Pensiun dari Pekerja Migran, Rosyidah yang Ulet Olah Hasil Laut Kini Sukses Menjadi Juragan
2 min read
JAKARTA – Empat tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Rosyidah. Sepulang ke kampung halamannya di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, ia memilih memulai lembaran baru dengan membangun usaha berbasis potensi daerah.
Rosyidah melihat hasil laut yang melimpah di kawasan pesisir belum banyak diolah menjadi produk bernilai tambah. Dari kondisi tersebut, ia menemukan peluang untuk membangun usaha sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Berbekal tekad, Rosyidah merintis usaha olahan hasil laut dengan merek C’milzea. Usaha tersebut juga membuka kesempatan bagi para istri nelayan di lingkungannya untuk memperoleh tambahan penghasilan.
“Saya melihat sumber daya alam di sekitar sangat melimpah, tetapi belum memiliki nilai jual. Dari situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka peluang kerja untuk ibu-ibu nelayan di sekitar,” ujarnya.
Perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi Rosyidah justru datang dari dirinya sendiri, mulai dari membangun kepercayaan diri sebagai pelaku usaha, mengubah pola pikir, hingga mempelajari strategi pemasaran agar produknya semakin dikenal.
Keinginan untuk terus berkembang membawanya mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran yang diselenggarakan bank plat merah. Program tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kemampuan berwirausaha sekaligus memperluas wawasan dalam mengembangkan bisnis.
Melalui pelatihan tersebut, Rosyidah juga memperoleh kesempatan membangun jejaring dengan pelaku usaha lain dan bertukar pengalaman yang memperkaya perspektifnya dalam mengelola usaha.
“Pelatihan ini sangat membantu saya dalam memperbaiki mindset sebagai pelaku usaha. Selain itu, saya juga mendapatkan jejaring baru yang sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha,” tuturnya.
Ilmu yang diperoleh kemudian diterapkan secara bertahap, termasuk mengembangkan berbagai olahan ikan menjadi produk bernilai tambah, seperti kerupuk ikan.
“Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan saya mendapatkan banyak ilmu, terutama dalam mengolah ikan, seperti membuat kerupuk ikan. Ilmu tersebut sangat membantu dalam mengembangkan usaha yang saya jalankan,” kata Rosyidah.
Selain memperoleh pendampingan melalui pelatihan, Rosyidah juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank plat merah yang mendampinginya sebagai tambahan modal usaha. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, menambah stok produk, serta memenuhi kebutuhan operasional agar mampu melayani permintaan pelanggan yang terus meningkat.
“Alhamdulillah, dana KUR yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk mengembangkan usaha, mulai dari membeli bahan baku hingga menambah stok produk. Dengan adanya KUR, saya tidak lagi kesulitan saat membutuhkan modal untuk memenuhi permintaan pelanggan. Saya sangat bersyukur karena usaha saya semakin berkembang dan penjualan pun meningkat,” ungkapnya.
Dukungan tersebut memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usaha C’milzea. Jika sebelumnya penjualan rata-rata hanya sekitar 50 kemasan, kini meningkat menjadi 70 hingga 100 kemasan. Variasi produk yang ditawarkan pun berkembang dari satu menjadi tiga jenis produk. [] JPNN
