Gus Muwafiq: Muslim yang Baik Tidak Seharusnya Meremehkan Wabah

Prime Banner

ApakabarOnline.com – Ahmad Muwafiq, biasa disapa Gus Muwafiq adalah ulama kharismatik Yogyakarta. Ia selalu tampil sederhana, begitupun ucapannya. Gus Muafiq percaya, perubahan zaman akan mengantarkan umat manusia pada peradaban yang akrab dengan teknologi.

Laki-laki yang gemar bermain gitar ini, bisa dibilang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang komplit. Di samping memiliki pemahaman agama yang luas, pengetahuannya tentang sejarah, sosial, dan politik juga mumpuni.

Darah seni juga sangat tampak pada sosok 46 tahun itu. Ia suka memainkan lagu-lagu perjuangan. Senang memakai kaos oblong, rambut gondrong terurai ala-ala aktivis mahasiswa, hobi beternak ayam jago untuk dipotong setiap malam Jumat, dan sering berdakwah dengan kata-kata yang akrab di telinga anak muda.

Bahkan saat mengisi tausiyah di pengajian pun, Gus Muwafiq tidak neko-neko dalam berpenampilan. Selalu tampil sederhana dengan busana putih polos dan peci hitamnya. Tanpa sorban, tanpa aksesoris yang mencolok. Ia memberikan penjelasan dengan istilah-istilah yang sederhana agar mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.

Kesederhanaan membuat pengasuh salah satu pondok pesantren di Sleman itu sangat digandrungi oleh santri-santrinya, terutama mahasiswa di Yogyakarta. Padahal, ia bukan termasuk dalam generasi pendakwah muda yang sering menghiasi layar gawai kita. Jarak antara Gus Muwafiq dan generasi milenial bisa dibilang cukup jauh.

Lahir di Lamongan, Jawa Timur, 2 Maret 1974, Gus Muafik menghabiskan masa remaja di beberapa kota untuk memperdalam ilmu agama. Pernah mondok di Pesantren Lirboyo (Kediri) dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (Probolinggo).

Tahun 1990, ia melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sampai tahun 2001. Saat kuliah itulah ia banyak terlibat dalam gerakan aktivis mahasiswa yang menentang rezim Orde Baru. Ia dikenal sangat lantang saat berorasi.

Aktif di Senat Mahasiswa dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa terbesar di IAIN. Bahkan sampai saat ini Gus Muwafiq menjadi salah satu sosok panutan kader PMII di Yogyakarta.

Puncak karier organisasinya terjadi ketika Muwafiq muda dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. Pencapaiannya itu menarik perhatian K.H. Abdurrahman Wahid. Ketika Gus Dur diangkat menjadi presiden, Gus Muwafiq dipercaya menjadi asisten pribadinya.

Sederet pengalaman di dunia aktivis mahasiswa itulah yang membuat Gus Muwafiq sangat ramah terhadap anak-anak muda. Ia mengatakan, hampir setiap hari selalu ada saja santri-santri mahasiswa yang sowan ke kediamannya di Perum Jombor Pratama, Sleman, Yogyakarta.

Gus Muwafiq selalu berusaha meluangkan waktunya bagi mereka. Ia menaruh harapan yang tinggi terhadap anak-anak muda Indonesia. Bahkan di tengah kesibukannya mengisi pengajian bulan Ramadhan, ia masih bersedia meluangkan waktu untuk diwawancarai oleh law-justice.co melalui sambungan telepon.

Berbincang selama kurang lebih satu jam, Kiai Muwafiq menyampaikan pesan kepada seluruh umat muslim di Indonesia, agar bisa beradaptasi dengan kondisi krisis akibat pandemi COVID-19. Kita harus terbiasa mengubah perilaku sosial, kendati sedang berada di puncak perayaan hari besar Idul Fitri 1441 H, katanya.

Gus Muwafiq menuturkan, pandemi virus corona benar-benar telah mengubah tatanan hidup seluruh manusia di dunia. Bahkan negara maju di Eropa dan Amerika pun lumpuh tak berdaya menghadapi makhluk yang ukurannya 4000 kali lebih kecil dari rambut manusia.

“Terlepas dari cara pandang sebagian orang yang menyebut corona ini konspirasi, pergerakan COVID-19 ini bukan mitos atau hoaks. Jutaan orang yang mati itu memang benar-benar ada,” kata Gus Muwafiq, Selasa (19/05/2020).

Ia menegaskan, seorang muslim yang baik tidak seharusnya meremehkan wabah, karena Nabi Muhammad SAW telah memerintahkan manusia untuk menjauhkan diri jika ada wabah di suatu negeri. Agama Islam telah jelas mengatur bagaimana umat muslim seharusnya bersikap dan beribadah di tengah pandemi.

