June 26, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Jangan Menunggu Baik untuk Berbuat Baik

4 min read

JAKARTA – Salah satu jebakan yang sering menghalangi seseorang untuk mendekat kepada Allah adalah perasaan bahwa dirinya belum cukup baik untuk melakukan kebaikan.

Ada yang menunda sedekah karena merasa masih belum kaya. Ada yang enggan aktif dalam kegiatan keagamaan karena merasa ibadahnya belum sempurna. Ada pula yang menunda berhijrah dengan alasan ingin memperbaiki diri terlebih dahulu.

Jika semua orang harus menunggu dirinya menjadi baik untuk berbuat baik, maka banyak kebaikan tidak akan pernah terwujud. Sebab hakikatnya, manusia tidak ada yang sempurna. Setiap anak Adam pasti memiliki kekurangan, kelemahan, dan dosa. Yang membedakan hanyalah kesungguhannya untuk terus memperbaiki diri.

Karena itu, jangan menunggu dirimu baik untuk berbuat baik. Sebab ketika menunggu kesempurnaan yang tidak pernah datang, sesungguhnya kita sedang menunda datangnya kebaikan dan pahala yang telah Allah siapkan.

Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan, dosa bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Justru di tengah keterbatasan dan kesalahan itulah manusia diperintahkan untuk terus memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt.

Tidak sedikit orang yang mencari berbagai alasan untuk menunda ketaatan. Mereka berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.” Ada pula yang beralasan, “Saya masih banyak dosa, belum pantas menjadi orang baik.”

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Tidak ada yang mampu memastikan apakah esok masih diberi kesempatan hidup atau tidak. Allah Swt. berfirman: Dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati. (QS. Luqman: 34)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kesempatan berbuat baik hanya ada pada hari ini. Menunda ketaatan sama saja dengan mempertaruhkan sesuatu yang tidak kita ketahui. Bisa jadi kesempatan yang ada sekarang tidak akan pernah terulang kembali.

Teruslah Berusaha

Meski sadar diri belum menjadi hamba yang sempurna, teruslah berusaha melakukan kebaikan. Teruslah menjaga salat, bersedekah, membantu sesama, menuntut ilmu, dan menyebarkan manfaat. Sebab yang dinilai Allah bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga kesungguhan dan keikhlasan dalam berusaha.

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Seorang mukmin adalah orang yang senantiasa memperbaiki dirinya dan mengoreksi amalnya karena Allah.”

Perjalanan menuju kebaikan memang tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang jatuh dalam kesalahan, lalu bangkit kembali. Ada saatnya ia tergelincir dalam dosa, lalu berusaha memperbaiki diri. Selama semangat untuk kembali kepada Allah masih ada, maka pintu rahmat-Nya tetap terbuka.

Jangan pula menunda berbuat baik dengan alasan masih banyak dosa dan belum bertaubat. Sebab bisa jadi justru kebaikan yang dilakukan menjadi jalan datangnya hidayah dan ampunan Allah.

Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas mungkin menjadi sebab lunaknya hati. Salat yang dijaga dengan sungguh-sungguh bisa menjadi awal perubahan hidup. Membantu orang lain mungkin menjadi jalan terbukanya pintu rahmat yang selama ini tertutup.

Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. (QS. Hud: 114)

Ayat ini memberikan harapan besar bagi setiap hamba. Kebaikan bukan hanya menghasilkan pahala, tetapi juga menjadi sarana penghapus dosa. Karena itu, semakin banyak kesalahan yang pernah dilakukan, semakin besar pula kebutuhan seseorang untuk memperbanyak amal saleh.

Dampak Kebaikan

Kebaikan yang dilakukan sering kali memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada yang terlihat. Satu tindakan baik dapat menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama.

Sebuah nasihat yang tulus bisa mengubah kehidupan seseorang. Sebuah sedekah kecil mungkin menjadi penyelamat bagi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Betapa indahnya ajaran Islam. Ketika seseorang mengajak kepada kebaikan atau menjadi inspirasi bagi orang lain, pahala akan terus mengalir meskipun ia tidak menyadarinya. Inilah yang disebut sebagai keberkahan amal yang melampaui batas usia dan ruang.

Oleh karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik meskipun hasilnya tidak segera terlihat. Jangan berhenti menebar manfaat hanya karena apresiasi manusia tidak kunjung datang. Kebaikan sejati tidak selalu langsung membuahkan hasil yang tampak. Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan satu amal pun yang dilakukan dengan ikhlas.

Allah Swt. berfirman: Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. (QS. Az-Zalzalah: 7)

Marilah kita terus berusaha menjadi pribadi yang dekat dengan kebaikan. Bukan karena kita sudah baik, melainkan karena kita ingin menjadi lebih baik. Jangan menunggu sempurna untuk taat. Jangan menunggu suci untuk beramal. Jangan menunggu bebas dari dosa untuk berbuat kebajikan.

Jika hari ini kita berbuat baik, yakinlah bahwa Allah sedang menyiapkan balasan terbaik bagi kita. Bahkan lebih dari itu, surga Allah seakan sedang “mengincar” setiap hamba yang berusaha istikamah dalam kebaikan. Sebab Allah telah menjanjikan bahwa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tersedia balasan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Selama napas masih berhembus dan kesempatan masih terbuka, teruslah berbuat baik. Karena bisa jadi satu kebaikan yang kita lakukan hari ini menjadi sebab datangnya ampunan, rahmat, rida, dan surga Allah Swt. di akhirat kelak. Aamiin. []

Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply