January 21, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Pencarian Korban Semeru yang Hilang Direncanakan Sampai Sepekan Sejak Kejadian

2 min read

MALANG – Tim SAR gabungan menargetkan operasi pencarian warga yang hilang akibat awan panas guguran Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), berlangsung selama sepekan. Hari ini Rabu (08/12/2021) merupakan hari ke-5 pascaerupsi.

Komandan Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Gunung Semeru, Kolonel Inf. Irwan Subekti, menyatakan, sebanyak 22 warga masih dilaporkan hilang. Upaya pencarian difokuskan di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh dan Desa Curah Kobokan.

“Pencarian pagi hingga sore dengan memperhatikan cuaca di Lumajang. Hampir setiap hari, setiap sore rata-rata turun hujan. Upaya pencarian sangat dipengaruhi kondisi hujan di lapangan,” katanya, Selasa (08/12/2021).

Danrem 083/Baladhika Jaya ini melanjutkan, upaya pencarian warga yang hilang bakal mengoptimalkan kemampuan personel di lapangan juga memakai alat berat. Kewaspadaan atas kondisi material vulkanik yang masih panas dan kondisi hujan di puncak gunung menjadi perhatian agar terhindar dari banjir lahar dingin.

Terkait dengan penambang pasir yang hilang, Irwan menyatakan, pihaknya bakal memastikan identitas korban yang kini masih dalam proses identifikasi. Sebanyak 10 dari 34 korban yang meninggal belum teridentifikasi.

Di sisi lain, terdapat 4.250 orang mengungsi di beberapa titik di Kabupaten Lumajang. Hanya ada masing-masing satu titik di Kabupaten Malang dan Blitar.

Berikut ini rincian distribusi penyintas di beberapa wilayah Kabupaten Lumajang. Jumlah warga mengungsi di Kecamatan Candipuro 1.733 jiwa, Pasirian 974, Tempeh 400, Pronojiwo 295, Lumajang 199, Pasrujambe 197, Sukodono 191, Sumbersuko 67, Jatiroto 56, Yosowilangun 28, Ranuyoso 26, Rowokangkung 16 dan Gucialit 8.

Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, menambahkan, pemerintah daerah (pemda) berupaya memberikan pelayanan optimal kepada para penyintas. Untuk penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang, para pengungsi akan dipindahkan ke fasilitas-fasilitas pendidikan.

“Tempat pengungsian sekarang berada di beberapa fasiltias umum, balai desa, dan kecamatan. Selanjutnya akan direlokasi ke sekolah. Saat ini, kami sedang menginvetaris sekolah SD, SMP dan SMA yang bisa digunakan sebagai tempat penampungan,” tuturnya.

Melansir situs web BNPB, Pemda Lumajang pun masih mengidentifikasi permukiman warga terdampak direlokasi. Diutamakan di lahan-lahan milik pemerintah. []

Advertisement
Advertisement