November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Diduga Membela Diri, BMI Kelainan Jiwa Ini Terancam Hukuman Mati

3 min read
-

PURWOREJO – Fatimah (37), BMI Malaysia asal RT 01 RW 02 Desa Luweng Lor Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu nama WNI yang tercatat sedang menghadapi tuntutan hukuman mati. Sebuah tragedi berdarah yang memaksanya dirinya untuk terlibat di dalamnya dua tahun silam, membuatnya terbelenggu tirani tahanan sembari menunggu putusan pengadilan.

Keluarga Di Purworejo telah mengetahui hal ini sejak dua tahun silam, begitu Fatimah masuk tahanan Polisi Malaysia. Sebagaimana dilansir dari Kedaulatan Rakyat, keluarga Fatimah mengetahui kabar tersebut langsung dari Fatimah sendiri hyang menelpon ke rumah. Fatimah menjadi pelaku tunggal pembunuhan Pria Banglades bernama Halim bin Ashari 2015 silam.

“Dalam telepon Fatimah bilang sedang dalam masalah dan ditahan kepolisian karena pidana pembunuhan, dia bilang kepada kami untuk tidak berharap banyak,” kata Rubinah (87) ibu Fatimah kepada Kedaulatan rakyat pada Kamis (12/10) kemarin.

Menurutnya, pihak keluarga tidak mengetahui pasti kronologi pembunuhan tersebut. Informasi terjadinya tindak pidana itu juga datang dari agen yang membawa Fatimah ke Malaysia.

Pihak keluarga kaget karena selama di Malaysia sejak tahun 2013, Fatimah tidak pernah tersandung masalah. Perempuan yang bekerja sebagai buruh cuci itu selalu kirim uang kepada keluarga total Rp 13,8 juta.

“Fatimah memang ada kelainan sejak kecil, ia seperti laki-laki dan sangat temperamen, beberapa kali mengamuk dan siapa saja akan dilawan. Setelah kejadian itu, kami berdoa supaya keluarga korban memaafkan dan Fatimah bisa pulang ke Indonesia,” ungkapnya.

Kepala Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Purworejo Aris Widyantoro menambahkan, berdasar informasi, Fatimah kerap bertingkah aneh dan merusak peralatan tahanan selama menjalami masa persidangan. Perilaku itu akhirnya menjadi pertimbangan Pengadilan Penang. Pihak pengadilan menerjunkan tim untuk memastikan kondisi kejiwaan Fatimah.

Tim medis Malaysia juga diterjunkan ke Indonesia menggali informasi dari keluarga Fatimah di Pituruh pada Agustus 2017.”Mereka mewawancara keluarga dan dari pengakuan kerabat, dalam pengamatan kami Fatimah mengalami gangguan jiwa. Semoga penelusuran itu meringankan bahkan membebaskannya dari hukuman mati,” ujarnya.

Pemkab, katanya, hanya berupaya memfasilitas dan tidak bisa menjamin kebebasan Fatimah. Selain diluar kewenangan, Fatimah berangkat secara ilegal sehingga tidak tercatat dalam daftar dinas.

Kendati demikian, pemkab tetap mengambil langkah. Selain memfasilitasi tim, pemkab berkomunikasi dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dan Kemenlu. “Bahkan Bupati Purworejo sudah mengirim surat kepada Kemenlu, isinya minta pembebasan dari tuntutan mengingat Fatimah gangguan jiwa. Tujuan bupati agar Kemenlu terus fokus membantu penyelesaian masalah Fatimah di Malaysia,” tandasnya.

 

Fatimah Membela Diri

Hasil penelusuran yang didapat koresponden Apakabaronline.com di Malaysia, Fatimah tidak punya niat sengaja menghabisi nyawa pria Banglades tersebut. Saksi yang engan disebut namanya menyatakan, meskipun tidak melihat secara langsung peristiwa tersebut, tapi dia mengenal dan mengetahui Fatimah.

“Orangnya keras, meskipun perempuan, kalau merasa benar, dia tidak takut dengan siapapun. Pasti dia lawan” tutur saksi.

“Beberapa hari sebelum kejadian, Fatimah memang pernah terucap kalau dia sangat muak dengan pria Banglades tersebut. Fatimah mengaku sering dilecehkan, digoda dan diajak berhubungan intim. Pernah, Fatimah bercerita kalau dia pernah menampar muka pria Banglades tersebut lantaran pria tersebut mencolek bagian terlarang dari tubuhnya” lanjutnya.

“Nah, saat kejadian diduga kuat, Fatimah akan diperkosa oleh pria tersebut. Motifnhya bisa karena nafsu dan karena dendam sakit hati karena sebelum nya pernah ditampat di muka umum”  imbuhnya.

Jadi, saya rasa, tidak adil kalau melihat kasus Fatimah hanya dari satu sisi saja, tanpa pernah melihat sisi lain yaitu, bagaimana bejatnya pria Banglades yang terbunuh itu” pungkasnya.  [Asa/Ilham]

Advertisement
Advertisement