September 15, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kesadaran Memberdayakan PMI Perempuan

2 min read

JAKARTA – Apabila berkesempatan menyusuri desa-desa di Kabupaten Cilacap, tak jarang akan dijumpai rumah megah yang cukup kontras dengan rumah – rumah lain di lingkungan yang relatif sederhana.

Jika ditanyakan kepada warga sekitar, besar kemungkinan jawabannya adalah “rumah TKW” atau Tenaga Kerja Wanita.

Fenomena itu lumrah di Kabupaten Cilacap di mana banyak warganya, mayoritas perempuan, bekerja di luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan menjadi penopang ekonomi keluarga dengan multi player efek yang luas.

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) pada 2025 mencatat 296.948 PMI bekerja di luar negeri, 187.468 orang atau 63 persen di antaranya perempuan.

Data Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Kabupaten Cilacap menunjukkan hingga Juli 2026 jumlah PMI asal Kabupaten Cilacap mencapai 9.289 orang.

Ini menempatkan Kabupaten Cilacap pada tiga besar penyumbang PMI nasional dan peringkat pertama di Provinsi Jawa Tengah.

Remitansi nasional pada 2025 pun mencapai Rp288 triliun, naik 14 persen dari Rp253 triliun pada 2024.

Sebagai salah satu penyumbang PMI terbesar, Kabupaten Cilacap turut menikmati berkah aliran uang ini, meski data pasti remitansi yang masuk ke daerah belum tersedia.

Namun potensi besar tersebut menyimpan persoalan mendasar yaitu remitansi yang tidak dibarengi dengan pengelolaan yang tepat akan cenderung habis untuk konsumsi, bukan menjadi modal pembangunan keluarga ataupun desa.

Kesadaran pengelolaan tersebut umumnya tidak muncul secara mandiri oleh PMI maupun keluarganya, perlu adanya intervensi melalui pemberdayaan agar muncul kesadaran tersebut.

Artikulasi Pemberdayaan Pekerja Migran

Secara akademis Kabeer (1999) menjelaskan pemberdayaan sebagai proses seseorang memperoleh kemampuan membuat pilihan hidup, melalui tiga dimensi yang saling berkelindan.

Yaitu akses terhadap sumber daya (resource), kemampuan bertindak dan mengambil keputusan (agency), serta capaian nyata dalam kehidupan (achievement).

Kerangka ini dapat menggambarkan langkah PMI perempuan mulai dari keberangkatan ke luar negeri membuka akses penghasilan, pengalaman kerja melatih agensi yang sebelumnya jarang mereka miliki, sementara rumah, usaha, dan pendidikan anak adalah capaian dari proses tersebut. []

Penulis : Suryo Wibisono, SIP, M.Si, Peneliti Bappeda Kabupaten Cilacap

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply