Hasil Kajian UGM : Ditemukan 311 Kali Ucapan Tidak Pantas di 161 Pidato Presiden Prabowo, Apa Saja ? Simak Selengkapnya
3 min read
JAKARTA – Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS) PolGov Universitas Gadjah Mada (UGM) merilis kajian terhadap 166 pidato publik Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun pemerintahannya, yakni dari Oktober 2024 hingga Oktober 2026. Penelitian tersebut menemukan 311 insiden pernyataan yang dikategorikan sebagai ucapan tidak pantas.
Kajian bertajuk Dua Tahun di Podium yang dirilis pada Senin (26/10/2026) ini menelusuri pola komunikasi presiden melalui frekuensi, durasi, topik pembicaraan, pemilihan kata, hingga kecenderungan retorika politik.
Koordinator EPPOS PolGov UGM, Arya Budi, menegaskan pentingnya memperlakukan pidato presiden sebagai bahan evaluasi publik.
“Pidato presiden adalah catatan publik yang dapat diperiksa ulang kata demi kata, sehingga layak diperlakukan sebagai bahan akuntabilitas,” ujar Arya, sebagaimana dikutip dari laman resmi FISIPOL UGM.
UGM Temukan 311 Insiden Ucapan Tidak Pantas dalam 84 Pidato
EPPOS PolGov UGM mencatat 311 insiden ucapan yang dinilai kurang pantas hingga sangat tidak pantas, tersebar dalam 84 dari 166 pidato yang dianalisis.
Berdasarkan klasifikasi peneliti, sebanyak 214 insiden termasuk kategori kurang pantas, 78 insiden tidak pantas, dan 19 insiden sangat tidak pantas.
Sejumlah contoh yang dicatat dalam pemberitaan hasil kajian mencakup penggunaan kata kasar seperti “ndasmu”, “brengsek”, dan “bajingan”. Peneliti juga menyoroti pernyataan yang dinilai menyudutkan pengkritik, memberikan pelabelan negatif, atau mengandung ancaman.
Jumlah insiden meningkat dari 105 pada tahun pertama menjadi 206 pada tahun kedua. Meski demikian, kepadatannya terhadap jumlah kata relatif stabil, yakni sekitar satu insiden per 1.000 kata.
“Ucapan tidak pantas adalah pola yang menetap, bukan insidental,” ucap Arya.
Pernyataan tersebut merujuk pada temuan yang muncul berulang dalam kumpulan pidato yang diteliti, bukan hanya satu peristiwa tertentu.
Acara Program Pemerintah Catat Insiden Terbanyak
Berdasarkan data EPPOS PolGov UGM, sebanyak 129 insiden ditemukan dalam pidato pada acara program pemerintah. Sementara itu, acara kenegaraan mencatat 93 insiden dan acara politik serta kemasyarakatan sebanyak 89 insiden.
Jika digabungkan, sebanyak 222 insiden atau 71,4% terjadi pada acara kenegaraan dan program pemerintah yang disiarkan melalui kanal resmi.
Meski jumlah insiden terbanyak ditemukan pada acara program pemerintah, forum politik dan kemasyarakatan mencatat kepadatan tertinggi, yaitu 3,42 insiden per pidato. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan acara program pemerintah sebesar 2,02 dan kenegaraan sebesar 1,22 insiden per pidato.
Penelitian ini juga menemukan bahwa 155 insiden atau 49,8% dari keseluruhan temuan menyasar pengkritik dan masyarakat sipil.
Selain itu, sebanyak 151 insiden atau 48,6% dikategorikan peneliti sebagai pernyataan yang mendelegitimasi kritik, dengan 107 di antaranya terjadi dalam acara kenegaraan dan program pemerintah.
Durasi Pidato Meningkat, Kepuasan Publik Justru Menurun
Selain menganalisis pilihan kata, EPPOS meneliti durasi dan isi komunikasi Presiden Prabowo selama dua tahun pertama pemerintahannya.
Dari 166 pidato yang dikumpulkan, total durasi rekaman mencapai 80,6 jam dengan sekitar 326.800 kata.
Sebanyak 76 pidato berkaitan dengan agenda kenegaraan, 64 pidato membahas program pemerintah, dan 26 pidato termasuk kategori politik serta kemasyarakatan.
Durasi pidato meningkat dari 9,9 jam pada semester pertama (Oktober 2024-April 2025) menjadi 29,2 jam pada semester keempat (April-Oktober 2026). Proporsi pidato yang membahas program pemerintah juga bertambah dari 12% menjadi 51%.
Namun, berdasarkan kompilasi 29 survei opini publik yang digunakan EPPOS, rerata kepuasan terhadap pemerintah tercatat turun dari 80,5% menjadi 58,0%.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya durasi pidato, tetapi tidak membuktikan bahwa peningkatan aktivitas pidato menjadi penyebab turunnya kepuasan publik. Perbedaan metodologi dan cakupan survei juga perlu diperhatikan dalam membaca angka tersebut.
Peneliti Soroti Perubahan Retorika Politik
Kajian EPPOS turut mengukur kecenderungan antagonisme dan populisme dalam komunikasi Presiden Prabowo melalui indikator yang ditetapkan peneliti.
Hasilnya menunjukkan skor antagonisme meningkat dari 0,99 pada tahun pertama menjadi 1,32 pada tahun kedua. Sementara itu, skor populisme naik dari 1,23 menjadi 1,65.
Peneliti juga mengidentifikasi 39 kalimat terverifikasi yang mempertentangkan rakyat dengan elite atau pihak yang diposisikan sebagai lawan.
Temuan ini digunakan EPPOS untuk membaca perubahan pola komunikasi presiden serta bagaimana kritik dan kelompok masyarakat digambarkan dalam pidato publik.
Metodologi Penelitian EPPOS PolGov UGM
Penelitian dilakukan dengan menghimpun dan memverifikasi rekaman pidato dari kanal Sekretariat Presiden serta sumber lainnya.
Rekaman kemudian ditranskripsikan dan dibersihkan dari audio di luar pidato presiden. Selanjutnya, peneliti melakukan pengodean, kategorisasi, dan penilaian dengan melibatkan analisis manual, teknologi large language model (LLM), serta perangkat lunak R.
Analisis mencakup frekuensi, kecenderungan, perubahan waktu, dan korelasi antardata. Kategori ucapan tidak pantas merupakan hasil penilaian berdasarkan kerangka penelitian EPPOS. []
