Mahasiswa KKN Didorong untuk Suarakan Migrasi Aman ke Desa-desa
2 min read
JAKARTA – Ruang pembekalan di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, tampak dipenuhi ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung dan Universitas Aisyiyah Pringsewu yang bersiap menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di balik semangat pengabdian ke masyarakat, mereka membawa misi yang tidak biasa, menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pesan migrasi aman dan mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Melalui Pembekalan KKN Tematik Perlindungan Perempuan Tahun 2026 yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung pada 27-28 Juli 2026, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Lampung hadir membekali para mahasiswa dengan pengetahuan yang dapat menyelamatkan banyak orang dari praktik perekrutan ilegal.
Bagi sebagian masyarakat, bekerja ke luar negeri masih dipandang sebagai jalan cepat memperbaiki ekonomi keluarga. Namun, di balik janji penghasilan besar, tidak sedikit calon pekerja migran yang justru menjadi korban penipuan hingga perdagangan orang akibat berangkat melalui jalur nonprosedural.
Melihat kondisi tersebut, BP3MI Lampung menilai mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis. Saat menjalankan KKN, mereka hidup berdampingan dengan masyarakat, berinteraksi langsung dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga keluarga-keluarga yang menjadi sasaran empuk para perekrut ilegal.
Kepala BP3MI Lampung, Kombes Pol Mulia Nugraha, mengatakan bahwa pencegahan TPPO tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Kesadaran masyarakat harus dibangun sejak dari lingkungan terkecil, dan mahasiswa dapat menjadi jembatan informasi yang efektif.
“Mahasiswa KKN memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diteruskan kepada masyarakat sehingga semakin banyak warga yang memahami pentingnya bekerja ke luar negeri melalui prosedur yang benar dan mampu mengenali berbagai modus perdagangan orang sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di desa bukan sekadar menjalankan program akademik, melainkan juga membawa misi kemanusiaan. Edukasi sederhana mengenai cara bekerja ke luar negeri secara aman dapat menjadi langkah awal untuk menyelamatkan seseorang dari risiko eksploitasi. Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak ragu melaporkan apabila menemukan indikasi perekrutan mencurigakan selama menjalankan pengabdian.
“Kami berharap mahasiswa dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat bahwa bekerja ke luar negeri harus dilakukan secara legal. Jika menemukan indikasi perekrutan mencurigakan atau dugaan TPPO, segera laporkan kepada aparat atau BP3MI agar dapat ditangani sejak awal,” tambahnya.
Bagi BP3MI Lampung, perlindungan pekerja migran bukan hanya dimulai ketika seseorang telah bekerja di luar negeri. Perlindungan sesungguhnya dimulai jauh sebelum keberangkatan, yakni ketika masyarakat memperoleh informasi yang benar dan mampu membedakan antara peluang kerja yang legal dengan jebakan perdagangan orang.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan mahasiswa KKN, harapan untuk membangun budaya migrasi aman semakin terbuka. Dari ruang kelas menuju desa-desa, para mahasiswa kini membawa bekal yang lebih dari sekadar ilmu akademik, mereka membawa pengetahuan yang dapat melindungi masyarakat, menjaga martabat pekerja migran Indonesia, sekaligus memperkuat upaya bersama dalam mencegah perdagangan orang di Provinsi Lampung. []