“Dalam beribadah sebetulnya tidak ada masalah. Islam punya jalan keluar yang pernah dicontohkan langung oleh Rasulullah. Ibadah memilik dimensi pribadi, tanpa harus membuat sistem sosial dengan banyak orang,” ujar dia.

Hanya saja, lanjut Gus Muwafiq, ibadah menjadi lebih rumit jika dikaitkan dengan budaya dan tradisi di suatu masyarakat. Umat muslim di seluruh dunia terbiasa memeriahkan hari raya besar dengan sistem sosial yang bersifat komunal. Hal itu tidak terlepas dari sejarah syiar agama Islam hampir di semua negara. Komunitas seolah-olah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam beribadah.

“Gerakan-gerakan inilah yang sekarang sedang berhadapan dengan keinginan untuk memutus mata rantai COVID-19. Tradisi berkerumun dan berkumpul di hari raya berbenturan dengan aturan physical distancing,” kata Gus Muwafiq.

Situasi ini membuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak gampang untuk diterapkan. Masyarakat belum sepenuhnya sadar akan bahaya wabah saat saling berkerumun. Di samping itu, ada tuntutan ekonomi yang memaksa seseorang untuk tetap beraktivitas seperti biasanya.

Menurut Gus Muwafiq, pada titik inilah kita semua harus bisa menyesuaikan diri. Teknologi digital menjadi salah satu solusi yang bisa mengatasi masalah sosial umat muslim di hari raya Idul Fitri. Kita sebetulnya sudah berada pada masa di mana teknologi mampu hadir untuk menggantikan ruang-ruang pertemuan antar manusia.

Ia mengatakan, setidaknya dalam 10 tahun terakhir umat manusia sudah mulai melakukan lockdown diri, dengan adanya fasilitas teknologi komunikasi. Secara tidak sadar, sebetulnya kita telah terbiasa untuk saling berhubungan tanpa harus bertatap muka. Bahkan seseorang bisa mendapat teman baru tanpa harus keluar rumah. Sesuatu yang mustahil terjadi sebelum adanya era media sosial.

“Kalau bahasanya anak-anak, dulu mengintip orang mandi harus ke sungai. Sekarang bisa hanya di dalam kamar…hehehee,” canda Gus Muwafiq.

“Artinya, peradapan baru ini sudah “mengunci” manusia sejak beberapa tahun yang lalu. Adanya COVID-19 ini bisa dibilang sebagai finishing touch. Seharusnya kita bisa lebih terbiasa dengan situasi seperti ini,” imbuh dia.

Gus Muwafiq berharap, pada momen hari raya Idul Fitri tahun ini, umat muslim Indonesia mampu memaksimalkan teknologi untuk menjalin komunikasi dengan kerabat. Jangan memaksakan diri untuk saling bertatap muka, karena bisa memperburuk situasi dan membuat proses pemulihan pandemi menjadi semakin lama. Ia percaya, akan muncul inovasi-inovasi baru untuk menyelesaikan masalah sosial yang saat ini tengah kita hadapi.

“Saya sendiri, sejak 14 Maret sudah menghentikan semua aktivitas Tabligh Akbar. Padahal jadwalnya padat, harus kemana-mana sampai hari ini. Ya sudah, harus berhenti. Alhamdulillah semuanya mengerti,” ucap dia.

Sebagai gantinya Gus Muwafiq mengisi tausiyah Ramadhan melalui sambungan video call atau dengan difasilitasi berbagai channel media sosial. Ia percaya, hal itu juga bisa menjadi solusi bagi da’i atau ustadz yang terdampak COVID-19. Sudah tidak bisa dinafikan lagi, media sosial kini menjadi sarana efektif untuk mensyiarkan ajaran agama.

Berbicara soal dakwah di media sosial, apakah Gus Muwafiq tidak khawatir dengan pesan yang berpotensi tidak tersampaikan dengan baik? Ia sendiri pernah tersandung masalah, ketika video ceramah di Youtube justru dianggap sebagian orang menghina Nabi Muhammad SAW.

“Untuk sementara, pasti banyak sekali yang perlu dikhawatirkan. Soal sanad ilmu, pasti tidak mudah tersampaikan. Tidak ketemu sama guru, membuat adab orang belajar juga pasti kurang. Tapi nanti juga akan terbiasa dan ketemu metode-metode baru. Secara alamiah pasti ada cara bagaimana menyampaikan ilmu agama secara jarak jauh,” jawab dia.

Begitulah sosok Gus Muwafiq. Kiai nyentrik yang sangat percaya bahwa perubahan zaman pada akhirnya akan memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi umat manusia. Ia menegaskan, Islam harus ambil bagian. Umat muslim tidak seharusnya membawa agama ini ke arah peradaban yang mundur. [Januardi/Reko]

You may also like...