October 21, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

[CURHAT] Gegara Corona, Dari Setahun Suami Menganggur di Luar Negeri, Hingga Takut Bertemu Mertua

3 min read
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Banyak yang keuangan rumah tangga hancur karena Corona? Kalau iya, kita senasib. Semenjak awal tahun, suami yang bekerja merantau sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia tak lagi bisa mengirimi uang bulanan.

Sedih iya, tapi rasanya enggak adil kalau harus menyalahkan suami dalam kondisi seperti ini. Kebetulan, suami harus perpanjang kontrak di bulan Januari. Alasan administrasi dan perizinan lainnya membuat proses perpanjangan memakan waktu lama. Tapi apesnya, saat akan tekan kontrak di bulan Maret, malah kena badai Corona.

Suami dijanjikan tetap bekerja, namun nyatanya tidak ada kejelasan hingga hari ini. Sisa gaji dibagi dua olehnya. Sebagian dikirim ke kampung untuk anak dan istrinya. Separuhnya lagi ia gunakan sebagai pegangan untuk bertahan hidup di sana.

Saat itu, kami tidak menyangka kalau Corona ini berkepanjangan dan akan berdampak banget pada kehidupan kami. Suami memilih bertahan di Malaysia, dengan harapan akan bekerja lagi dalam waktu dekat.

Tak terasa sudah tujuh bulan berlalu, ternyata suami masih saja nganggur. Untuk bertahan hidup, suami akhirnya mengambil kerja serabutan. Apapun ia kerjakan demi mengumpulkan uang. Semua pekerjaan kasar pun rela dilakukannya.

Hingga akhirnya, bulan lalu, orang tua ku menanyakan kabarnya. Ayahku mengatakan sering bermimpi buruk tentang suamiku. Awalnya bermimpi baju suamiku sobek. Lalu, mimpi lagi jika punggung suamiku berdarah-darah.

Aku memilih untuk enggak ambil pusing dengan mimpi ayahku. Memikirkan uang popok buat anak saja sudah puyeng bukan main. Enggak tega rasanya kalau harus menceritakan hal-hal enggak penting seperti ini.

Tapi, ketika kakak perempuan suami alias kakak iparku bercerita hal yang sama. Pikiranku mulai kacau. Kakak ipar mengatakan sudah tiga mimpi suami digigit ular, hingga diantar pulang oleh orang tak dikenal. Waduh, ketakutan mulai menyergapku.

Keluarga pun memintanya untuk pulang, karena sudah hampir 3 tahun dia tidak pulang. Apalagi sejak kelahiran anak kami, ia pun belum pulang untuk menjenguk. Bahkan, anak kami belum sempat di-akikah karena keterbatasan biaya.

Suami yang awalnya tak punya ‘muka’ untuk pulang dengan tangan kosong akhirnya nekat pulang kampung. Dia sempat mengulur-ulur waktu untuk pulang, alasannya tentu mencari uang untuk membeli tiket.

Akhirnya, karena tak tega aku pun meminjam uang dari sahabat untuk membelikannya tiket pulang. Tak sanggup untuk kami (aku dan suami) bercerita kepada keluarga. Rasanya beban kalau menceritakan kondisi keuangan kami yang sangat ‘ngenes’.

Apalagi keluarga besar dan orang di kampung tahunya, kalau sudah merantau ke luar negeri pasti banyak uang. Sudah menjadi hal umum kalau TKI dari Malaysia bisa membangun rumah gedongan di desa. Tapi ini kok, malah pulang membawa utang.

Sesampainya di rumah, Corona sedikit menolong kami dengan alasan social distancing. Jadi, suami tidak perlu bersilaturahmi ke rumah saudara satu per satu sambil membawa oleh-oleh.

Namun, mau tak mau suami harus tetap ayah dan ibuku. Setelah seminggu berlalu, suami akhirnya ditagih untuk segera melaksanakan syukuran akikah anak yang sudah berusia setahun lebih.

Alamak, uang dari mana untuk membeli dua kambing. Ya, Bunda, anak kami laki-laki. Jadi harus menyediakan uang untuk membeli dua kambing. Suami akhirnya mencoba menghubungi semua teman-temannya untuk meminjam uang. Tapi, dalam kondisi seperti ini semua juga sedang kesulitan uang.

Akhirnya, suami memohon kepadaku untuk tinggal di rumah orang tuanya dulu. Kami beralasan ingin membawa anak ke rumah nenek dan kakeknya yang terletak di kecamatan sebelah. Suami akhirnya benar-benar menghindari orang tua karena didesak habis-habisan untuk akikah anak.

Imbasnya, dia jadi pemurung dan merasa bersalah padaku dan si kecil. Melihat wajahnya jadi tak tega karena seperti benang kusut. Mau balik ke Malaysia pun percuma karena belum ada kabar apa-apa soal pekerjaan. Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah bersabar, berdoa, dan ingin memulai usaha makanan kecil-kecilan di teras rumah mertua. Doakan agar membuahkan hasil ya, Bunda.

Sumber Majalah Hai Bunda

Advertisement

Leave a Reply