June 22, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Usai Badai Ma On, PMI Hong Kong Asal Tuban Tidak Bisa Dihubungi Anaknya

2 min read

SURABAYA – Badai Ma On yang pada akhir Agustus kemarin menghempas Hong Kong hingga membuat Hong Kong Observatory mengeluarkan peringatan topan 8 masih menyisakan kecemasan bagi keluarga PMI Hong Kong hingga saat ini.

Bukan lantaran hempasan badai yang secara langsung menerpa kampung halaman, namun hempasan ketidakpastian akan kabar dan keberadaan seorang PMI Hong Kong yang membuat keluarga di kampung halaman hingga kini berihtiyar dalam pencarian.

Adalah Delina Agustin Mawadah Rachmasuci (22), warga Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban Kota, Tuban, Jawa Timur kini tengah was was lantaran Yuliati (39) sang ibunda sejak badai Ma On terjadi hingga kini tidak bisa lagi dihubungi.

”Saya baca berita ada satu TKW (PMI) yang jadi korban, jatuh dari lantai apartemen, identitasnya belum diketahui. Tapi ciri-cirinya kok mirip ibu saya,” tutur Delina, Selasa (06/09/2022) dikutip dari Warta Kini.

Kekhawatiran Delina semakin menguat ketika apartemen tempat terjadinya insiden tersebut dijadikan tempat karantina bagi pasien Covid 19. Yuliati, ibunya yang jadi PMI di Hong Kong itu, memang sempat memberi kabar pada Delina dan keluarganya bahwa ia dinyatakan positif Covid 19 dan dikarantina di sebuah apartemen.

”Saya tidak tahu pasti apartemen apa dan di mana, ibu nggak mengatakan. Karena itu begitu saya baca berita ada TKW asal Indonesia yang jadi korban bencana angin topan di Hongkong, saya langsung cemas,” kata Delina berkaca-kaca.

Didampingi bibinya, Eva, gadis yang telah ditinggal berpulang ayahnya itu mencoba menghubungi BP2MI lewat saluran hotline bebas pulsa. Sayangnya, tidak ada selembar dokumen pun yang bisa mempermudah BP2MI melacak keberadaan Yuliati. Satu-satunya dokumen yang dipegang Delina hanya selembar foto kopi KTP ibunya.

”Ibu (Yuliati) juga punya akun medsos, tapi saya tidak dikasih tahu. Jadi saya mau mencari lewat medsos juga kesulitan,” keluh mahasiswa UB Malang semester 5 itu.

Eva, bibi Delina, mengatakan, Yuliati berangkat ke Hongkong sejak 2006 silam. Namun tidak ada yang tahu ia berangkat melalui perusahaan apa. Eva menuturkan, yang diketahui Yuliati sebelum berangkat ke Hongkong singgah dulu di Malang.

”Kami hanya tahu Mbak Yuliati berangkat dari Malang, itu saja. Selebihnya kami tidak ada yang tahu,” kata Eva.

Selama berada di Hong Kong, komunikasi Yuliati dengan Delina dan keluarga tak pernah terputus. Kendati begitu, baik Delina, Eva maupun keluarga lainnya tidak ada yang mengetahui persis keadaan Yuliati. Karena Yuliati sendiri seolah sengaja merahasiakannya.

Tak ada yang bisa dilakukan Delina, Eva dan keluarganya selain bersabar menunggu. Mereka mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan Yuliati sehari sebelum badai ma on melanda Hong Kong . []

Advertisement
Advertisement