Orang Berakal Menurut Al-Quran
2 min read
JAKARTA – Menjadi manusia adalah sebuah anugerah, namun menjadi manusia yang berakal adalah sebuah kemuliaan yang sejati. Dalam Al-Quran disebut ulul albab. Orang yang memahami substansi pengetahuan.
Di dalam Islam, akal bukanlah sekadar alat untuk berpikir logis atau menghitung matematika, melainkan sebuah kompas spiritual yang menuntun manusia untuk mengenali penciptanya dan menata kehidupan di dunia dengan bijaksana.
Lantas, siapakah sebenarnya orang yang berakal itu?
Orang berakal tidak pernah memandang dunia ini dengan tatapan kosong. Bagi mereka, setiap pergantian siang dan malam, hembusan angin, dan megahnya langit adalah surat cinta dari Allah yang harus dibaca. Mereka menggunakan akalnya untuk merenungkan kebesaran penciptaan.
Di dalam Al-Qur’an, Allah secara spesifik memuji orang-orang yang menggunakan akalnya untuk bertafakur. Salah satunya terdapat dalam surah Ali Imran ayat 190: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.
Bagi ulul albab, ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di dunia—baik itu sains, astronomi, maupun biologi—justru semakin mempertebal keimanan mereka, bukan malah membuat mereka sombong dan menjauh dari agama.
Mengendalikan Diri
Ciri utama ulul albab adalah kemampuan untuk mengendalikan diri. Orang yang cerdas secara spiritual tahu bahwa menuruti setiap keinginan emosi dan hawa nafsu hanya akan membawa kehancuran. Akal berfungsi sebagai rem, sedangkan nafsu adalah gasnya.
Rasulullah pernah memberikan definisi yang sangat menarik tentang siapa orang yang benar-benar cerdas.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi Saw bersabda: “Orang yang cerdas (berakal) adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
Dari hadis ini, kita belajar bahwa tolok ukur kecerdasan dalam Islam bukan terletak pada seberapa tinggi gelar akademik seseorang, melainkan seberapa visioner dia dalam mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi di akhirat.
Berpikir Sebelum Bertindak
Orang berakal memiliki akhlak yang mulia. Mereka berpikir berkali-kali sebelum berbicara, memastikan bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya membawa kedamaian, bukan adu domba.
Mereka juga menggunakan akalnya untuk menimbang baik dan buruknya suatu tindakan sebelum melangkah.
Di era modern yang penuh dengan hoaks dan fitnah digital seperti sekarang, peran akal sehat sangatlah krusial. Orang berakal tidak akan mudah terprovokasi. Mereka akan melakukan tabayyun (konfirmasi) dan menggunakan logika yang sehat yang dibimbing oleh iman.
Menjadi orang berakal adalah sebuah proses belajar yang tiada henti. Mengasah akal tidak hanya dengan membaca buku-buku duniawi, tetapi juga dengan mendekatkan diri pada Al-Qur’an dan sunnah.
Ketika akal kita diterangi oleh cahaya iman, kita tidak hanya akan menjadi pribadi yang pintar, tetapi juga bijaksana, tenang, dan membawa manfaat bagi semesta alam. []
Penulis : Suharto Fauzan, Pegiat Literasi Surabaya.
