June 8, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mitos Bulan Suro

4 min read

JAKARTA –  Istilah Suro berasal dari bahasa Arab Asyura (yang berarti sepuluh). Menjadi nama bulan pertama dalam kalender Jawa menggantikan nama Muharam dalam kalender Hijriah.

Penanggalan Jawa dibuat semasa Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma, pada tahun 1633 M dengan cara menggabungkan kalender Hijriah dan kalender Saka (Jawa ). Nama bulan dan hari mengadopsi kalender Hijriah. Angka tahun tetap merujuk tahun Saka.

Dalam tradisi Kejawen, bulan Suro dianggap sakral. Menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan di bulan ini dihindari karena konon bisa mendatangkan musibah, kesialan, atau rumah tangga yang tidak harmonis

Pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan. Islam menolak anggapan adanya bulan buruk atau hari sial. Bulan Muharram bahkan dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan atau bulan haram. Allah Ta’ala berfirman dalam At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Maksud ayat ini, di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan haram, Allah mengharamkan peperangan pada waktu tersebut. Yaitu tiga bulan berurutan, Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharam (Suro) dan satu bulan lagi Rajab.

Bulan Sial

Ada kepercayaan bulan Suro pembawa sial atau penuh marabahaya, sehingga orang takut mengadakan resepsi pernikahan di bulan ini. Jika dilakukan dipercaya bisa mendatangkan kesialan bagi pasangan pengantin, seperti perceraian dan kematian. Padahal dalam Islam, Muharram merupakan bulan yang mulia dan penuh berkah.

Larangan Keluar Malam

Mitos yang menyebutkan pada Malam 1 Suro makhluk gaib berkeliaran, sehingga masyarakat dilarang keluar rumah agar tidak diganggu atau tertimpa sial.

Larangan tersebut adalah mitos atau kepercayaan masyarakat Jawa yang tidak memiliki dasar syariat. Dalam Islam, bulan Muharram justru merupakan salah satu bulan yang mulia (bulan haram) dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah serta amal kebaikan, seperti melaksanakan puasa Muharam, sebagaimana Nabi Saw bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram.” (Sahih Muslim)

Pelaksanaan puasa ini merujuk pada sejarah diselamatkannya Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Firaun. Berpuasa di hari tersebut merupakan bentuk syukur kepada Allah Ta’ala sekaligus menghidupkan, dan mengikuti sunnah  Rasulullah Saw.

Pindah dan Membangun Rumah Membawa Petaka

Kepercayaan turun-temurun bahwa jika seseorang membangun, merenovasi, atau pindah rumah di bulan Suro, rumah tersebut akan membawa sial atau penghuninya akan sering sakit.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Araf ayat 188  :

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Ayat ini bermakna, pengetahuan gaib mutlak milik Allah semata. Bahkan seorang Nabi pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk kapan datangnya hari kiamat atau hal-hal tersembunyi lainnya.

Mencari Kekayaan di Tempat Keramat

Mitos ziarah ke tempat-tempat sakral dengan tujuan meminta pesugihan, pelaris dagangan, atau jodoh langsung kepada entitas penunggu atau makam keramat.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Ankabut ayat 17:

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْثَٰنًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَٱبْتَغُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزْقَ وَٱعْبُدُوهُ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥٓ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

Ayat ini terkandung larangan mutlak seseorang meminta penglaris rezeki atau keberuntungan kepada selain Allah Ta’ala seperti kepada patung, pepohonan yang dianggap keramat, dan dukun.

Semua Hari Adalah Baik

Dalam hadis Qudsi, Nabi Saw bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah Ta’ala berfirman,“Anak Adam telah menyakiti-Ku (karena) dia suka mencela waktu (masa). Padahal Aku-lah pencipta (pengatur) masa. Aku-lah yang menggilir antara siang dan malam.” ( Sahih Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini diperoleh penjelasan, termasuk dalam perbuatan syirik besar adalah memiliki keyakinan hari-hari atau penomoron tiga belas dapat mendatangkan kesialan, keberuntungan, dan kematian seseorang.

Penutup

Dari penjelasan nas sahih tersebut diperoleh kesimpulan, tidak terlarang untuk melakukan akad nikah pada bulan Muharam. Selama syarat dan rukun nikah terpenuhi, akad nikah sah dan boleh dilakukan kapan saja. Tidak usah percaya mitos.

Umat Islam sangat dianjurkan dengan tegas  untuk menghindari tahayul dan cerita khurafat yang tidak berlandaskan syariat Islam.

Mengisi malam p []ergantian tahun Hijriah dengan amalan positif seperti berdoa, membaca Al-Qur’an, dan berpuasa sunah, bukan dengan mengurung diri karena takut kesialan. Wallaahu ’alamu bishshawwab

Penulis :  Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf  PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply