Penyesalan yang Terlambat
4 min read
JAKARTA – Penyesalan di penghujung usia karena belum banyak berbuat baik semasa muda. Muncul perasaan sedih, kecewa, dan bersalah yang mendalam saat menyadari waktu produktifnya terbuang sia-sia tanpa diisi dengan amal saleh, ketaatan, atau kontribusi positif kepada sesama.
Dalam konteks spiritual dan psikologis, ini sering disebut sebagai penyesalan yang terlambat atau penyesalan di saat ajal tiba. Masa peluang beramal sudah sangat terbatas atau bahkan hilang. Sementara kesadaran kematian semakin mendekat.
Penyesalan di masa tua atau saat ajal mendekat (sakaratul maut) tidak lagi bermanfaat untuk mengubah status keimanan atau menambah pahala, karena waktu untuk bekerja sudah habis. Ada banyak ayat penyesalan di dalam Al-Quran yang menceritakan keadaan orang-orang yang dibangkitkan dari alam kubur menuju Mahkamah Allah dengan raut wajah penuh penyesalan yang mendalam dan tertunduk malu di hadapan Allah Ta’ala.
Sebagaimana firmanNya dalam surah As-Sajdah ayat 12-14.
وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلْمُجْرِمُونَ نَاكِسُوا۟ رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
وَلَوْ شِئْنَا لَءَاتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَىٰهَا وَلَٰكِنْ حَقَّ ٱلْقَوْلُ مِنِّى لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ
فَذُوقُوا۟ بِمَا نَسِيتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَآ إِنَّا نَسِينَٰكُمْ ۖ وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْخُلْدِ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.
Kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari pada-Ku: Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.
Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.
Tiga ayat ini menggambarkan penyesalan mereka saat siksa neraka ditimpakan sebagai balasan atas kelalaian, kesombongan, dan perbuatan dosa selama di dunia.
Kalimat Sesungguhnya Kami melupakan kamu (pula) pada ayat 14 surah As-Sajdah itu bermakna Allah meninggalkan mereka dalam siksaan, tidak mempedulikan permohonan mereka, sebagaimana mereka telah melupakan perintah dan hari pertemuan dengan Allah di dunia.
Ayat di atas memperingatkan manusia untuk beriman dan tidak menunda untuk beramal saleh di dunia sebagai bekal pulang ke negeri akhirat sebelum ajal menjemput dan kesempatan beramal hilang.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai fenomena ini.
Puncak Penyesalan di Usia Tua
Penyesalan sering datang di akhir, saat rambut mulai memutih dan badan membungkuk, menyadari bahwa ajalnya semakin dekat, namun amal saleh tidak bertambah.
Penyesalan yang datang saat ajal tiba (sakaratul maut) atau di akhirat tidak lagi berguna karena kesempatan beramal hanya ada di dunia.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 66.
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: Wahai alangkah baiknya, andaikata kami dahulu di dunia taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.
Ayat ini mengandung makna, bahwa orang-orang yang lalai atas kematian dan perjumpaannya dengan Allah di kehidupan dunianya, maka di akhirat kelak mereka berangan-angan sekiranya mereka dihidupkan kembali di dunia agar bisa beramal saleh, menaati Allah, dan beriman kepada risalah Rasulnya supaya selamat dari azab kubur dan neraka.
Penyesalan karena Meremehkan Taubat
Penyesalan sering terjadi karena manusia menunda-nunda taubat. Orang yang meremehkan taubat cenderung menyepelekan dosa, yang membuat hati mengeras dan sulit merasakan penyesalan yang sesungguhnya.
Bahaya meremehkan taubat adalah ketika seseorang menundanya hingga ajal menjelang. Ketika pintu taubat sudah tertutup dan penyesalan tidak lagi berguna.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai di tenggorokan. (HR. Tirmidzi, no. 3537)
Makna kata ghargharah pada hadis ini, adalah suara napas di kerongkongan saat sakaratul maut, pertanda ajal sudah sangat dekat. Setiap muslim dianjurkan menyegerakan taubat dan tidak menunda-nunda, mengingat ajal bisa datang kapan saja sebelum tanda sakaratul maut.
Kurang Berbakti
Penyesalan karena kurang berbakti kepada orang tua atau kurang menjaga hubungan dengan keluarga saat masih mampu.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Ahqaf ayat 15.
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Ulama berdalil dengan ayat ini bahwa hak ibu lebih besar daripada hak kepada bapak. barangsiapa luput dan abai atas hak kedua orang tua, akan pantas pula diabaikan oleh Allah Ta’ala di akhirat kelak. Menyesal karena tidak memaksimalkan bakti ketika orang tua masih hidup.
Dalam Islam, penyesalan ini digambarkan sebagai penyesalan yang tidak berguna jika datang saat sakaratul maut atau setelah ajal tiba. Namun jika penyesalan itu datang saat masih bernapas, itu adalah kesempatan untuk bertaubat nasuha dan memperbaiki sisa usia. Walaahu ’alamu bishshawwab. []
Penulis : Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Sidoarjo (2022-2027), Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam Sidoarjo.
