarang burung walet ini sangat menarik, selain memerlukan higienitas yang maksimum. Industri ini juga padat karya, dikerjakan dengan tenaga banyak orang yang sangat baik untuk negara.

Sebagai informasi, saat ini Jatim memiliki 84 rumah walet yang terdaftar dengan rumah pemrosesan walet sebanyak sembilan unit. Data IQFAST Barantan mencatat, pada 2020 volume ekspornya sebanyak 245,3 ton dengan nilai mencapai hingga Rp3,5 triliun.

Dari jumlah itu, 26%-nya berhasil memenuhi pasar China, sisanya diserap pasar ekspor lain seperti Australia, Amerika Serikat, Hongkong, Kanada, Singapura, Taiwan, Jepang, Malaysia dan Vietnam.

Kementan juga mencatat adanya tren peningkatan ekspor SBW Jatim dari 1 Januari-10 Maret 2021 mencapai 51,3 ton dengan nilai Rp661,3 miliar.

Kementan bersama Kemendag dan wakil negara di negara terkait akan mendorong komoditas SBW agar tidak memiliki hambatan di pasar China. “Tidak ada kuota, asal mampu penuhi persyaratannya. Pasarnya masih terbuka lebar dan kita mampu secara produksi,” jelas Syahrul.

Direktur PT Surya Aviesta Agra Soeharsa mengapresiasi dukungan yang diberikan. Ia berharap dukungan penuh pemerintah pusat dan daerah khususnya di sisi perijinan hingga akses pasar kepada industri dengan model padat karya ini.

“Kami harap pemerintah terus dapat mendampingi dan tentu membantu mempermudah akses pasar,” kata Agra.

Secara teknis, Kepala Barantan Kementan Ali Jamil menambahkan, saat ini persyaratan ekspor sarang burung walet secara umum masih mudah. Dengan penekanan bahwa yang layak ekspor hanya sarang walet yang sudah bersih.

“Pada prinsipnya mudah, terpenting adalah tidak dalam bentuk kotor, artinya itu harus sudah ada proses terlebih dahulu,” ungkap Jamil.

Sedangkan untuk ekspor ke China, calon eksportir dapat menghubungi unit pelaksana teknis Karantina Pertanian di seluruh Indonesia untuk pendampingan, agar dapat memenuhi persyaratan sesuai Protokol Karantina Indonesia dengan Otoritas Karantina Tiongkok (GACC).

“Kita harus jaga semua ini, kita syukuri. Caranya adalah dengan mendorong kualitas ekspornya dan juga dengan menjaga kelestariannya,” tukas Jamil. []

Advertisement
Advertisement