Tak Hanya Hong Kong, Makau Juga Terpapar Campak, PRT Asing Asal Indonesia dan Filipina Didesak Segera Lakukan Vaksinasi

Prime Banner

HONG KONG – Ditemukannya kasus campak di Makau dan Taiwan kemarin menjadi kejutan yang menegangkan. Sebagaimana diberitakan RFI, kedatangan seorang PRT asing asal Filipina yang usai melewatkan masa cutinya di kampung halaman untuk kembali bekerja ke Makau dalam kondisi terpapar virus campak membuat otoritas Makau memperketat pemeriksaan kesehatan terhadap siapa saja yang usai bepergian dari luar Makau, terutama dari negara=negara yang dicurigai rentan terhadap epidemi campak.

Kondisi demikian, membuat otoritas Makau mengharuskan setiap pekerja asing yang baru datang, memegang sertifikat bebas dan telah mendapat vaksinasi campak.

Di Hong Kong, pusat perlindungan kesehatan didedak oleh kalangan akademisi untuk segera melakukan langkah kongkrit terkait semakin meningkatnya kasus campak.

Tak jauh berbeda dengan Makau, kondisi di Hong Kong yang sampai dengan saat berita ini diturunkan, kasus campak telah bertambah menjadi 31 kasus membuat He Boliang, direktur Pusat Penyakit Menular dan Penyakit Menular Universitas Hong Kong, angkat bicara di media.

He menganggap semakin mendesak poemberian vaksinasi kepada seluruh PRT asing di Hong Kong utamanya yang berasal dari Filipina dan Indonesia lantaran daerah asal mereka dianggap sebagai daerah yang rentan.

He menyebut, langkah tersebut bukan sama sekali bermaksud untuk melakukan diskriminasi, melainkan sebuah langkah media untuk melakukan penyelamatan.

Terkait dengan masalah pembiayan, He memandang, pemerintah atau majikan menjadi pihak yang menanggung pembiayaan bagi PRT asing yang telah bekerja di Hong Kong agar mereka mendapat vaksinasi campak.

Sedangkan bagi yang akan masuk ke Hong Kong, menjadi sebuah keharusan, masing-masing calon PRT asing divaksinasi terlebih dahulu untuk mengendalikan penyebaran campak menjadi lebih pelik lagi.

Gejala demam, ruam dan batuk pada penderita campak biasanya hanya berlangsung selama beberapa hari, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap enteng virus yang jika dibanding dengan kali pertama ditemukan pada tahun 50-an, saat sekarang telah mengalami berkali-kali mutasi. []

You may also like...