September 26, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Gelar Sarjana, Tapi Pilih Jadi PRT di Hong Kong? Fenomena Baru di Indonesia

2 min read

MADIUN – Dulu, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang jadi PRT di Hong Kong, Taiwan, atau Singapura kebanyakan lulusan SD, SMP dan SMA. Sekarang, pemandangannya berubah. Di boarding house Hong Kong di Causeway Bay, di dormitory Singapura, semakin banyak PRT Asing asal Indonesia yang ternyata pegang ijazah S1. Bahkan S2.

Kenapa bisa begitu?

1. Realita Lapangan Kerja di Dalam Negeri

Data BPS Februari 2025 mencatat hampir 8 juta pengangguran terbuka. Dari jumlah itu, lulusan universitas termasuk penyumbang besar. Banyak sarjana fresh graduate menganggur 1-2 tahun.

Kalau dapat kerja pun, gaji tidak sesuai harapan:
– Di Jakarta/Bekasi: Staff admin, CS, atau guru honorer S1 digaji Rp 1,8 – Rp 2,5 juta. Bahkan di beberapa daerah, UMR sarjana hanya Rp 1,5 juta.
– Biaya hidup: Kontrakan Rp 800rb, bensin, makan, belum bisa kirim ke orang tua.

Sementara jadi PRT di luar negeri:

2. Perbandingan Gaji yang Jomplang

Gaji di Indonesia (S1):
Rp 2.000.000 – Rp 3.500.000 / bulan (sering tanpa uang makan, tanpa tempat tinggal)

Gaji PRT di Hong Kong 2026:
– Gaji minimum: HK$4.990 = Rp 10,5 juta
– Rata-rata pasar: HK$5.500 – HK$6.750 = Rp 11,5 – Rp 14,2 juta
– Dapat tempat tinggal gratis, makan gratis, libur mingguan, dan tiket pesawat pulang.
– Jika finish kontrak 2 tahun, dapat bonus long service.

Di Singapura, gaji PRT Indonesia berpengalaman sudah S$600-650 = Rp 7,3 – Rp 8 juta.

Bagi banyak sarjana, hitungannya sederhana: 2 tahun di Hong Kong bisa nabung Rp 100-150 juta untuk modal usaha di kampung. Di Indonesia dengan gaji UMR, nabung segitu butuh 5-7 tahun, itu pun kalau tidak ada kebutuhan mendesak.

3. Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Soal Kepastian
Banyak sarjana bercerita: “Di Indonesia melamar 50 perusahaan, yang panggil 2, yang diterima 0. Di Hong Kong, 1 minggu sudah ada majikan.”

Proses rekrutmen PRT jauh lebih pasti daripada rekrutmen sarjana. Majikan Hong Kong butuh cepat, agensi bantu urus dokumen, dan dalam 2-3 bulan bisa terbang.

Selain itu, kerja sebagai PRT punya jenjang: dari housekeeping, bisa naik jadi caregiver lansia yang gajinya lebih tinggi (HK$7.000+), atau setelah pulang buka PT PJTKI sendiri.

4. Dampak Positif dan Negatifnya
Positif:
Banyak sarjana yang jadi PRT justru lebih melek digital, bisa bahasa Inggris/Kantonis lebih baik, dan lebih berani nego gaji. Mereka juga lebih pintar mengelola keuangan, tidak hanya untuk konsumsi tapi untuk investasi.

Negatif:
Ini adalah alarm untuk Indonesia. Ketika negara tidak bisa menyerap lulusannya dengan gaji layak, maka terjadi _brain waste_ – pemborosan otak. Ijazah 4 tahun kuliah tidak terpakai. Ada juga risiko gengsi dan tekanan mental karena dianggap “sarjana kok jadi pembantu”.

Kesimpulan
Fenomena sarjana jadi PRT asing bukan karena mereka tidak cinta Indonesia. Tapi karena mereka butuh hidup yang layak.

Selama lapangan kerja untuk sarjana di dalam negeri masih sulit, persaingan ketat, dan gaji di bawah biaya hidup, maka Hong Kong, Taiwan, dan Singapura akan tetap jadi pilihan rasional.

Tugas kita bukan menghakimi mereka yang berangkat, tapi bertanya: bagaimana caranya agar lulusan S1 di Indonesia, bisa dapat kerja layak dengan gaji Rp 5-6 juta tanpa harus meninggalkan keluarga 2 tahun di negeri orang?

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply