January 15, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Perlindungan PMI yang Sebenarnya Dimulai dari Skill

3 min read

JAKARTA – Menteri  Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima audiensi Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Heri Hermansyah, dan Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah, di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa (13/01/2026).

Pertemuan strategis ini membahas kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan target Presiden Prabowo Subianto dalam mengirimkan 500 ribu Pekerja Migran Indonesia  profesional pada tahun 2026.

Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa perubahan status kelembagaan dari Badan menjadi Kementerian P2MI adalah bentuk komitmen pemerintah untuk memperkuat fungsi pemetaan, penempatan, pelayanan, pencegahan, dan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia secara menyeluruh.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo sangat jelas yakni fokus pada peningkatan perlindungan dari hulu hingga hilir, mulai dari sebelum, selama, hingga purna penempatan,” beber Menteri Mukhtarudin.

Namun, Menteri Mukhtarudin bilang perlindungan yang paling mendasar sebenarnya dimulai dari pelatihan vokasi.

“Dengan memberikan ilmu dan skill, kita sudah membentengi mereka di negara orang,” ujar Mukhtarudin.

Menteri Mukhtarudin didampingi oleh pejabat eselon I Kementerian P2MI, di antaranya Sekjen Komjen Dwiyono, Dirjen Penempatan Ahnas, dan Dirjen P3KLN Dwi Setiawan.

Dalam arahannya, Menteri menekankan tidak akan lagi memberangkatkan pekerja migran yang tidak memiliki kompetensi (unskilled).

“Dulu asal kirim tanpa menimbang aspek keselamatan, bahkan ada yang tidak mengerti bahasa Arab dikirim ke sana. Sekarang tidak lagi. Kita hanya akan melepas pekerja migran yang punya kompetensi. Sekalipun dia di sektor domestik, dia harus punya skill dasar dan memahami bahasa negara tujuan,” tegas Menteri P2MI Mukhtarudin.

UI Resmikan Migrant Center 2 Februari 2026

Merespons arahan tersebut, Rektor UI Prof. Heri Hermansyah menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dalam mencetak lulusan berkemampuan tinggi yang siap mengisi pasar kerja internasional.

Sebagai langkah konkret, UI akan meresmikan UI Migrant Center pada 2 Februari 2026 mendatang, bertepatan dengan hari ulang tahun UI, sekaligus penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kemsnterian P2MI.

“Migrant Center UI bukan hanya untuk lulusan UI, melainkan wadah pelatihan bagi seluruh masyarakat Indonesia yang ingin bekerja ke luar negeri. Kami akan fokus pada pelatihan kompetensi dan sertifikasi, seperti caregiver, teknisi, dan bidang lainnya,” jelas Prof. Heri.

Ia juga menambahkan bahwa UI telah menjajaki peluang di Taiwan dan Jepang untuk mengisi kebutuhan perawat dan tenaga teknis lainnya.

Depok Siap Jadi Kota Percontohan Pekerja Migran Go Global

Senada dengan hal tersebut, Wakil Walikota Depok Chandra Rahmansyah memandang kerja sama dengan Kementerian P2MI ini sebagai solusi strategis untuk membawa Depok keluar dari middle income trap.

Chandra mengakui dampak ekonomi migran sangat nyata terhadap pertumbuhan daerah melalui remitansi yang diperkirakan mencapai Rp200 triliun secara nasional.

“Pertumbuhan ekonomi kita di angka 5%, tanpa remitansi pekerja migran, mungkin banyak kasus busung lapar di wilayah terpencil. Remitansi ini menghidupkan pasar dan ekonomi lokal,” ungkap Chandra.

Pemkot Depok sendiri telah meluncurkan program “Depok Maju Go Global” dengan target penempatan 1.000 orang tahun ini melalui dukungan pendanaan dari Bank BJB.

“Kami siap menjadikan Depok sebagai kota percontohan pembangunan SDM migran yang berkualitas. Dengan skill yang mumpuni dan penguasaan bahasa, isu keamanan dan perlindungan Pekerja Migran akan jauh lebih terjamin,” pungkas Chandra Rahmansyah.

Pertemuan langsung bersama Menteri Mukhtarudin ini menandai langkah terciptanya ekosistem penempatan Pekerja Migran yang terintegrasi antara kebijakan pemerintah pusat, dukungan riset dan pelatihan dari perguruan tinggi, serta eksekusi di tingkat pemerintah daerah terkait perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply