September 3, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Tembus 566 Orang Santri

3 min read

JAKARTA – Sebanyak 566 siswa maupun santri tercatat menjadi korban keracunan usai diduga menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan oleh SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah, Selasa (1/9/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina menjelaskan jumlah tersebut adalah angka gabungan dari korban yang dirujuk ke berbagai rumah sakit pada hari sebelumnya serta ditambah pasien yang baru menjalani perawatan pada hari ini.

“531 ditambah 35, kurang lebih 566 ya,” ucap Lakhsmie di RSUD R.T Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).

Ia menjelaskan dari total 566 korban dugaan keracunan massal tersebut, sebanyak 88 orang di antaranya dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit. Lakhsmie mengungkapkan mayoritas korban yang teridentifikasi berasal dari 19 sekolah atau pesantren tersebut adalah santri-santriwati dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam Tanggulangin.

“566 ya, kurang lebih [korban dugaan keracunan siswa-santri usai menyantap MBG SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah], saat ini yang opname 88 [orang],” ungkapnya.

Lakhsmie menjelaskan masing-masing anak yang diduga mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG tersebut mengalami mual, muntah, pusing hingga diare. Saat ini, lanjut dia, kondisi anak yang masih menjalani opname sudah mulai membaik.

“Secara umum yang opname stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus, enggak ada, dirawat inap biasa. Nampaknya mual, muntah, pusing,” ucapnya.

Sementara itu, sebanyak 478 orang korban telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit oleh tim medis usai sebelumnya menjalani perawatan intensif. Lakhsmie menyebut keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan dengan baik kondisi kesehatan dari masing-masing korban yang dinyatakan telah membaik.

“Ya, tentunya kalau misalnya memang dirasa perlu masih ada keluhan ya kontrol. Kalau tidak dengan obat yang sudah diberikan cukup, ya cukup selesai,” ujarnya.

Lakhsmie menyatakan sejak kasus tersebut pertama kali tersiar secara luas di publik serta menengok keadaan riil, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo langsung menetapkan status krisis kesehatan. Fokus penanganan, lanjut dia, dipecah di 2 tempat sekaligus, baik di lapangan maupun rumah sakit.

“Langkah dari Dinkes yang pasti kita eh karena ini kasusnya cukup massal, yang pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup. Kemudian termasuk juga dari obat-obatan dan sarananya,” paparnya.

Ia juga mengungkapkan sejumlah korban keracunan MBG yang baru dievakuasi tersebut saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo, seperti RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.

Mengenai investigasi insiden tersebut, Lakhsmie menjelaskan pihaknya telah mengirimkan sampel muntahan korban dan beberapa bahan menu dari MBG yang didistribusikan untuk mencari penyebab pasti siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya.

“Belum ada hasil [dari pengujian laboratorium], [sampel yang dikirim] muntahan dengan bahan makanan, tadi malam sudah di [BBLK] Surabaya,” ungkapnya.

Ia memperkirakan hasil uji laboratorium tersebut akan terbit dalam waktu sepekan ke depan. Setelah itu, lanjut Lakhsmie, pihaknya baru dapat mengambil keputusan dan sikap mengenai kasus keracunan MBG tersebut.

“Ya, biasanya kurang lebih satu minggu. Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu tapi sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya memang ini terbukti karena permasalahan produk olahannya atau bahannya. SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya dijalankan atau tidak. Kondisi dapurnya kalau data kami itu baik, enggak ada masalah,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Lakhsmie mengatakan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo bersama Badan Gizi Nasional (BGN) juga akan melakukan proses penyelidikan secara kolektif guna mengungkap penyebab dari gejala keracunan yang menimpa ratusan santri ataupun siswa itu.

“Dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu ada batas waktunya, ini sudah betul atau tidak. Itu yang perlu kami investigasi dan tentunya bukan dari Dinkes saja. Dari berbagai unsur termasuk dari BGN nanti diturunkan,” ujarnya. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply