Saba, Dikisahkan Dalam Al-Quran Negeri yang Hancur karena Suap dan Korupsi
4 min read
JAKARTA – Refleksi Negeri Saba dari kemakmuran menuju kehancuran adalah sebuah perenungan sejarah dan spiritual tentang kejatuhan peradaban.
Kerajaan Saba awalnya sangat maju dan kaya berkat pengelolaan sumber daya air yang canggih, namun hancur akibat penduduknya kufur, sombong, dan ingkar.
Kisah kehancuran peradaban Negeri Saba ini diceritakan dalam surah Saba’ ayat 15 – 17.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.
Ayat ini memberikan gambaran Saba’ adalah negeri yang kaya sumber daya alamnya, bebas dari penyakit dan permasalahan, sejahtera, memiliki pemandangan yang indah, tanah yang lapang dan subur, sungai-sungai yang membawa banyak kebaikan, pepohonan yang menghasilkan buah terbaik.
Mereka dianugerahi dua kebun luas di sisi kanan dan kiri, lingkungan yang sangat bersih dan harum, serta diperintahkan untuk bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala.
Dari ayat ini jelas bahwa kaum Saba’ awalnya hidup dalam kemakmuran dan kenikmatan yang luar biasa. Namun alih-alih bersyukur, mereka berpaling dari keimanan dan mendurhakai Allah.
Oleh karenanya Allah membinasakan mereka dengan mengirimkan banjir besar yang menghancurkan bendungan (Sail al-‘Arim). Akibatnya kebun-kebun mereka yang subur berubah menjadi hutan belantara yang dipenuhi pohon pahit.
Sebagai hukuman atas perbuatan syirik dan kesombongan mereka, Allah mendatangkan banjir bandang yang menghancurkan bendungan dengan sehancur-hancurnya. Bendungan yang selama ini menjadi sumber kesuburan negeri mereka.
Terjadinya perubahan drastis dari kebun-kebun yang indah menjadi kebun-kebun yang rata dengan tanah tanpa tersisa sedikitpun. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surat Saba’ ayat 16 .
فَأَعْرَضُوا۟ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon Sidr.
Ayat ini terkandung makna penduduk Saba’ dibinasakan oleh Allah Ta’ala dikarenakan mereka lalai atas nikmatNya, memilih kebatilan daripada kebenaran, bahkan kedustaan sudah menjadi bagian besar dalam berinteraksi di antara mereka.
Di antara sebab binasanya kaum Saba’ sebagai berikut
Praktik Suap
Suap, gratifikasi adalah pemberian yang diterima oleh pejabat dan pegawai penyelenggara negara yang berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.
Praktik gratifikasi ini pernah dilakukan oleh Ratu Bilqis dan para pembesar istananya saat merespon surat Nabi Sulaiman yang mengajak kepada purifikasi atau mentauhidkan Allah dalam ibadah. Kisah itu diceritakan dalam surat An-Naml ayat 29 – 31.
قَالَتْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ إِنِّىٓ أُلْقِىَ إِلَىَّ كِتَٰبٌ كَرِيمٌإِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِٱلرَّحْمَٰنِٱلرَّحِيمِأَلَّا تَعْلُوا۟ عَلَىَّ وَأْتُونِى مُسْلِمِينَ
Berkata ia (Bilqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.
Dalam ayat ini terkandung ajakan Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis dan masyarakatnya agar tidak berlaku sombong atas kekayaan yang ia miliki berupa hasil pertanian yang melimpah, emas, dan perak. Ratuu diminta mau menerima ajaran tauhid dan meninggalkan kesyirikan menyembah matahari.
Respons Ratu Bilqis atas surat Nabi Sulaiman diceritakan dalam surah An-Naml ayat 35.
وَإِنِّى مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌۢ بِمَ يَرْجِعُ ٱلْمُرْسَلُونَ
Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.
Ayat di atas menjelaskan, gratikasi atau hadiah berupa suap dari Bilqis bertujuan agar Nabi Sulaiman mau menerimanya, dan mengubah risalah dakwah tauhid. Namun Sulaiman menolak gratifikasi yang dibawa oleh utusan negeri Saba’.
Allah mengabadikan peristiwa penolakan Sulaiman atas gratifikasi dari Bilqis tercantum dalam Al An’am ayat 36 :
فَلَمَّا جَآءَ سُلَيْمَٰنَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَآ ءَاتَىٰنِۦَٱللَّهُ خَيْرٌ مِّمَّآ ءَاتَىٰكُم بَلْ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ
Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
Kalimat : أَتُمِدُّونَنِ (Apakah patut bagi kamu menolong aku dengan harta?) adalah kalimat pertanyaan yang mengandung celaan berupa penolakan Nabi Sulaiman atas gratifikasi Bilqis yang menginginkan agar Sulaiman mengurungkan niatnya mengajaknya bertauhid. Sebab penduduk Saba’ sudah menyembah matahari. Allah kemudian mendatangkan bencana.
Nabi Saw bersabda :
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
“Laknat Allah kepada pemberi suap dan penerima suap.” (Sahih Ahmad dan Ibnu Majah)
Pejabat Penjilat
Sikap ini biasanya bermotif transaksional untuk mendapatkan keuntungan pribadi, seperti mempertahankan kekuasaan, korupsi, promosi jabatan, atau materi.
Dalam kisah hancurnya negeri Saba’ juga tidak terlepas dari pejabat di lingkaran Ratu Bilqis yang suka mencari muka dan membenarkan segala tindakan penguasa.
Sebagaimana Allah berfirman dalam An-Naml ayat 32-33.
قَالَتْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ أَفْتُونِى فِىٓ أَمْرِى مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ ,قَالُوا۟ نَحْنُ أُو۟لُوا۟ قُوَّةٍ وَأُو۟لُوا۟ بَأْسٍ شَدِيدٍ وَٱلْأَمْرُ إِلَيْكِ فَٱنظُرِى مَاذَا تَأْمُرِينَ
Berkata dia (Bilqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku). Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.
Pada ayat di atas terkandung makna, para pejabat di Istana Bilqis ketika dimintai pendapat hanya memberikan pujian berlebihan kepada ratunya. Merasa kaya, manusianya kuat, berani, dan ditunjang dengan persenjataan lengkap sehingga siap berperang menghadapi pasukan Nabi Sulaiman.
Padahal Nabi Sulaiman mengajak Ratu Saba’ dan penduduknya mengikuti petunjuk kebenaran dan kebaikan di jalan Allah Ta’ala. Pada akhirnya Ratu Bilqis menempuh jalan damai dan menerima seruan dakwah Nabi Sulaiman.
Berdasarkan catatan sejarah dan literatur keagamaan, peradaban Negeri Saba’ berpusat di wilayah Yaman sekarang tidak hancur dalam satu peristiwa tunggal, melainkan melalui serangkaian proses alam, politik, dan bencana. Wallaahu ’Allamu Bishshawwab. []
Penulis : Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam.
