Meraih Kesuksesan dengan Ijazah Tidak Halal, Awas Bahaya Istidraj
4 min read
JAKARTA – Kata Arab istidraj (إستدراج) berasal dari akar kata daraja (درج) yang berarti tingkatan, naik secara bertahap, atau langkah demi langkah.
Kata ini kemudian membentuk kata kerja istadraja (إستدرج) yang bermakna menarik atau mendekatkan seseorang sedikit demi sedikit ke suatu tujuan.
Dalam konteks agama Islam, secara istilah istidraj artinya seseorang dibiarkan menikmati kesenangan, jabatan, atau kekayaan duniawi—meskipun dengan cara curang—tanpa diberikan teguran atau musibah segera, sehingga ia semakin terlena dalam dosa.
Pelaku merasa usahanya “berhasil” dan kariernya menanjak, padahal pencapaian tersebut dibangun di atas fondasi kecurangan dan kebohongan yang terus-menerus.
Gaji dan fasilitas yang didapatkan dari pekerjaan tersebut menjadi tidak berkah karena diperoleh melalui cara yang batil (tidak sah dan menzalimi hak orang lain yang lebih berhak/jujur).
Bahaya istidraj berupa kenikmatan ini menjadi ujian yang perlahan-lahan menjerumuskannya ke dalam azab tanpa disadari.
Contoh, memalsukan ijazah dan gelar untuk mendapat pekerjaan, mengejar karier, naik jabatan, menjadi anggota DPR, calon bupati, wali kota, atau gubernur.
Sukses Bermasalah
Kesuksesan karier, jabatan, dan kekayaan yang diperoleh dengan jalan seperti itu disebutkan dalam firman Allah Ta’ala di surah Al-An’am ayat 44.
فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.
Ayat ini terkandung makna Allah Ta’ala memberikan kepada mereka istidraj dengan cara membuka pintu rezeki seluas-luasnya kepada mereka, memberi kekayaan yang melimpah, mengembalikan kesehatan mereka setelah mengidap penyakit berat.
Mereka jadi sombong dan angkuh atas kenikmatan hidup yang mereka rasakan, tiba-tiba azab datang mendadak. Seketika itu juga mereka kebingungan dan putus asa tanpa ada harapan lagi.
Hadis riwayat Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Nabi Saw bersabda :
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ بَقَاءً أَوْ نَمَاءً رَزَقَهُمُ الْقَصْدَ وَ الْعَفَافَ , وَ إِذَا أَرَدَ اللَّهُ بِقَوْمٍ اقْتِطَاعًا , فَتَحَ لَهُمْ – أَوْ فَتَحَ عَلَيْهِمْ – بَابَ خِيَانَةً ( حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ) كَمَا قَالَ ( فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَ الْحَمدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ )
Jika Allah menghendaki kesejahteraan, atau kemakmuran suatu kaum, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka kesederhanaan, dan kesucian. Dan jika Allah menghendaki kehancuran suatu kaum. Maka Allah akan membukakan bagi mereka pintu-pintu penghianatan, “Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Sebagaimana Allah berfirman, maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya, segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan lainnya)
Hadis itu dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 halaman 215, Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh.
Dari keterangan hadis ini diperoleh penjelasan, pencapaian yang didapat dari ijazah palsu sering kali membuat pelakunya merasa “sukses”, nyaman, dan hidupnya berjalan mulus tanpa hambatan. Padahal Allah sedang membiarkan dia bergelimang dalam kelalaian dan dosa.
Dalam perspektif spiritual Islam, orang yang menggunakan ijazah palsu adalah kecurangan, kebohongan (kizib), dan memakan harta yang haram (suht).
Berikut adalah balasan buruk bagi pelaku yang meraih kesuksesan melalui kecurangan.
Hilangnya Kepercayaan dan Kehormatan (Muru’ah)
Nabi Saw bersabda :
« إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. ( Sahih – Muttafaqun ’Alaihi ).
Hadis ini menggambarkan betapa dekat dan lekatnya kedudukan setan dengan manusia. Sebagaimana darah yang tak pernah lepas dari tubuh, setan juga senantiasa membisikkan kepada pelakunya syahwat yang tidak pernah puas, keraguan, dan kebohongan.
Dan hadis ini juga mengajarkan kepada kita untuk menjaga diri dari kecurigaan atau fitnah dengan selalu mengedepankan adab dan muru’ah (harga diri).
Secara sosial dan spiritual, seorang muslim harus menjaga integritas dan kejujuran. Jika kebohongan tersebut terbongkar, pelaku ijazah atau sertifikat palsu akan kehilangan kredibilitas, rasa hormat dari sesama, dan dapat mencoreng nama baik agamanya.
Beban Mental dan Dosa Berkelanjutan
Selama seseorang bekerja dan menerima gaji berdasarkan ijazah atau sertifikat palsu, ia berada dalam dosa yang terus mengalir (jariyah dalam keburukan).
Posisi, jabatan, atau keputusan yang ia ambil di tempat kerja seringkali didasarkan pada ketidaklayakan ilmu, yang berpotensi merugikan orang lain dan menambah beban dosa.
Namun sebaliknya, jabatan yang ia peroleh sesuai dengan ilmu yang ia miliki, akan tetapi untuk memperoleh jabatan tersebut dengan menggunakan ijazah atau sertifikat palsu maka ia memberikan contoh keburukan kepada orang lain, jika ia tidak segera bertobat maka dosa tersebut akan terus mengalir sampai ajal menjemputnya.
Nabi Saw bersabda :
« ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً، ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ، ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ، ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ، ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺳَﻴِّﺌَﺔً، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭِﺯْﺭُﻫَﺎ ﻭَﻭِﺯْﺭُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ، ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭْﺯَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ
Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah (baik) dalam Islam maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang melakukan sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (Sahih Muslim)
Doa dan Ibadah Tertolak
Harta yang bersumber dari kecurangan menjadi penghalang terkabulnya doa. Rasulullah Saw pernah bersabda dan mengingatkan tentang seseorang yang makan dan minum dari yang haram, sehingga bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. (Sahih Muslim)
Menurut Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Ilmiah Wal Ifta’ atau Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, yakni lembaga resmi pemerintah Arab Saudi yang berwenang mengeluarkan fatwa keagamaan, bahwa, berdasarkan syariat Islam dan tujuan yang luhur, maka perbuatan memalsukan ijazah atau sertifikat untuk memperoleh pekerjaan dan jabatan guna berhasil lolos seleksi, maka tindakan tersebut tidak boleh dilakukan, karena dengan begitu ia telah memperoleh pekerjaan,atau jabatan dengan kebohongan, dan kepalsuan. Ini termasuk larangan, dan kemungkaran serta pembuka pintu keburukan, dan jalan kepalsuan.
Dalil ini merujuk kitab Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq, Jilid. 1, Halaman 638.
Kesimpulan
Bahaya istidraj meraih kesuksesan dengan ijazah palsu akan tercabutnya keberkahan hidup, karena uang dan jabatan yang diperoleh dari perilaku dusta dan tipu-tipu tidak akan mendatangkan ketenangan batin bagi pelakunya.
Kasus ini malah menjadi beban psikis dan fitnah di kemudian hari karena didapatkan dengan cara yang tidak halal dan terhormat. Wallaahu ’alamu bishshawwab. []
Penulis : Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam.
