Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita, Kitalah yang Membutuhkan-Nya dengan Beribadah
3 min read
JAKARTA – Banyak orang memahami ibadah sebagai kewajiban yang harus ditunaikan seorang muslim. Namun, di balik kewajiban itu tersimpan makna yang jauh lebih mendalam. Allah meridai hamba yang beribadah kepada-Nya karena ibadah merupakan tujuan utama penciptaan manusia sekaligus wujud ketaatan kepada Sang Pencipta.
Meski demikian, penting dipahami bahwa keridaan Allah tidak dapat disamakan dengan emosi manusia. Allah tidak membutuhkan ibadah manusia untuk menambah keagungan atau kekuasaan-Nya. Justru manusialah yang memerlukan ibadah sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah, membersihkan jiwa, serta memperoleh ketenteraman hidup.
Lalu, bagaimana Al-Qur’an dan hadis menjelaskan tentang keridaan Allah terhadap hamba yang beribadah?
Ibadah sebagai Tujuan Penciptaan
Sejak awal, Allah telah menetapkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ketika seorang hamba menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan, pada hakikatnya ia sedang memenuhi tujuan penciptaannya. Dari sinilah lahir cinta dan rida Allah kepada hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Penegasan serupa terdapat dalam Surah Az-Zumar ayat 7:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak rida kepada kekafiran hamba-hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu….”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak memperoleh manfaat apa pun dari ibadah manusia. Sebaliknya, manusialah yang memperoleh kemuliaan ketika memilih jalan ketaatan.
Allah Mahakaya dan Tidak Membutuhkan Ibadah Manusia
Hakikatnya, ibadah manusia tidak menambah sedikit pun kekuasaan Allah. Demikian pula, jika seluruh manusia mengingkari-Nya, hal itu sama sekali tidak mengurangi keagungan Allah Yang Mahasempurna.
Karena itu, ibadah sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Allah. Melalui ibadah, hati menjadi bersih, jiwa menjadi tenang, dan kehidupan memperoleh arah yang benar.
Allah berfirman dalam Surah Fatir ayat 15;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.”
Makna tersebut dipertegas dalam hadis qudsi riwayat Muslim. Allah berfirman:
“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari kalian, jin dan manusia, semuanya bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidaklah hal itu menambah kerajaan-Ku sedikit pun….”
Dengan demikian, ibadah bukanlah persembahan yang menguatkan kebesaran Allah, melainkan sarana yang mengangkat derajat manusia di hadapan-Nya.
Ibadah yang Paling Dicintai Allah
Tidak semua ibadah dinilai hanya dari banyaknya amalan. Yang lebih utama ialah kualitasnya. Allah menyukai hamba yang tetap beribadah dan mengingat-Nya dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit.
Selain itu, Allah juga mencintai amal yang membawa manfaat bagi sesama. Berdasarkan kisah dialog Nabi Musa a.s., amalan sosial seperti sedekah yang mampu membahagiakan orang yang sedang mengalami kesulitan termasuk perbuatan yang sangat dicintai Allah.
Di atas semua itu, keikhlasan menjadi ruh setiap ibadah. Amal yang dilakukan semata-mata mengharap rida Allah jauh lebih bernilai daripada amal yang bertujuan memperoleh pujian manusia.
Rasulullah saw. bersabda dalam hadis riwayat Bukhari:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (konsisten) walaupun sedikit.”
Sementara itu, hadis riwayat Thabrani menjelaskan bahwa kecintaan Allah juga tampak pada amal yang memberi manfaat kepada orang lain.
Rasulullah saw. bersabda:
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah membuat muslim lain bahagia….”
Manfaat Ibadah Kembali kepada Manusia
Pada akhirnya, seluruh manfaat ibadah akan kembali kepada pelakunya sendiri. Allah menjanjikan kecukupan hati dan kemudahan hidup bagi orang-orang yang memusatkan dirinya untuk beribadah kepada-Nya.
Ketaatan juga menghadirkan ketenteraman batin serta menjadi benteng yang menjaga manusia dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 45:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Janji Allah itu kembali ditegaskan dalam hadis qudsi riwayat Tirmizi:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu….”
Dari seluruh penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa ibadah bukanlah kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan manusia.
Melalui ibadah yang ikhlas, konsisten, dan membawa manfaat bagi sesama, seorang hamba tidak hanya meraih rida Allah, tetapi juga memperoleh ketenangan, kemuliaan, dan kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat. []
Penulis : Sudono Syueb, Ketua Bidang Kominfo DDII Jawa Timur
