October 28, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Menata Masa Depan Lewat Ihtiyar Maksimal dan Jalur Langit

3 min read

JAKARTA – Memasuki usia 20-an hingga awal 30-an sering kali terasa seperti berada di persimpangan. Di satu sisi, ada keinginan untuk segera memiliki pekerjaan yang mapan, membangun keluarga, mempunyai rumah, atau mencapai target karier. Di sisi lain, kenyataan tidak selalu berjalan secepat harapan. Melihat teman sebaya yang tampak lebih sukses di media sosial juga dapat membuat seseorang bertanya-tanya, “Sebenarnya saya sedang tertinggal atau tidak?”

Kondisi semacam ini sering disebut quarter-life crisis. Istilah tersebut menggambarkan periode ketika seseorang mengalami kebingungan, kecemasan, atau keraguan mengenai arah kehidupan, terutama terkait pekerjaan, hubungan, keuangan, dan masa depan. Meski istilahnya berasal dari psikologi populer, persoalan tersebut dapat dihadapi dengan pendekatan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya menunggu takdir tanpa melakukan usaha. Ikhtiar menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup seorang Muslim. Allah SWT berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa usaha memiliki posisi penting dalam kehidupan. Karena itu, ketika merasa belum mencapai sesuatu, langkah pertama bukan terus menyalahkan diri sendiri, melainkan mengevaluasi apa yang dapat diperbaiki. Kemampuan, pendidikan, jaringan, pengalaman, dan kebiasaan sehari-hari dapat menjadi bagian dari ikhtiar yang perlu terus dikembangkan.

Namun, ikhtiar maksimal bukan berarti memaksakan diri untuk mengendalikan seluruh hasil. Ada hal-hal yang berada dalam kemampuan manusia dan ada pula yang berada di luar kendalinya. Di sinilah konsep tawakal menjadi penting. Setelah berusaha secara sungguh-sungguh, seorang Muslim menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159).

Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru, tawakal hadir setelah seseorang mengambil keputusan dan melakukan usaha. Dengan cara pandang ini, kegagalan tidak selalu harus dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Bisa jadi, hasil yang belum sesuai harapan merupakan kesempatan untuk mengevaluasi strategi dan menemukan jalan yang lebih tepat.

Menghadapi quarter-life crisis juga membutuhkan kemampuan untuk berhenti membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain. Media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan seseorang, bukan keseluruhan perjuangannya. Apa yang terlihat sebagai kesuksesan instan bisa saja merupakan hasil perjalanan panjang yang tidak terlihat di layar.

Selain ikhtiar lahiriah, umat Islam memiliki apa yang sering disebut sebagai “jalur langit”, yakni memperkuat hubungan spiritual melalui doa, salat, zikir, membaca Al-Qur’an, istikamah dalam ibadah, dan memohon petunjuk Allah dalam mengambil keputusan. Jalur spiritual tersebut bukan pengganti kerja keras, melainkan pelengkap yang membantu seseorang menjaga ketenangan dan orientasi hidup.

Allah SWT berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ketika masa depan terasa kabur, seseorang juga tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup sekaligus. Menentukan tujuan jangka pendek, memperbaiki satu kebiasaan, meningkatkan keterampilan, mengatur keuangan, dan membangun relasi yang sehat dapat menjadi langkah konkret untuk bergerak sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, quarter-life crisis bukan tanda bahwa seseorang gagal menjalani kehidupan. Fase tersebut dapat menjadi momentum untuk bertanya kembali tentang arah hidup, nilai yang ingin diperjuangkan, dan tujuan yang benar-benar ingin dicapai. Masa depan memang tidak selalu dapat diprediksi, tetapi manusia tetap memiliki ruang untuk memilih, berusaha, berdoa, dan memperbaiki diri.

Karena itu, menghadapi quarter-life crisis tidak harus selalu dengan galau. Maksimalkan ikhtiar, perkuat doa, jaga ibadah, susun langkah secara realistis, lalu serahkan hasil kepada Allah. Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi paling cepat sampai, melainkan perjalanan untuk memastikan bahwa langkah yang ditempuh tetap berada di jalan yang benar. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply