November 24, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Bagi-Bagi Jabatan ke Pendukung, Media Hong Kong Sebut Jokowi sebagai “Little Soeharto”

2 min read
Prime Banner

HONG KONGSouth China Morning Post, media mainstream yang berbasis di Hong Kong, menyebut Presiden Joko Widodo sebagai Little Soeharto (Soeharto Kecil) dalam sebuah pemberitaannya setelah membagikan beberapa jabatan kepada para pendukungnya.

Sejak awal pelantikan, Presiden Joko Widodo telah menunjuk beberapa orang dekat yang ikut membantunya dalam pemilihan Presiden 2019 – 2024.

Beberapa di antaranya adalah Menteri BUMN Erick Thohir. Selain pengusaha, dia sempat menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma`ruf Amin.

Ada juga Kristia Budyarto dikenal sebagai influencer dengan hampir 100.000 pengikut di Twitter juga kini menjadi Komisaris Independen Pelni. Bahkan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman juga menjabat sebagai Komisaris Waskita Karya.

“Secara keseluruhan, setidaknya 17 pendukung Joko Widodo, yang sebagian besar merupakan bagian dari tim resmi kampanye Presiden tahun lalu telah dilantik pada tahun lalu,” tulis SCMP, Rabu (18/11/2020).

Keren, Gegara Aktif Mendukung Presiden di Medsos, Tiga Orang Influencer Ini Diangkat Menjadi Komisaris Pelni dan PLN

Dari ratusan BUMN, gaji para komisaris juga cukup besar antara Rp80 juta hingga hampir Rp3 miliar per bulan. Padahal jabatan komisaris tidak memiliki kekuatan untuk mengeluarkan kebijakan.

Pengamat Politik sekaligus Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo malah menila sebaliknya. Dia malah memandang sebutan ‘Little Soeharto’ kepada Jokowi cenderung bersifat kontradiktif.

Dia menilai Jokowi cenderung kompromis dan seorang moderat dalam menjalani pemerintahan, bukan otoriter. Dia bahkan menyebut posisi Jokowi sebagai kepala pemerintahan cukup lemah karena lebih terbuka menanggapi berbagai gejolak dalam negeri.

“Padahal Presiden seharusnya bisa mengambil sikap tegas pemerintah dalam hal ini, tapi kan tidak demikian. Negara menurut saya lemah. bukan otoriter,” katanya dikutip dari JIBI, Rabu (18/11/2020).

Pada masa Soeharto lanjutnya, tokoh kritis bisa ditahan. Sementara itu, tokoh kritis masa sekarang tetap dibiarkan menyampaikan suaranya. Beberapa di antaranya adalah politisi Gerindra Fadli Zon dan politisi Partai Gelora Fahri Hamzah. []

Advertisement

Leave a Reply