Logika Sederhana Menghargai Manusia Pelajaran dari Kandungan Surat Abasa
3 min read
JAKARTA – Kita hidup di zaman ketika jarak ribuan kilometer bisa dipangkas dalam satu kedipan layar. Namun sayang, jarak antara dua orang yang duduk satu meja justru terasa sejauh ribuan mil.
Coba pergi ke warung kopi atau rumah makan, lalu perhatikan sebuah ironi yang terjadi setiap hari: kerumunan manusia yang sunyi. Kepala tertunduk, mata terpaku pada layar HP, dan jempol bergerak lincah.
Secara fisik mereka duduk bersama, namun jiwanya mengembara di semesta digital yang berbeda. Terkadang kita lebih menghargai notifikasi dari orang yang jauh, ketimbang mendengarkan manusia bernyawa di hadapan kita.
Fenomena ini akrab disebut sebagai “phubbing.” Kita hadir secara raga, namun absen secara rasa.
Fenomena ini adalah bentuk kebangkrutan empati yang nyata. Coba bayangkan, Kita rela meluangkan waktu, menembus kemacetan jalanan, dan mengeluarkan ongkos demi bisa bertemu seseorang. Namun, begitu sudah saling berhadapan, kita justru saling mengabaikan demi sebuah benda mati.
Ketika kita sibuk bergulir di media sosial saat sedang bersama orang lain, kita ibarat mengirimkan pesan tidak tertulis yang sangat menyakitkan, “Apa yang ada di dalam HP saya jauh lebih menarik dan penting daripada kehadiranmu di sini.”
Padahal dari sisi psikologis, diabaikan oleh orang yang berada tepat di samping kita memicu rasa tidak dihargai yang lebih dalam.
Telepon Genggam
Jauh sebelum teknologi telepon genggam ini merajai dunia, Al-Qur’an telah memberikan teguran psikologis yang sangat halus tentang bagaimana semestinya kita menghargai sesama manusia.
Pelajaran ini diabadikan di awal Surat Abasa, ketika Rasulullah ditegur oleh Allah karena sempat bermuka masam dan memalingkan wajah dari seorang sahabat yang buta, Ibnu Ummi Maktum, yang datang untuk meminta pengajaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ . أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَى
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1-2)
Jika kita bedah latar belakangnya, Rasulullah berpaling bukan karena rasa sombong atau benci. Beliau saat itu sangat sibuk berdiskusi dengan para pembesar Quraisy demi urusan dakwah yang besar.
Beliau berharap para tokoh itu masuk Islam agar dakwah menjadi lebih mudah. Namun, Allah tetap menegur sikap abai yang tidak sengaja itu.
Logikanya sederhana, jika seorang Rasul saja ditegur oleh Tuhan karena memalingkan wajah demi urusan agama, lalu bagaimana dengan kita? Berapa kali kita memalingkan wajah dari anak kita yang ingin bercerita tentang sekolahnya?
Berapa kali kita mengabaikan kalimat pasangan yang sedang lelah butuh didengar? Atau menolak rindu orang tua yang ingin mengobrol, hanya demi melihat video pendek yang sedang viral? Urusan kita hanyalah hiburan kosong, namun kita tega memalingkan wajah dari orang tercinta.
Menghargai lawan bicara adalah bagian dari memuliakan manusia. Rasulullah dalam kesehariannya dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati manusia.
Jika berbicara dengan seseorang, beliau tidak sekadar menengokkan kepala, melainkan memutar seluruh badannya menghadap orang tersebut, menatap matanya dengan hangat, dan mendengarkan dengan sepenuh hati hingga orang itu selesai bicara. Itulah puncak dari sebuah adab komunikasi.
Langkah konkret untuk memperbaiki ini sebenarnya tidak rumit. Cukup mulai dengan prinsip kecil di lingkaran terdekat kita.
Misalnya, buat aturan tegas untuk menyimpan HP di dalam tas atau saku saat makan bersama keluarga, dan beri waktu sepuluh menit pertama tanpa gawai saat baru tiba di rumah demi memberikan penyambutan yang utuh.
Tataplah mata lawan bicara kita dengan tulus saat mereka berbicara. HP diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, bukan menjauhkan yang dekat.
Jangan sampai layar kecil berhasil menyekat kedekatan hati. Mari belajar untuk kembali “hadir” secara utuh, karena rekam jejak digital bisa terhapus oleh algoritma baru, sedangkan luka di hati orang yang diabaikan akan membekas sangat lama. Wallahu a’lamu bisshowaab. []
Penulis : Dwiki Anggaeni Prasetya, Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro
