August 11, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Awas, Berkeluh Kesah Dapat Mendatangkan Kafakiran

2 min read

JAKARTA – Setiap orang memiliki persoalan kehidupan yang berbeda-beda. Berat dan ringannya masalah yang dihadapi sangat bergantung pada persepsi individu dan ketahanan mental seseorang. Kadang persepsi batin yang salah juga memunculkan kekhawatiran pada diri seseorang.

Ketahuilah, Allah Swt. menciptakan kehidupan dunia ini dengan segala masalahnya, dengan tujuan yang benar, dan waktu yang telah ditentukan agar kita menjalaninya sesuai peranan masing-masing. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Rum 81, yang artinya:

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.”

Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa Allah Swt. telah menciptakan langit dan bumi dengan segala persoalannya bukanlah tanpa tujuan, dan telah menentukan batas waktu tertentu bagi keberadaan makhluk-Nya di dunia.

Berkeluh Kesah Mendatangkan Kefakiran

Sifat keluh kesah adalah sifat fitrah manusia. Tidak mengherankan bila seseorang, saat mengobrol dengan orang lain, menyelipkan keluh kesah, entah itu tentang pekerjaan, keuangan, keluarga, atau kesehatan. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا

إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًا

Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.

Keluh kesah semacam ini masih dalam batas wajar dan dibolehkan secara syar‘i, seperti curhat kepada teman salih untuk mencari solusi dari persoalan hidup. Namun, berkeluh kesah yang menyalahkan Allah Swt., seolah-olah Allah tidak bersikap adil terhadap hamba-Nya, akan mendatangkan murka Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Barang siapa yang ridha (menerimanya), maka Allah akan meridhainya. Dan barang siapa yang murka (menerimanya), maka Allah murka kepadanya.” (HR. Tirmizi)

Selain mendatangkan murka Allah, berkeluh kesah juga dapat mendatangkan kefakiran karena sama saja dengan meremehkan nikmat Allah Swt. Dengan sebab itu, Allah dapat mencabut nikmat dari seseorang. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia), dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jangan Tinggalkan Salat

Nabi ﷺ sendiri senantiasa mengerjakan salat ketika menghadapi persoalan berat, sebagaimana sabdanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Apabila ada masalah berat, Nabi ﷺ mengerjakan salat.” (H.R. Ahmad; lihat Shahih Sunan Abi Dawud)

Dengan salat, hati menjadi tenang, dan masalah yang berat terasa lebih ringan. Allah Swt. berfirman:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra‘d: 27–28)

Karena itu, perbanyaklah sujud kita kepada Allah Swt., niscaya Allah akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita semua. []

Penulis : Ridwan Ma’ruf; Oleh Ridwan Ma’ruf: Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah  (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply