February 28, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Syariat Puasa dan Pesan Keseimbangan bagi Tubuh

3 min read

JAKARTA – Puasa dalam Islam tidak pernah dimaksudkan untuk melemahkan tubuh, tetapi justru meneguhkan harmoni antara kekuatan ruhani dan kebugaran jasmani. Prinsip keseimbangan (tawazun) inilah yang menunjukkan bahwa syariat puasa berdiri di atas fondasi kemaslahatan manusia secara menyeluruh.

Al-Qur’an menegaskan, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al-Baqarah: 185). Pesan ini meneguhkan bahwa kewajiban puasa tidak bertentangan dengan kesehatan fisik.

Islam bahkan menyediakan rukhsah (keringanan) bagi orang sakit, musafir, lansia, dan kondisi tertentu lainnya. Dengan demikian, menjaga kesehatan bukanlah hal yang diabaikan dalam ibadah puasa, melainkan bagian dari prinsip syariat itu sendiri.

Dalam perspektif fikih, puasa menuntut kesiapan fisik dan mental secara proporsional. Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem yang menyiksa tubuh, tetapi juga tidak membenarkan gaya hidup yang berlebihan.

Keseimbangan itu tampak jelas pada anjuran sahur dan berbuka tepat waktu. Rasulullah Saw. bersabda, “Bersahurlah, karena pada sahur itu terdapat keberkahan” (Bukhari dan Muslim). Sahur bukan sekadar sunah, melainkan bentuk perhatian syariat terhadap kebutuhan energi tubuh selama berpuasa.

Menjaga kesehatan saat berpuasa bukan sikap duniawi yang mengurangi nilai ibadah. Justru sebaliknya, tubuh yang sehat memungkinkan seorang mukmin menjalankan salat, tilawah, sedekah, dan qiyamulail secara optimal.

Mengabaikan kesehatan hingga melemahkan diri dapat menurunkan kualitas ibadah. Dalam pandangan Islam, tubuh adalah amanah yang wajib dijaga, bukan disiksa atas nama penghambaan.

Para ulama klasik telah lama menekankan pentingnya keseimbangan ini. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah menundukkan hawa nafsu, bukan melemahkan tubuh secara berlebihan.

Jika puasa sampai merusak kesehatan dan menghalangi ketaatan lain, maka esensi puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah tidak tercapai. Artinya, syariat puasa selalu bergerak dalam koridor kemaslahatan.

Dari sudut pandang medis, puasa yang dijalankan dengan pola makan seimbang terbukti memberi banyak manfaat, seperti membantu proses detoksifikasi alami, memperbaiki metabolisme, dan mengendalikan pola konsumsi.

Namun, manfaat ini hanya akan dirasakan jika sahur dan berbuka dilakukan secara bijak—tidak berlebihan, tidak kekurangan, serta tetap memperhatikan asupan gizi. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (Al-A’raf: 31).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kajian tibbun nabawi juga menegaskan bahwa puasa merupakan terapi yang menyehatkan tubuh sekaligus menyucikan jiwa. Menurutnya, pengaturan pola makan dan pengendalian konsumsi adalah metode alami untuk menjaga keseimbangan fisik dan spiritual. Dengan demikian, puasa sejatinya adalah ibadah yang menyembuhkan, bukan melemahkan.

Harmoni ibadah dan kesehatan juga tercermin dalam anjuran menjaga aktivitas harian secara wajar. Puasa tidak berarti berhenti bekerja, belajar, atau berkarya.

Sebaliknya, aktivitas yang dijalani dengan niat ibadah justru memperkaya makna puasa. Islam mengajarkan bahwa kekuatan fisik yang terpelihara akan menopang produktivitas amal, sehingga Ramadan tidak menjadi bulan kemalasan, melainkan bulan peningkatan kualitas hidup.

Pada akhirnya, syariat puasa menghadirkan keseimbangan yang indah: tubuh ditahan agar jiwa terlatih, tetapi tubuh tetap dijaga agar ibadah tidak terhambat. Kesehatan dan ibadah bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sisi yang saling menguatkan.

Dengan pola makan, istirahat, dan aktivitas yang proporsional, seorang mukmin dapat menjalani puasa dengan khusyuk sekaligus tetap bugar. Inilah wajah Islam yang penuh rahmat—menghadirkan ibadah yang mendekatkan kepada Allah tanpa mengabaikan maslahat kesehatan manusia.  []

Penulis :  Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply