Pahala Jariyah yang Berasal dari Kebaikan Kecil
3 min read
JAKARTA – Inti dari segala amal perbuatan adalah niat. Hadis Rasulullah Saw menyebutkan:
“Setiap amal tergantung pada niat. Setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah fondasi pertama dalam berperilaku. Ketika melakukan kebaikan, menolong sesama, menunaikan ibadah, atau berjuang di jalan kebenaran, maka satu-satunya arah yang harus kita tuju adalah keridaan Allah Swt. Bukan pujian, bukan tepuk tangan, bukan pengakuan publik, dan bukan pula kedudukan.
Niat penentu nilai sebuah amal. Sekalipun bentuk perbuatan itu tampak baik di mata manusia, namun jika niatnya tidak lurus kepada Allah, maka nilanya menjadi rapuh. Allah Swt berfirman:
Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. (Surah Al-Bayyinah: 5)
Memurnikan niat berarti membersihkan hati dari keinginan agar dilihat, dipuji, atau diakui oleh makhluk lain. Rasulullah Saw memperingatkan kita tentang bahaya menyekutukan Allah dalam hal niat, yang dikenal dengan istilah syirik kecil.
Beliau bersabda: “Yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik yang kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik yang kecil itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab:”Riya (ingin dipuji dalam beramal).” (HR Ahmad)
Menghargai Kebaikan
Dalam melihat kebaikan yang dilakukan oleh orang lain, ada satu sikap mulia yang perlu kita jaga: berhusnuzan atau berprasangka baik.
Kita tidak boleh terburu-buru menilai atau mengklaim bahwa kebaikan yang ditunjukkan seseorang itu semata-mata karena ingin dipuji atau riya. Sebab yang paling mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah.
Niat seseorang adalah rahasia antara dirinya dan Penciptanya; kita tidak pernah bisa mengetahui dengan pasti apa yang tersembunyi di dalam dadanya.
Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap sesama: beranggapan bahwa kebaikan yang mereka tunjukkan itu semata-mata hanya karena mengharap rida Allah.
Sikap ini bukanlah bentuk kebodohan, melainkan keindahan akhlak yang mengajarkan kita untuk menghargai usaha orang lain tanpa perlu mencurigai niatnya.
Kebaikan yang ditampilkan di hadapan orang lain bukan berarti dilakukan untuk mendapatkan pujian. Justru ketika seseorang melakukan kebaikan secara terbuka, ia bisa saja memiliki niat yang sangat mulia: ia ingin menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain, agar orang lain pun tergerak untuk meniru kebaikan yang telah dilaksanakannya. Inilah bentuk teladan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Mengalirkan Pahala Jariah
Rasulullah Saw bersabda:”Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR. Muslim)
Mengajak orang berbuat baik lebih mudah kalau kita menjadi teladan kebaikan. Orang melihat kebaikan kita lalu dia mencontoh itu mendapat balasan dari Allah.
Kebaikan yang kita tunjukkan dengan niat ikhlas, bisa menjadi cahaya yang menerangi jalan orang lain yang sedang tersesat, menguatkan hati yang sedang rapuh, dan membangkitkan semangat yang sedang padam.
Bisa saja senyum tulus, kata-kata yang menyejukkan, atau kesabaran kita dalam menghadapi ujian, menjadi alasan bagi seseorang untuk menemukan hidayah dari Allah Swt.
Betapa luasnya keutamaan ini. Satu langkah kebaikan yang kita lakukan hari ini—baik itu dilakukan secara diam maupun terbuka—bisa saja menginspirasi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.
Kemudian orang itu juga melakukan kebaikan kepada orang lain, dan kebaikan itu terus mengalir dari satu hati ke hati lainnya. Selama kebaikan itu terus dilakukan, maka pahalanya terus mengalir kepada kita, meskipun kita sudah tidak lagi hadir di sana.
Inilah amal jariah yang tidak terputus, dan semua itu bermula dari keikhlasan kita melakukan kebaikan hanya karena Allah, serta keberanian kita menampakkan kebaikan itu agar bisa ditiru oleh orang lain. []
Penulis : Muhammad Wahid, S.Pd.I., M.Pd.,Gr, Mudir Ma’had Al-Muttaqin Blimbing, Lamongan
