December 10, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kelelahan Warga Hong Kong Diterpa Pandemi Diduga Menjadi Sebab Gelombang Ketiga Melanda

4 min read
FEATURE IMAGE - Kelelahan Warga Hong Kong Diterpa Pandemi Diduga Menjadi Sebab Gelombang Ketiga Melanda (Foto Flickr.com-Rodel Flordeliz)

FEATURE IMAGE - Kelelahan Warga Hong Kong Diterpa Pandemi Diduga Menjadi Sebab Gelombang Ketiga Melanda (Foto Flickr.com-Rodel Flordeliz)

HONG KONG – Pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020 kemarin telah menjadi momok menakutkan bagi warga Hong Kong. Berbagai reaksi baik dalam rangka untuk melakukan proteksi diri maupun dalam upaya untuk tetap bisa hidup dengan normal sehari-hari telah dengan keras diupayakan. Namun nyatanya, pandemi gelombang ketiga tak mampu ditampik kehadirannya di Hong Kong sejak pertengahan Juni.

Bosan dengan pandemi yang seolah tanpa akhir menjadi sesuatu yang bisa dimengerti. Akan tetapi, para ahli memperingatkan agar orang-orang tak membiarkan dirinya mengendurkan penjagaan diri. Kelelahan akan krisis pandemi corona ini juga terjadi pada sebagian warga Hong Kong.

Mengutip SCMP, Chief Executif Hong Kong, Carrie Lam Cheng mengakui adanya fenomena ini, akan tetapi pihaknya mengimbau agar warga Hong Kong tetap waspada.

“Publik telah menunjukkan kelelahan anti-pandemi. Ini bisa dimengerti, karena pandemi telah berlangsung lebih dari enam bulan,” ujarnya, Sabtu (25/07/2020) kemarin.

Ia menyebut, sebelumnya Hong Kong melonggarkan pembatasan, akan tetapi kini kembali diperketat setelah negara itu menghadapi penambahan kasus.

Menurutnya saat cuaca panas seperti sekarang, memang sulit untuk membuat orang tetap di rumah dan tak berada di jalan atau berenang. Salah satu warga Hong Kong yang mengalami adalah Dick Wong (28), seorang akuntan yang tinggal di Hong Kong.

Ia mengatakan bosan dengan pencegahan keamanan virus yang ia lakukan sejak Januari saat virus corona SARS-CoV-2 tiba di Hong Kong. Kini ia lebih jarang mencuci tangannya, dan keinginan bertemu dengan temannya di luar semakin kuat meskipun ia tahu itu tak seharusnya dilakukan.

Dulu, ia sangat takut terinfeksi sehingga bersusah payah melindungi dirinya dengan selalu update berita, mengganti masker tiap empat jam dan membersihkan serta mendisinfeksi rumah setiap hari tak peduli meskipun ia pulang ke rumah saat larut malam. Dulu ia juga tak bertemu teman-temannya selama dua bulan.

Kini, ia merasa sangat lelah fisik dan mental akibat ketakutannya terinfeksi, serta isolasi sosial serta perubahan yang terjadi dalam rutinitasnya. Wong sedih karena semua usahanya seolah gagal mengakhiri krisis pandemi.

Pandemi tidak hanya tetap, bahkan memburuk di Hong Kong bulan ini dengan adanya lonjakan kasus baru.

“Hari-hari ini, saya hampir tidak bisa mengumpulkan energi untuk melakukan apa pun,” katanya.

“Selama berbulan-bulan, saya tetap sangat waspada dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi diri dari infeksi. Itu sangat melelahkan saya,” kata Wong lagi.

Masih dari sumber yang sama, hal yang dialami oleh Dick Wong ini banyak disebut dengan “ kelelahan pandemi” oleh para ahli.

Dick tak sendirian. Krisis kesehatan global yang berlangsung lebih dari enam bulan dan akhir yang tak terlihat banyak membuat orang frustasi dengan tindakan pencegahan Covid-19. Perasaan Covid-19 sebagai hal urgensi menurut para ahli, telah memudar pada diri orang-orang.

Walau negara ini menghadapi gelombang ketiga, banyak warga yang mengabaikan peringatan otoritas kesehatan dan memilih berbondong-bondong ke pantai, beberapa bahkan tanpa masker.

Di angkutan umum, orang-orang juga banyak yang tak mengenakan masker meski pemerintah mewajibkan dengan menghukum denda maksimal 5.000 dollar Hong Kong.

