April 24, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sambut 2024, Puluhan Mantan PMI Berlaga di Ajang Master Hawu

3 min read

JAKARTA – Puluhan mantan pekerja migran Indonesia dari berbagai negara penempatan berkumpul  memeriahkan gelaran “Master Hawu” atau lomba memasak di Blok Kaputren, Desa Putridalem, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Acara terebut digelar di penghujung tahun 2023. Master Hawu merupakan sebuah lomba memasak yang semua pesertanya mantan pekerja migran atau tenaga kerja wanita di berbagai negara.

Puluhan mantan pekerja migran berderet memanjang. Mereka mengenakan pakaian putih hitam lengkap dengan clemek yang disiapkan pihak panitia. Mereka menghadapi hasil masakannya masing – masing di meja yang juga disiapkan pihak panitia di sebuah kawasan Sanggar Bambu Merdeka.

Tujuh bendera negara tempat para mantan pekerja migran dipasang sejajar. Itu untuk menunjukan serta mengingatkan para peserta Master Hawu, bahwa mereka pernah bekerja di sana dan menunjukkan masakan yang diolahnya benar – benar masakan khas negara tempatnya bekerja.

Ada 7 negara yang menjadi tujuan pekerja migran asal Blok Kaputren. Masing – masing yakni Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang dan Saudi Arabia termasuk Indonesia sendiri.

Beberapa di antara mereka ada yang mengadu nasib ke luar negeri sejak remaja dan hingga belasan tahun bekerja di negara orang untuk memperbaiki ekonomi keluarga dan orang tuanya. Sehingga, mereka lihai betul bagaimana memasak masakan khas negara tempatnya bekerja dulu.

Rusmiah misalnya yang sempat bekerja di Arab Saudi selama 8 tahun. Dia memasak nasi kebuli yang dibubuhi daging sapi serta daging ayam. Aromanya sangat wangi dan gurih ketika dicicipi.

Beberapa mantan pekerja migran di Taiwan menyajikan menu makanan yang setiap hari mereka nikmati saat beraja di tempat kerja bersama majikannya. Di antaranya miyeokguk ada juga yang membuat dimsum kai hong yuk mentai.

Walaupun bahannya cukup banyak dan jarang ditemukan di Kampung Kaputren, misalnya rumput laut, kerang, dan sejumlah bahan lainnya termasuk wijen. Namun, makanan tersebut tetap tersaji dan bisa dinikmati seperti saat berada di Taiwan.

“Bahannya harus beli ke pasar, dan sebagian dari swalayan. Daging ikan ada di pasar hanya kita mengolah membuang durinya,” kata Nunung yang 9 tahun bekerja di Taiwan dan setiap hari menyiapkan menu makan untuk majikannya.

Lulusan pekerja migran asal Korea ada yang memasak kimchi dan kimbab bulgogi, makanan ini katanya bahannya cukup mudah diperoleh. Karena, di pasar tradisional pun sangat banyak. Seperti halnya sawi putih, bubuk cabe dan bumbu lainnya terutama bawang. Namun, soal rasa katanya cukup enak.

Mereka yang pernah bekerja di Malayasia dan Singapura karena satu rumpun yang dimasak pun nyaris sama yakni nasi lemak dan nasi kucing, seperti yang dilakukan Tuti serta Eem.

Ketua Panitia Master Hawu, Amin Halimi mengungkapkan, kegiatan yang dilakukannya tersebut untuk kedua kalinya setelah tahun 2021 lalu.

“Tahun 2021 lalu pesertanya satu desa. Jadi lebih banyak. Karena di kami hampir semua perempuan pernah bekerja di luar negeri di berbagai negara. Hanya kebanyakan di Taiwan, Hongkong serta Korea. Karena gajinya memang lebih besar,” kata Amin yang menilai peserta dari rasa makanan, hingga penyajian.

Untuk kegatan kali ini, jumlah pesertanya sebanyak 30 orang. Karena banyak yang tidak ikut kemungkinan disebabkan bahan yang harus disajikan tidak tersedia. Karena harus membeli ke swalayan. Sedangkan slawayan jauh dari desanya.

Master Hawu sendiri menurut Amin Halimi sebetulnya hanya untuk kangen kangenan dan bersilaturahmi antar warga sekaligus hiburan.

“Kami sendiri inginya dari mereka ini bisa membuka cafe atau restoran dengan menyajikan makanan khas negara tempatnya bekerja. Bisa restoran Taiwan, Jepang atau Korea dan sebagainya. Kami mendorong untuk membuka usaha UMKM,” kata Amin.

Kepala Desa Putridalem Endah Endarwati menyebutkan, 70 persen warga di desanya bekerja ke luar negeri. Ada yang sudah kembali dan ada yang masih Berada di luar.

“Perempuan – perempuan di kami sebagian besar perenah bekerja di luar negeri. Mereka pernah bekerja di beberapa negara, tak heran jika banyak warga yang menguasai tiga bahasa, seperti Inggris, Korea, Jepang juga arab,” kata Edah.

Malah saking banyaknya perempuan yang bekerja di luar negeri, Desa Putridalem sendiri dijuluki Kampung TKW. []

Sumber Pikiran Rakyat

Advertisement
Advertisement