June 11, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Rupiah Terus Melemah, Presiden DIminta Perbanyak Pendapatan dari Devisa PMI dan Turis

3 min read

JAKARTA – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan sejumlah masukan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu poin yang disorot adalah peluang memperkuat cadangan devisa Indonesia melalui peningkatan remitansi pekerja migran, yang dinilai masih tertinggal dibandingkan Filipina.

Anggota DEN Mochamad Firman Hidayat mengatakan pelemahan rupiah perlu dilihat secara menyeluruh dan tidak semata-mata dari pergerakan nilai tukar. Menurut dia, pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen untuk memperkuat neraca pembayaran dan pasokan devisa nasional.

“Kami juga menyampaikan terkait dengan pelemahan rupiah, kita juga harus melihatnya secara komprehensif dari sisi neraca pembayaran. Ada beberapa langkah konkret yang kita bisa lakukan untuk memperkuat devisa,” kata Firman di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).

Firman menjelaskan salah satu sumber devisa yang masih berpotensi ditingkatkan adalah pendapatan sekunder atau remitansi dari pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Menurut dia, kontribusi remitansi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan, terutama Filipina yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan penerimaan remitansi terbesar di Asia.

“Kalau kita bandingkan dengan Filipina jumlahnya masih lebih rendah Indonesianya. Artinya program-program Bapak Presiden (Prabowo) untuk meningkatkan pekerja migran berkualitas seperti perawat, electrician, dan segala macam itu bisa membantu meningkatkan devisa ke depan,” ujarnya.

Selain remitansi, Firman juga menyoroti sektor pariwisata sebagai sumber devisa yang masih dapat didorong lebih jauh. Ia mencatat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara tetangga.

Menurut Firman, Indonesia menerima sekitar 15 juta wisatawan asing sepanjang tahun lalu. Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan Vietnam yang mencapai sekitar 20 juta wisatawan, Thailand 30 juta wisatawan, dan Malaysia sekitar 40 juta wisatawan.

“Kalau kita bisa meningkatkan wisman lebih tinggi dalam waktu ke depan ini, ini tentu akan bisa membantu meningkatkan devisa kita,” katanya.

Ia menambahkan salah satu kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk mendorong kunjungan wisatawan asing adalah pemberian bebas visa bagi negara-negara tertentu yang memiliki tingkat pendapatan tinggi dan minat besar untuk berkunjung ke Indonesia.

Firman juga menyampaikan kepada Sang Kepala Negara fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Ia menilai kondisi tersebut berbeda jauh dibandingkan krisis ekonomi 1998.

Menurut dia, sejumlah indikator makroekonomi masih menunjukkan ketahanan ekonomi, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, hingga kondisi korporasi dan perbankan yang dinilai sehat.

Firman menyebut utang korporasi dalam denominasi dolar AS saat ini jauh lebih rendah dibandingkan masa krisis 1998. Selain itu, posisi kas perusahaan juga relatif kuat sehingga dinilai mampu membantu dunia usaha menghadapi ketidakpastian global.

Di sektor perbankan, ia menyoroti rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berada di atas 25 persen sebagai indikator bahwa sistem keuangan nasional masih memiliki bantalan yang memadai.

Meski demikian, DEN mengingatkan pemerintah tetap perlu mewaspadai dampak perang dan ketegangan global yang berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Menurut Firman, kenaikan harga energi dunia dan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi serta distribusi di dalam negeri pada semester kedua tahun ini.

Karena itu, DEN juga meminta pemerintah terus menjaga kepercayaan pasar, termasuk dengan memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai komitmen menjaga defisit fiskal dan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply