Mengandung Virus Beta Corona, 193 Ekor Kelelawar di Pasar Depok Dimusnahkan

Feature Image Mengandung Virus Beta Corona, 193 Ekor Kelelawar di Pasar Depok Dimusnahkan (foto Istimewa)
Feature Image Mengandung Virus Beta Corona, 193 Ekor Kelelawar di Pasar Depok Dimusnahkan (foto Istimewa)
Prime Banner

SOLO  – Berbagai langkah pencegahan penyebaran dan penularan virus corona, beberapa hari belakangan dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi di kawasan Surakarta Raya atau kota Solo menyusul usai Wali Kota Solo menyatakan status KLB virus corona.

Disamping menyemprotkan disinfektan di fasilitas-fasilitas umum seperti terminal bis, stasiun KA, Bandara, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat lainnya, petugas Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP) Surakarta juga melakukan pemusnahan 193 ekor kelelawar di kawasan Pasar Burung Depok pada Sabtu (14/03/2020) kemarin.

Hal tersebut dilakukan setelah populasi kelelawar di kawasan tersebut dilakukan pengujian di Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, sejak merebaknya Covid-19 di Wuhan akhir 2019.

“Kelelawar dan codot di Pasar Depok telah diuji Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, sejak merebaknya Covid-19 di Wuhan akhir 2019. Hasilnya kelelawar di Pasar Depok positif mengandung virus beta korona,” terang Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP), Evi Nurwulandari.

Meski kemiripan beta korona dan Covid-19 disebut Evi masih jauh, kelelawar dianggap berkemampuan unik lantaran bisa menularkan virus-virus yang dibawanya kepada manusia. “Jadi tujuan pemusnahan ini adalah pencegahan agar virus itu tidak bermutasi, kemudian menyerang manusia. Atau bersifat zoonosis,” beber dia.

Kepala Seksi Konservasi BKSDA Wilayah I Surakarta, Titi Sudaryanti memastikan, kelelawar yang dimusnahkan kemarin adalah kelelawar yang dijualbelikan di Pasar Burung Depok. Ratusan hewan itu diserahkan sukarela oleh penjualnya, sebelum dimusnahkan.

“Ini kami lakukan sesuai prosedur, agar tidak diperdagangkan. Kelelawar yang hidup di alam bebas tidak ikut dimusnahkan, karena mereka punya habitat sendiri,” tegas Titi.

Di sisi lain, pemberlakuan KLB berdampak terhadap penurunan aktivitas masyarakat di berbagai lokasi. Meski tetap beroperasi, pantauan Suara Merdeka menunjukkan jika pusat perbelanjaan relatif lebih sepi dibanding akhir pekan sebelumnya. Titik-titik rawan kemacetan di sejumlah ruas jalan juga terlihat lebih lengang.

“Status KLB ini mohon dimaknai secara positif. Dengan (penetapan status) KLB, masyarakat diharapkan lebih waspada dan melakukan pencegahan, serta mengantisipasi penyebaran virus korona sejak dini,” tegas Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Selain itu, penetapan status KLB menjadikan Pemkot lebih maksimal dalam meminimalkan potensi penyebaran Covid-19. “Kalau biasanya pelayanan Pemkot hanya delapan jam sehari, sekarang bisa dilakukan sampai pagi. Saat tracking (pelacakan) pasien kemarin saja bisa sampai pukul 03.00 dini hari, dan ini masih dilanjut lagi.” []

You may also like...