September 18, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Gaji Belum Dibayar, 20 Hari Tidak Bisa Berkomunikasi Dengan Majikan yang Dirawat Karena Positif Corona

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

HONG KONG – Sunarsih (35) seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di rumah majikannya kawasan North Point menuturkan pengalaman langkanya. Selama 11 tahun bekerja di Hong Kong, pandemi corona menjadi pengalaman tersendiri baginya. Pasalnya, Sunarsih harus mengambil alih peran majikannya di rumah untuk mengelola rumah tangga, bahkan mengambil keputusan penting terkait dengan tiga anak majikannya saat kedua majikannya dikarantina karena positif corona.

“Majikan saya, suami istri harus dirawat di rumah sakit. keduanya bergejala, dipasangi peralatan macam-macam katanya” tutur Narsih, panggilan akrab janda dengan satu anak asal Madiun ini.

Narsih mengaku, selama ini sejak sebelum terjadi pandemi, dirinya sudah bekerja di majikannya yang terakhir selama 5 tahun.

“Majikan yang sekarang ini majikan kedua. Yang pertama dulu 6 tahun, yang kedua ini sudah 5 tahun” akunya.

Di majikannya yang kedua, sehari-hari Narsih disamping mengurusi pekerjaan dapur dan rumah, sebelum pandemi dirinya juga memiliki tanggung jawab mengantar dan menjemput anak majikannya yang kedua pergi dan pulang dari sekolah.

“Anak majikan yang paling besar umurnya sudah 12 tahun, yang kedua 7 tahun dan yang paling kecil baru dua tahun” lanjutnya.

Tanpa diduga, awal Desember tahun 2020 kemarin, majikan Narsih divonis positif corona, kemudian dirawat inap di rumah sakit dan tidak bisa lagi dihubungi karena kondisinya bergejala.

“20 hari saya dan anak-anak majikan tidak bisa menghubungi majikannya karena kondisinya katanya bergejala dan dipasangi alat macam-macam, baru hari ke 21 bisa berkomunikasi dan mereka bilang nitip anak-anaknya, minta diuruskan anak-anaknya.” terang Narti.

20 hari pertama saat majikannya dirawat merupakan hari-hari yang berat untuknya. Pasalnya, gaji belum dibayar, dan dengan terpaksa dia harus menanggung beban biaya hidup 3 orang anak majikan.

Ditengah situasi demikian, dengan terpaksa Narsih harus menggunakan uang sisa gajinya yang dia pegang untuk menghidupi ketiga anak majikannya. Bahkan, setelah hanya bertahan seminggu karena uang di tangannya sudah menipis, Narsih sempat meminjam uang kepada dua orang rekannya sesama PMI untuk menalangi kebutuhan hidup ketiga anak majikannya.

“Yang ada dalam pikiran saya hanyalah perasaan tidak tega. Mereka masih anak-anak yang setiap hari butuh ini dan itu selain makan dan minum susu.” aku Narsih.

“Beberapa teman saya ada yang menyarankan untuk ditinggal saja, ada pula yang menyarankan untuk tidak menanggung kebutuhan anak-anak majikan. Tapi hati kecil saya tidak tega, mereka sudah seperti anak-anak saya sendiri meskipun yang nomor dua itu bengalnya setengah mati” tutur Narsih.

Beruntung, awal Januari 2021, saat kedua majikannya telah dinyatakan sehat dan aman untuk pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga, pertanyaan pertama yang disampaikan oleh majikan mereka bukan bagaimana kabar Narsih dan anak-anak, tapi mereka menanyakan pemenuhan kebutuhan hidup ketiga anaknya.

“Masuk ke rumah, majikan langsung tanya, anak-anak saya bisa makan dari mana, mereka kelaparan apa tidak, juga kepada ketiga anaknya, majikan bertanya mereka setiap hari bisa makan apa tidak, makan dari mana” tutur Narsih.

Setelah Narsih menceritakan semuanya, tangis haru majikan perempuan tak bisa ditahan.

“Majikan perempuan langsung nangis memeluk saya, bilang berterima kasih, bilang berhutang nyawa” lanjutnya.

Tak hanya itu, majikan Narsih juga bertanya siapa kedua teman Narsih yang telah meminjami uang untuk kebutuhan ketiga anaknya selama dia menjalani perawatan.

“Diluar dugaan, bulan Januari, selain gaji Desember dan Januari, majikan saya ngasih uang HKD 10 ribu, katanya ini hadiah untuk saya.” tutur Narsih.

Kedua teman Narsihpun saat hari raya Imlek juga dikasih uang oleh majikan Narsih masing-masing sebesar HKD 2 ribu sebagai angpao selain mengembalikan uang yang dipinjam Narsih untuk ketiga anaknya.

“Ini pengalaman pertama paling mendebarkan selama 11 tahun saya bekerja di Hong Kong. 20 hari tidak bisa berkomunikasi dengan majikan, bagaikan 30 tahun lamanya. Beruntung, Allah SWT menjaga kami dan memudahkan saya bekerja menjaga ketiga anak majikan saya” pungkas Narsih. []

Seperti dituturkan Sunarsih kepada Jurnalis ApakabarOnline.com pada Jumat 12 Maret 2020.

 

Advertisement
Advertisement