August 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kartu PraKerja , Anggaran yang Tidak Tepat Sasaran Melibatkan Dana Besar

2 min read

JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati menyebut laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menemukan dana Rp289,5 miliar program Kartu Prakerja salah sasaran, menunjukkan jika pelaksana gagal melakukan evaluas saat program pelatihan Kartu Prakerja dihentikan sementara pada 2020.

Selain itu, temuan BPK semakin menguatkan rekomendasi KPK yang sempat meminta agar program Kartu Prakerja dihentikan. Bagi Kurniasih, proses evaluasi yang dijanjikan pemerintah terhadap program ini ternyata tidak menemukan hasilnya.

“Dulu program pelatihan dihentikan alasannya untuk evaluasi, lalu ada rekomendasi KPK agar program ini dihentikan jawaban dari pemerintah sama akan melakukan evaluasi. Berjalan hingga kini tervalidasi jika proses perbaikan terhadap program ini tidak berjalan,” ujar Kurniasih dalam keterangannya, Jumat (27/05/2022).

Politikus PKS ini mengingatkan, agar catatan-catatan dari lembaga penegak hukum dan auditor pemerintah tidak dianggap angin lalu. Sebab bagi program yang dianggarkan hingga Rp20 triliun ini, adanya dana yang tidak tepat sasaran hingga ratusan miliar mengindikasikan jika pengelolaan program ini carut marut.

“BPK bisa menindaklanjuti temuan ini dengan melibatkan penegak hukum apakah ada unsur kerugian negara di dalamnya? Sebab ini tidak main-main, kita sedang menggunakan anggaran negara dalam kondisi sulit. Hati-hati menggunakan anggaran sementara rakyat terus ditarik berbagai iuran, kenaikan pajak hingga kenaikan harga bahan pokok,” ujar Kurniasih.

Dia menegaskan sejak lama pihaknya meminta program Kartu Prakerja dihentikan total kemudian dilakukan evaluasi menyeluruh. Program yang baik tanpa pelaksanaan yang baik dampaknya hanya akan menghamburkan anggaran.

“Persoalan kartu prakerja ini tak pernah selesai mulai dari platform pelatihan yang menimbulkan conflict of interest dengan perusahaan staf ahli presiden waktu itu, temuan KPK, banyaknya joki kartu prakerja, pengawasan yang tidak maksimal karena program ini di bawah Menko Perekonomian yang secara pengawasan di DPR tidak spesifik dan kini muncul temuan anggaran tidak tepat sasaran yang melibatkan dana sangat besar,” pungkas Kurniasih. []

Advertisement
Advertisement