November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Derita Yatinem dan Yuni, Kerja Jadi PMI Untuk Sembuhkan Lumpuh Anaknya, Setiap Kirim Uang Malah Dihabiskan Suaminya

3 min read
-

SEMARANG – Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah gambaran yang mengiaskan apa yang dialami oleh Yatinem, mantan PMI asal Pabelan Semarang ini.

Berawal dari insiden jatuh dari sepeda saat menggendong Sri Wahyuni putri sematawayangnya, Yuni terpaksa harus pergi jauh menjadi pekerja migran ke luar negeri, lantaran desakan ekonomi yang dihadapi membuatnya tidak sanggup lagi mencarikan biaya pengobatan Yuni dan untuk hidup sehari-hari.

Peristiwa tersebut diungkap oleh Bambang Setiawan, salah seorang pegiat kolom Kompasiana yang ditayangkan pada 12 Oktober 2021.

Menukil dari tulisan Bambang, Seharusnya, Yuni (begitu biasa disapa), saat ini sudah dinikahi pemuda idamannya atau minimal tengah bercengkrama dengan teman-teman sebayanya sembari menebar pesona. Sayang, kecelakaan kecil 26 tahun silam, merenggut segala kebahagiaannya.

“Waktu usia 9 bulan, Yuni saya gendong ketika saya naik sepeda onthel,” kata Yantiyem (48), ibu kandungnya saat ditemui Bambang Setyawan selaku “komandan” Relawan Lintas Komunitas (Relintas) Kota Salatiga.

Malangnya, lanjut Yantiyem, kendati laju sepeda pelan, namun, posisi jatuhnya Yuni berakibat fatal. Sebab, bagian punggung bayi itu menghantam tanah lebih dulu.

“Karena saya periksakan di Kota Salatiga tak membawa hasil, akhirnya saya periksakan ke Rumah Sakit Ortopedi Surakarta. Hasilnya, punggung Yuni tidak mungkin disembuhkan,” ungkapnya.

Semenjak peristiwa tersebut, pertumbuhan Yuni makin tak normal. Di mana, selain punggungnya terlihat menonjol, dua kakinya juga mengalami kelumpuhan.

Sampai usia 2,5 tahun, Yantiyem yang terdesak kebutuhan ekonomi, akhirnya berangkat ke luar negeri menjadi PMI. Sedangkan Yuni diasuh almh neneknya.

Hampir 10 tahun Yantiyem meninggalkan putri semata wayangnya. Saban bulan, ia rutin mengirim uang ke kampung halaman. Harapannya, kelak, bila usai kontraknya, bakal memiliki tabungan untuk mengobati Yuni sekaligus modal usaha.

“Kenyataannya, kiriman saya tiap bulan itu malah disalahgunakan suami saya,” jelas Yantiyem.

Penyelewengan hasil kerja keras berpuluh tahun tersebut, ungkap Yantiyem, berujung pada perceraian. Setelah ia pulang ke kampungnya, sisa tabungan dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah. Sembari mengasuh Yuni, setiap hari Yantiyem membuat keranjang ikan asin berbahan bambu dengan upah Rp 7.000 untuk 100 keranjangnya.

 

Belajar Baca Tulis Otodidak

Dengan penghasilan yang sangat minim, Yantiyem tak mungkin mampu menyekolahkan Yuni ke sekolah luar biasa. Apalagi, tempat tinggalnya lumayan jauh menuju Kota Salatiga.

Untungnya, Yuni merupakan anak cerdas. Kendati fisiknya tidak tumbuh normal, namun, otaknya encer. Ketika teman-teman sebayanya belajar, ia ikut nimbrung.

Kadang, dengan didampingi seorang pamannya, Yuni belajar mengenal huruf dan merangkainya. Sampai akhirnya, gadis malang itu mampu baca tulis, bahkan bisa juga berhitung.

Sangat sulit membayangkan semisal Yuni tak piawai membaca mau pun menulis, apa lagi di era teknologi informasi yang pesat seperti sekarang.

“Satu-satunya hiburan Yuni ya hanya handphone jadul, dia setiap saat, sembari berbaring menyimak facebook atau berita-berita di dunia maya. Kalau handphonenya rusak, ya alamat seharian hanya tiduran,” kata Yantiyem.

Memang, ketika Bambang Setyawan menjenguk Yuni di kamarnya, gadis itu tengah tiduran dalam posisi miring ke kiri seraya memegang handphone.

Suaranya lirih, sementara dua kakinya mengecil. Untuk berbalik, ia harus dibantu ibunya. Begitu pun buang air kecil mau pun besar, tanpa bantuan orang lain, dia tak mampu melakukannya.

Bagian punggungnya nampak sangat menonjol, sehingga mengakibatkan Yuni sulit bergerak, termasuk untuk menggeser kepalanya sendiri. Bila ibunya harus keluar rumah cukup lama, maka, Yuni harus mengenakan pampers.

“Kebetulan, selain membuat keranjang ikan asin, saya juga nyambi momong anak tetangga dengan upah Rp 100.000 perminggu,” jelas Yantiyem seraya menambahkan putrinya tak mampu mengubah posisi tidurnya tanpa bantuan orang lain.

Menjawab pertanyaan tentang adanya bantuan dari negara, Yantiyem menjelaskan, sekitar empat tahun silam, Yuni mendapatkan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 300.000 per bulan.

Namun, sejak tahun 2017, Kartu Keluarga Sejahtera yang jadi andalan, tidak pernah terisi uang. ” Sudah empat tahun macet, entah apa sebabnya,” ungkapnya.

Yang menyedihkan, setelah bantuan itu macet, untuk memenuhi gizi, Yantiyem kerap membelikan susu cair sachetan. Sedangkan makan keseharian, lauknya ya ala kadarnya.

Lho? Ini gimana sih, ada gadis malang yang hanya mampu berbaring miring, negara malah abai. []

Advertisement
Advertisement