Prime banner

Siapakah kiranya yang tidak sayang keluarga? Sudah pasti jawabannya adalah sayang keluarga sehingga terkadang waktu seolah tidak cukup bersama dengan mereka disebabkan berbagai hal dalam kondisi yang perit terutama faktor ekonomi antara pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang dari hasil suatu pekerjaan atau bahkan tidak mempunyai pekerjaan tetap dan masa depan yang suram dalam suatu kehidupan saat ini. Dunia semakin maju dengan berbagai pembangunan yang telah berdiri seiring harga barang-barang begitu mahal harganya sehingga mau tidak mau salah satu atau beberapa ahli keluarga nekad mencari nafkah dan mata pencaharian di luar negri. Dengan berbagai resiko dan konsekuensi yang dihadapinya membuat keluarga yang ditinggal merasa was-was dan khawatir akan keberangkatan Pahlawan Devisanya yang menyebrangi lautan dan melintasi gunung yang menjulang.

Ada tangisan airmata yang terisak pilu saat kerinduan begitu menyayat hati ketika keluarga yang ditinggal pergi dan ahli keluarga yang di luar negri merasa hambar dan sepi. Apalagi ditambah dengan masalah-masalah kehidupan mereka yang belum tuntas diselesaikan. Kehidupan dunia yang memaksa mereka harus mengorbankan jiwa dan raga demi sesuap nasi yang dipungut dari berbagai pekerjaan serabutan. Dari yang menjadi kuli, pembantu rumah, cleaning servis, pedagang, dan berbagai profesi lainnya. Siang dan malam mereka para Pahlawan Devisa menghadapi berbagai resiko saat di luar negri yang jauh dari sanak keluarga. Begitu banyak kejadian dan peristiwa pahit yang menimpa mereka terutama PMI yang sedikit beruntung atau bahkan apes harus menerima perlakuan keji dari seorang majikan. Ada yang disiksa, dianiaya, ditipu, bahkan hingga ada yang terbunuh ketika saat bekerja. Diperkosa, dilecehkan, dimaki dan dihina adalah menjadi santapan sehari-hari kepada mereka sang Pahlawan Devisa. Bahkan ada yang tidak digaji, dikhianati teman dan rekan bahkan mereka para TKI dan TKW seolah dipandang sebelah mata dan martabatnya tidak dihargai sama sekali. Sungguh sangat miris kenyataan pahit itu yang harus diterima dan dirasakan sepanjang perjalanan meninggalkan keluarga demi bisa membahagiakan keluarga yang ada di kampung halaman. Mereka semua pasrah dalam keperitan hingga nyawa terlepas dari badan.

[Citizen Journalist] Diludahi Majikan, Sulami Tetap Tersenyum Penuh Kasih Sayang

Fakta itu juga menjadikan mereka para Pahlawan Devisa menjadi pribadi yang kuat dan bermental baja dalam mengarungi kehidupan di rantau yang sengit persaingan dan kejam. Bahkan tidak sedikit sebagian mereka yang pulang ke kampung halaman tidak mendapatkan apa yang mereka impikan, ngenes dan mentok dengan gaji pas-pasan yang tidak cukup menghidupi kebutuhan keluarga. Meski demikian mereka tidak mudah putus-asa dan mensyukuri rezeki yang sedikit asalkan pulang dengan selamat dari negri jiran. Bisa melewatkan waktu bersama dengan keluarga meski hanya sebentar adalah kebahagiaan yang tak terkira dan amat berharga. Meluapkan rasa rindu yang teramat dalam setelah lama tidak berkumpul bersama. Bahkan saking kangennya mereka pun tak segan-segan mengungkapkan segunung rindu dengan airmata bahagia.

Namun di sisi lain ada juga para PMI ketika di luar negri justru malah mencemarkan nama baik keluarga dan negara. Sebagian mereka di sisi yang negatif justru dibuat ajang kebebasan yang tak terbendung dan melampui batas seorang manusia yang berakal dengan cara-cara buruk, hingga sering kita dengar ada sebagian dari mereka meninggal dunia dalam keadaan tragis dan konyol yang tidak sempat membahagiakan keluarga yang menantikan kepulangannya. Sangat miris dan memprihatinkan bagi kita semua. Kelompok sisi negatif itu melampiaskan letih dengan cara berfoya-foya, bersenang-senang dengan sesama rekan yang sejalan dengannya. Mabuk-mabukkan dan sikap-sikap yang tak senonoh (vulgar) yang dimuat dalam media sosial di berbagai aplikasi chatting yang tengah viral di masyarakat sedunia. Kejadian dan fenomena itu telah kita saksikan hingga kita semua mengelus dada dan beristigfar. Aksi postingan demi postingan yang merendahkan dan mencoreng nama baik sanak saudara dan juga negara tempat kelahirannya. Yah, namanya manusia ada yang baik dan ada yang buruk dari segala kekhilafan dan kekurangan mereka masing-masing.

Bibirnya Digigit Anjing Majikan, PMI Ini Dinyatakan Cacat Seumur Hidup

Di sini saya tidak bermaksud membicarakan suatu keburukan seseorang melainkan mengajak anda semua mengambil hikmahnya sebagai mata pelajaran yang berharga untuk bisa kita jadikan pengalaman, agar kita semua bisa menyikapi dengan cara bijaksana dengan hal-hal positif untuk suatu kebaikan. Ada banyak kisah-kisah yang bisa kita lihat di media sosial setiap hari dengan aneka cerita dari para pekerja migran yang bersosial di internet. Terkadang kita semua berpikir: “Mengapa itu semua harus terjadi, meninggalkan sanak famili jauh di perantauan yang terbendung jarak dan waktu?” Bagaimanapun Pahlawan Devisa itu juga manusia biasa yang pastinya bisa khilaf dan tak luput dari dosa-dosa, baik disengaja maupun yang tak disengaja. Sebagai keluarga yang ditinggalkannya ada baiknya senantiasa harus memantau dan mengawasinya setiap hari dengan nasehat-nasehat baik tetapi bukan menggurui atau menghakimi dengan ungkapan santun dan simpatik terhadap mereka semua.

Kita semua juga harus sadar dan mengerti bahwa para Pahlawan Devisa itu adalah sosok yang tegar dan tangguh, yang tak mudah tumbang oleh berbagai keadaan dan penderitaan di sana. Bukan tanpa alasan mereka melakukan dan mengambil keputusan besar dan beresiko untuk berpisah dengan keluarga yang dicintai dan disayanginya. Kita ambil sisi positifnya bahwa sebagian besar di antara mereka pun tak mengharapkan jauh dari keluarga yang ditinggalkan, yang tidak ada waktu kebersamaan. Apalagi para PMI itu dilanda sakit dan kesusahan di luar negri yang tidak ada siapapun selain majikan dan orang-orang asing di kota metropolitan yang begitu liar dan kejam. Mereka semua siap mati di tengah perjalanan, siap menderita dengan berbagai kekurangan. Mereka berbekal keberanian, tekad, impian dalam hatinya, dan juga bahkan nyawa. Tidak mudah hidup di negara orang yang krisis rasa simpati dan kepedulian antar sesama manusia. Bahkan tragisnya para calo-calo mengambil kesempatan kepada Pahlawan Devisa dengan cara yang tak berprikemanusiaan.

Demi Carikan Biaya Suami Ke Taiwan, Ihtiyar Y Sampai Tangannya Digigit Anjing Majikan

Segala ratapan dan keluh kesah dapat kita lihat dan dengar dari untaian tulisan hati mereka di layar kaca, sayu mata memandang itu semua yang membuat iba dalam hati. Adakah ia merupakan takdir sebagai masyarakat kecil yang terpinggirkan oleh kebijakan pemerintah dalam negri? Hingga derita itu dirasakan sampai ajal tiba sebelum sempat berpelukan dengan anak-anaknya, sahabat, dengan orangtua yang berada di kampung halaman. Tidak semua PMI itu bejat atau rusak melainkan hanya beberapa individu, maka sungguh tidak pantas apabila ada sebagian yang buruk dari mereka kita semua malah menyamakan mayoritas Pahlawan Devisa seperti itu (sisi negatif) semua. Fenomena dan polemik itu serasa tidak asing lagi kita ketahui, namun justru para PMI selalu dipandang sebelah mata bagi mereka yang tidak tahu kenyataan pahit di lapangan. Adilkah jika kita menghakimi keburukannya tanpa memberikan solusi baik dan pencerahan yang bijak? Sementara mereka semua hanya butuh sedikit rasa simpati dan perhatian tulus dari masyarakat yang non-pekerja migran.

Sudah seharusnya kita menyikapi fakta itu dengan kepala dingin dan membuat pertimbangan bijak sebelum menyalahkan dan menghina para Pahlawan keluarga itu. Coba seandainya kita semua yang ada di dalam negri di posisi mereka semua di tanah perantauan. Ambil hikmah dan kebaikan dari tiap pengalaman dan buang jauh-jauh prasangka buruk mengenai mereka semua. Tidak satu pun manusia di muka bumi yang mau hidup susah dan menderita di negri jiran sebagai buruh, kuli, PRT, cleaning servis, dan berbagai profesi kasar lainnya. Mereka juga saudara kita sesama negara, sesama keyakinan dalam umat beragama. Sungguh sangat tidak pantas kita menganggap mereka adalah sampah masyarakat atau cacian-cacian keji yang dilontarkan kepada mereka semua. Ambil sisi positif bahwa kita juga manusia yang tak lepas dari salah dan dosa seperti mereka, kita juga terkadang jarang introspeksi diri dan lebih hobi menghakiminya tanpa tahu kenyataan sesungguhnya yang dihadapi para pekerja migran di negara tetangga. [Nona JA]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner