Diwarisi Anak Haram

Prime Banner

“Pak, Tomi tidak betah ikut ibu. Di sana ada om Rudi. Oleh ibu Tomi disuruh manggil bapak ke om Rudi, kata ibu om Rudi itu bapaknya Tomi, Tomi gak mau pak. BapaknyaTomi kan sampean pak ? Terus disana Tomi gak boleh ikut TPA gak boleh main main keluar. Om Rudi galak banget, Tomi selalu dimarah marahi terus. Tomi tidak mau pisah sama bapak, Tomi tidak mau pergi lagi dari rumah ini kalau tidak dengan bapak. Pokoknya Tomi ingin selalu sama bapak”

Mungkin memang dasar bibit akhlaqnya memang buruk, begitulah kedua orang tuaku menyebut tabiat istriku. Bagaimana tidak, jelas jelas masih terikat hubungan suami istri kemudian diam diam menikah lagi. Setelah ketahuan, malah istriku memutar balik fakta kalau dia hanya formalitas saja menikah denganku demi status Tomi. Padahal aku menikah dengan istriku dalam keadaan sudah punya anak Tomi. Saat kami menikah usia Tomi belum genap 6 bulan. Tomi adalah bayi yang dilahirkan istriku hasil hubungan gelapnya dengan lelaki berkebangsaan Pakistan sewaktu di Hong Kong.

Aku mengenal istriku saat itu jauh sekali dengan yang sekarang. Saat aku baru saja kenal, istriku tidak pernah menutupi keberadaan Tomi. Dia mengaku di cekoki minuman keras kemudian dicabuli oleh pria Pakistan saat berlibur bersama seorang temannya sesama BMI yang memiliki pacar Pakistan. Dia bercerita nyaris akan menggugurkan kandungannya lantaran merasa malu dengan kehamilannya yang tidak diinginkan. Namun nurani keibuannya melarang sebab bayi yang dalam kandungan tersebut tidak memiliki salah dan dosa atas kehamilan istriku saat itu.

Akhirnya istriku memutuskan untuk merawat hingga bayinya lahir. Saat usia kehamilannya memasyki bulan keempat, kontrak kerjanya habis, kemudian dia pulang ke Indonesia. Pulang ke kampung halamannya di sebuah kota di pesisir utara Jawa Tengah dengan segala resikonya. Resiko ditolak keluarga sampai resiko menjadi buah bibir masyarakat di desanya harus dia telan seutuhnya.

Meskipun awalnya juga masih tetap menjadi gunjingan, tapi aku bersyukur perlahan pernikahan kami pelan pelan mampu menghapus pandangan miring atas masa lalu kelam istriku. Setelah menikah aku memboyong istriku ke kampung halamanku di Lamongan Jawa Timur. Di Lamongan kami tinggal serumah dengan ibuku. Sedangkan kedua saudaraku masing masing telah memiliki kehidupan di luar kota Lamongan. Aku tetap bekerja menjadi sopir sebuah perusahaan ekspedisi ternama di negeri ini, sedangkan istriku menjadi ibu rumah tangga yang fokus mengurusi anak dan rumah termasuk ibuku.

Setahun perjalanan rumah tangga kami, istriku mengutarakan niatnya untuk kembali bekerja ke Hong Kong dengan alasan memperkuat pondasi ekonomi dan supaya punya modal untuk investasi. Memang dengan penghasilanku sebagai sopir, tentu jika menginginkan target investasi bisa memiliki sawah dan modal usaha rasanya mustahil. Karena itulah aku mengijinkan istriku setelah ibuku dan kedua mertuaku juga merestui untuk berangkat bekerja ke Hong Kong dengan catatan hanya untuk 4 tahun saja paling lama. Dan istrikupun menyepakatinya.

Sesampai di Hong Kong, komunikasi antara aku dengan istriku tidak ada masalah. Namun cobaan harus terjadi, begitu selesai masa potong gaji, istriku harus menerima PHK sepihak dari majikannya lantaran mereka akan berpindah domisili ke negara lain. Istriku kembali ke agen, kemudisan oleh agen yang menyalurkan bekerja istriku disuruh menunggu sampai dapat job baru di Makau.

Tiga bulan menunggu tak kunjung ada kepastian, lama kelamaan istriku malah mendapat job pekerjaan di Makau sebagai waitres di sebuah restoran. Tanpa pikir panjang istriku langsung mengambil peluang tersebut dengan pertimbangan untuk menunggu job di Hong Kong lagi masih harus berspekulasi. Selain itu tinggal di Makau tanpa ada pemasukan merupakan sebuah masalah tersendiri. Mendapat kabar tersebut aku ikut senang. Dari kampung halaman aku berdoa supaya istriku dimudahkan dan diberi kelancaran dalam bekerja.

Masalah mulai terjadi saat 6 bulan istriku bekerja di restoran. Entah karena sebab apa, komunikasi diantara kami menjadi tidak sehat, bahkan semakin tidak sehat. Aku merasa menjadi serba salah, istriku selalu menimpakan kesalahan padaku tanpa aku ketahui apa sebabnya dan dimana letak kesalahannya. Aku selalu menjaga bahkan berusaha agar jalinan komunikasi menjadi sehat kembali seperti sedia kala. Aku seringkali mengalah, berkirim SMS dulu untuk menanyakan sedang sibuk apa tidak, kemudian aku baru menelpon jika mendapat jawaban tidak sedang sibuk dan bisa menerima telpon.

Namun anehnya, jika sudah jam pulang kerja dan dalam perhitunganku istriku sudah kembali ke rumah kosnya, istriku selalu mematikan HP nya. Padahal semestinya istriku punya waktu longgar tanpa terganggu dan mengganggu pekerjaan apabila menerima telpon dari aku. Waktu dimana istriku bisa menerima telpon hanyalah selalu pagi hari saat dalam perjalanan akan berangkat ke tempat kerja atau malam hari dalam perjalanan akan pulang ke rumah kos nya.

Komunikasi yang tidak sehat ini sulit aku perbaiki. Semakin hari semakin memburuk hubungan kami. Ada saja kesalahan yang dialamatkan kepadaku oleh istriku. Aku yang pekerjaanku sebagai sopir jarak jauh tentu dalam jam-jam tertentu saat aku mengemudi tidak mungkin menerima telpon. Selain mempertimbangkan faktor keselamatan, peraturan perusahaan memang juga melarang hal demikian. Tapi istriku tiba-tiba menjadi tidak mau tahu akan hal ini.

Hubungan kami retak, dua tahun istriku bekerja di Makau, komunikasi diantara kami benar benar terputus. Nomer HP istriku sudah tidak pernah aktif lagi. Aku tidak tahu harus menghubungi ke nomer berapa, selain hanya pasrah menunggu yang bisa aku lakukan. Menunggu penuh dengan tanda tanya, menunggu sembari menyimpan kejanggalan kejanggalan.

SELANJUTNYA

You may also like...