November 28, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Diterjang Badai Corona, Pengusaha Money Chager Mengaku Klenger

2 min read
Prime Banner

SURABAYA – Meski digadang-gadangkan isu terkait nilai kurs rupiah terhadap dolar menguat. Namun, nyatanya tak membuat usaha money changer atau tempat penukaran uang mata asing di Mojokerto ramai.

Seperti yang diungkap Ineke, salah satu pengelola cabang usaha penukaran mata asing Ratri Gemah Ripah, Jalan Majapahit, Kota Mojokerto, Jumat (06/11/2020). Ineke menuturkan bahwa dalam sebulan ini, usaha penukaran uangnya masih tetap sepi pengunjung.

Omzetnya bahkan terjun hingga 80 sampai 90 persen. Entah ada atau tidak isu terkait kurs rupiah yang menguat, penukar untuk kurs beli maupun kurs jual dapat dihitung dengan jari per harinya.

”Sehari saja lho bisa dua sampai tiga orang. Sering juga sehari ndak ada pengunjung. Semenjak pandemi mulai itu, wis ndak bisa berharap banyak,” tuturnya.

Sejak buka cabang di Mojokerto tahun 2015 lalu, ia mengakui jika wabah Covid-19 ini membawa dampak yang besar alias bikin ”klenger”. Apalagi, untuk usaha penukaran mata uang asingnya. Kalau dulu masih ada sebagian pekerja migran Indonesia (PMI) yang datang ke tempatnya.

Kini, usahanya nyaris berhenti sejak adanya pembatasan kegiatan dimana-mana. ”Ketambahan sekarang Malaysia juga melarang ada turis masuk, PMI pada dipulangkan, negara-negara asing udah dibatasi nggak boleh keluar negeri ya wis pasrah aja,” keluhnya.

Ia berharap tahun baru nanti, keadaan sudah membaik. Sebab, wabah virus korona sangat memukul telak usahanya. Ia juga sudah kehabisan akal untuk menyiasati agar usaha tukar mata uang asingnya tetap jalan meski di saat kondisi seperti ini.

”Semoga memang ada pembagian vaksin tahun depan, supaya usaha kembali lancar lagi. Jadi orang-orang pada nggak takut mau nuker uang,” harapnya. Begitu pula saat dikonfirmasi ke PT Ratri Gemah Ripah yang berpusat di Jombang.

Bagian Operasional Muhammad Arrohman menegaskan, jika  memang adanya berita terkait nilai rupiah terhadap dollar USA menguat. Beberapa mata uang juga mengalami hal tersebut.

”Ya memang nilai kurs tengahnya rupiah denger-denger sih naik. Tapi, tetap saja pengunjungnya sepi. Semenjak tiga bulan lalu sampai hari ini, pengunjungnya cuma berapa orang tok,” terangnya.

Tak hanya di Mojokerto dan Jombang. PT Ratri Gemah Ripah yang juga membuka cabang di Malang dan Surabaya semuanya mengalami kemerosotan omzet. Ia juga membeberkan bahwa jika di pusat hanya bisa melayani transaksi penukaran mata uang sekitar 10 sampai 15 orang per hari.

”Itu juga ndak bisa kita pastikan sehari bisa segitu. Apalagi cabang di Mojokerto, pasti omzetnya jatuh drastis,” pungkasnya. []

Sumber Jawa Pos

Advertisement