Di sisi lain, pandemi yang berkepanjangan rupanya berdampak pada masalah mental orang-orang utamanya yang telah memiliki riwayat sebelumnya.

May Cheung (43) yang mengalami depresi tiga tahun lalu dan saat ini masih dalam pengobatan mengatakan, berbulan-bulan berada di rumah memperburuk kondisinya. Dulu ia terbiasa berjalan-jalan dengan suaminya yang juga penderita skizofrenia serta menghadiri berbagai kegiatan.

Kini, mereka hanya terkurung di dalam rumah saat pandemi terjadi. Meski demikian Cheung tak pernah absen mengenakan masker dan melakukan disinfeksi tempat tinggalnya.

Cheung mengatakan dulu ia yakin krisis akan berakhir dan hidupnya akan kembali. Sayangnya, gelombang tiga justru datang membuatnya terpukul.

“Setelah semua yang kita lakukan, mengapa pandemi tidak hilang, tetapi menjadi lebih buruk dari sebelumnya? Saya merasa bingung, dan tidak bisa melihat harapan. Saya merasa ingin menyerah,” ujar dia.

Menurut Psikolog klinis Cherry Lin Lee-yung, dari Palang Merah Hong Kong, kelelahan pandemi adalah suatu fenomena psikososial akibat periode waspada yang berlangsung lama, berkurangnya ketakutan, perubahan rutinitas dan ketidakpastian hidup.

Dampaknya, mereka lelah secara fisik maupun mental sehingga menjadi kurang waspada dan mengambil sikap lebih santai terhadap berbagai tindakan pencegahan. Seperti, orang-orang tak lagi mencuci tangan sesering dahulu.

“Ketika pandemi telah berlangsung, tubuh dan otak mereka menjadi lelah karena tetap sangat waspada untuk waktu yang lama, menghabiskan energi dan motivasi mereka,” ujar dia.

Sementara itu, Psikiater Dr Hui Lung menyebut, kelelahan pandemi telah terlihat sejak Maret saat Hong Kong mengalami krisis parah. Ia menilai banyak yang menjadi frustasi karena upaya mereka dalam mengendalikan pandemi gagal.

Sayangnya, para ahli mengkhawatirkan hal ini bisa berdampak buruk pada pandemi yang terjadi. Hong Kong sendiri mengalami peningkatan kasus, kini memiliki kasus lebih dari 2.300 dan 16 kematian.

“ Kelelahan pandemi di satu sisi, membuat masyarakat menjadi tidak terlalu cemas dan takut. Tetapi di sisi lain, itu dapat menyebabkan orang membiarkan pertahanan mereka turun,” kata Hui Lung.

Seorang pakar penyakit menular, Dr Joseph Tsang Kay-yan percaya adanya kelelahan pandemi yang terjadi, kemungkinan besar menyumbang bangkitnya kembali Covid-19 di Hong Kong. Menurutnya perubahan sikap orang-orang harus ditanggapi serius karena ia khawatir krisis akan semakin buruk.

Ching Chi-kong, seorang Asisten Direktur Organisasi Nirlaba Asosiasi Kesehatan Mental Hong Kong memperingatkan kelelahan pandemi dapat berdampak buruk pada individu maupun masyarakat.

“Perubahan signifikan yang dibawa oleh pandemi telah memberikan tekanan luar biasa pada orang-orang, baik secara fisik maupun emosional untuk waktu yang lama dapat menyebabkan masalah mental,” katanya.

Menurutnya, menjadi lelah juga akan mempengaruhi kinerja orang-orang di tempat kerjanya dan hubungannya dengan orang lain. Selain itu ini berdampak pada sikap mereka yang cenderung melonggarkan diri pada tindakan pencegahan virus yang justru dapat menimbulkan ancaman.

Menurutnya, penting untuk mengakui dan mengatasi kelelahan pandemi, terutama karena pandemi tampaknya tak akan berakhir dalam waktu dekat. Ia menyarankan agar orang-orang mempersiapkan hal itu dengan membangun rutinitas baru guna mendapatkan kendali hidupnya.

Seperti dengan menyisihkan waktu untuk olah raga, menggunakan teknologi untuk terhubung dengan keluarga dan teman serta membagi waktu yang jelas antara bekerja dan beristirahat. []

Advertisement
Advertisement