December 4, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Minim Gejala Awal, Merapi Tiba-Tiba Erupsi Dengan Tinggi Kolom 5.000 dan 3.000 Meter

2 min read
Prime Banner

SLEMAN – Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyebutkan, fenomena letusan Gunung Merapi dengan tinggi kolom 5 kilometer pada Jumat (27/03/2020) tidak didahului gejala atau tanda-tanda awal yang jelas. Aktivitas seismik di Gunung Merapi pada Kamis (26/03/2020) terdiri atas gempa fase banyak (MP) dua kali dan guguran (RF) hanya satu kali. Demikian juga deformasi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

”Erupsi yang saat ini, minim sekali adanya prekursor atau gejala awal. Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan tidak terbentuk tekanan yang cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik,” kata Hanik seperti dlamsi dari Antara pada Jumat (27/03/2020).

Usai peristiwa tersebut, kemarin (02/04/2020) petang, tiba-tiba Gunung Merapi mengalami hal yang sama, erupsi dengan tinggi kolom mencapai 3.000 meter di atas puncak.

Akun Twitter Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang dipantau di Jogjakarta menyebutkan letusan Gunung Merapi yang terekam di seismogram memiliki durasi 345 detik dengan amplitudo 78 mm.

”Teramati tinggi kolom erupsi ± 3.000 meter dari puncak,” sebut BPPTKG.

Dijelaskan lebih lanjut, arah angin saat terjadi erupsi ke timur. Hingga saat ini, BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian, kecuali untuk kepentingan penyelidikan serta penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

”Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan panik. Tingkat aktivitas waspada (level II). Jarak bahaya dalam radius 3 km dari puncak. Jika terjadi hujan abu, masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” tulis akun resmi BPPTKG.

Sementara itu, masyarakat di Selo Kabupaten Boyolali, masih aman. Menurut Marwoto, kepala Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Gunung Merapi meletus kemarin sekitar pukul 15.10 WIB, diawali suara gemuruh yang cukup lama terdengar dari Desa Klakah Kecamatan Selo, Boyolali.

”Warga sempat panik karena suara gemuruh puncak Merapi terdengar agak lama waktunya dari Desa Klakah. Bahkan, warga bisa melihat kasat mata kondisi puncak dengan mengeluarkan asap tebal ke atas,” kata Marwoto.

Menurut dia, warga setiap ada letusan sering mereka keluar dari rumah untuk memantau kondisi puncak Merapi. Puncak Merapi tadi kelihatan sekali karena kondisi cuaca di atas sangat cerah. Namun, asap Merapi terlihat mengarah ke timur selatan atau ke arah wilayah Kabupaten Klaten, sehingga Selo, Boyolali, masih aman dari hujan abu.

Kendati demikian, pihaknya sudah mengimbau masyarakat terutama di Dukuh Bangunsari, Bakalan dan Sumber yang masuk kawasan rawan III bencana untuk selalu memantau kondisi terkini Merapi.

Selain itu, warga di Desa Klakah untuk melakukan ronda malam sejak Merapi meletus pada Jumat (27/03/2020) pekan kemarin, hingga sekarang. Hal ini, untuk mengantisipasi adanya bencana letusan.

Kades Jrakah Selo Boyolali Tumar mengatakan, Desa Jrakah yang berjarak sekitar lima hingga enam kilometer dari puncak Merapi. Menurut dia, suara gemuruh terdengar dari Desa Jrakah, sehingga warga langsung lari keluar rumah untuk melihat langsung kondisi puncak. Letusan Merapi terlihat jelas ke arah atas asap tebal dan angin mengarah ke timur selatan, sehingga tidak mungkin ke arah Boyolali, sehingga Selo aman hujan abu. [JPNN]

Advertisement