June 18, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Selamatkan yang Lemah

4 min read

ApakabarOnline.com – Setiap insan dilahirkan Sang Kholiq dengan potensi dan dalam bentuk sempurna. Namun tidak tidak bisa dipungkiri, bahwa sejak kelahirannya ada sejumlah insan yang diuji dengan berbagai bentuk keterbatasan dan kekalahan. Bahkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya juga dijumpai sejumlah persoalan baik fisik, psikis, maupun mental.

Kondisi yang demikian ternyata bisa membuat insan itu lemah dan tak berdaya. Ada di antara mereka yang mengatasi sendiri, namun tidak sedikit yang tidak mampu mengatasi sendiri, sehingga mereka menjadi lemah dan lemah.

Kehadiran sejumlah insan yang lemah, belakangan ini semakin diperparah dengan kehadiran COVID-19, yang mulai menjangkau insan Indonesia di awal Maret 2020 hingga kini. Tanpa memperhatikan status sosial ekonomi, Covid-19 telah merubah gaya dan pola hidup semuanya. Tidak sedikit yang dibayangi-bayangi ketakutan. Namun tidak sedikit yang merasa hidupnya dalam ketidakberdayaan dan lemah, sehingga untuk survive sangat membutuhkan santun dan sentuhan kasih sayang dari orang lain.

Bagaimana kita membaca kondisi sejumlah insan yang lemah itu? Kita bisa mencermati salah satu firman salah swt dalam QS Az Zukhruf: 32, yang artinya “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Betapa adanya kejadian pada setiap insan itu tidak bisa dihindari.

Ingat bahwa Allah swt dengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia yang berbeda-beda status sosialnya. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang dipimpin. Ada yang ditakdirkan kaya, ada yang miskin. Ada yang kuat, ada yang tak berdaya. Bahkan, ada yang merdeka, ada menjadi budak sahaya.

Semuanya dijadikan sebagai ujian bagi para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya, dalam QS Al Furqan: 20, yang artinya “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Rabb kalian Maha Melihat.”

Manusia, sebagai makhluk sosial, tentu tidak akan bisa lepas dari ketergantungan pada orang lain.

Memang insan yang lemah pada tahap tertentu membutuhkan bantuan dari orang lain. Hal itu sangat wajar, karena pada hakekatnya manusia, sebagai makhluk sosial, tentu tidak akan bisa lepas dari ketergantungan pada orang lain. Bahkan orang kaya pun dalam hal tertentu merasa lemah, sehingga kebutuhan hidupnya tidak akan terpenuhi dengan baik tanpa adanya bantuan dari orang miskin.

Demikian pula pemerintah yang hebat pun tidak akan bisa mewujudkan berbagai program dengan sempurna apabila tidak mendapat bantu dan dukungan dari rakyat dan para ahli yang berintegritas. Oleh karena itu, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, yang dalam ke beruntungan dan ketidakberuntungan, antara pemerintah dan rakyatnya, sudah semestinya dikubur dalam-dalam. Selanjutnya perlu diciptakan kehidupan yang dinamis? Saling peduli dan saling supportif, sehingga semua terberdayakan.

Siapa yang dimaksudkan insan yang lemah di tengah-tengah masyarakat itu, (a) anak yatim, (b) anak, (c) kaum wanita, (d) rakyat jelata, (e) janda, dan (f) orang miskin. Individu-individu inilah yang kehidupannya di tengah masyarakat berada dalam kondisi lemah. Akibatnya mereka mengalami kesulitan di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Jauh dari kehidupan sejahtera dan bahagia. Keberadaan mereka tidak boleh dibiarkan menderita dan gagal hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk itulah kita tidak boleh mendholimi mereka. Kedzaliman, dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun, adalah kejahatan yang pelakunya berhak mendapat hukuman di dunia, sebelum mendapatkannya di akhirat kelak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya:

“Tiada suatu dosa pun yang lebih pantas untuk Allah swt segerakan hukumannya atas pelakunya di dunia, di samping azab yang Allah telah sediakan untuknya di akhirat, daripada dosa kezaliman dan memutus hubungan silaturahim.” (HR, Imsm Bukhari)

Insan yang lemah pada hakekatnya tidak selalu berada ada dalam ketidakberdayaan untuk selamanya. Di balik kelemahan seseorang sangat mungkin tersimpan potensi yang bisa dibina sehingga teraktualisasikan secara optimal, yang pada akhirnya memiliki peluang untuk bangkit dan dapat meraih suatu kesuksesan.

Insan lemah tidak boleh dinafikkan masa depannya. Mereka juga berhak memiliki big dream. Cepat atau lambat berhak bangkit dari keterpurukan dan ketakberdayaan. Dengan demikian perlu diberi virus motif berprestasi dan dilatih keterampilan entrepreneurship untuk menjadi bekal menuju kepada suatu kebangkitan.

Akhirnya bahwa kelemahan itu tidak boleh mengurangi kepada pesimisme dalam hidup. Namun sebaliknya harus dipandang sebagai tantangan yang wajib dihadapi dengan melakukan eksplorasi terhadap potensi yang dimiliki. Untuk maksud ini bisa dilakukan sendiri, atau mengundang para ahli untuk bisa mengakselerasi segala ikhtiar untuk aktualisasi diri. Dengan begitu kelemahan bukan menjadi akhir dari kehidupan, melainkan awal membangun kekuatan untuk wujudkan cita-cita masa depan.

Ingat bahwa tantangan hidup itu cenderung memiliki potensi besar dan cepat untuk bangkit daripada kemewahan hidup yang cenderung memanjakan sehingga kehilangan momentum yang terbaik untuk meraih kejayaan, bahkan tidak sedikit jatuh menuju kehancuran. Semoga siapapun yang berada dalam kondisi lemah (dhoif), berangsur-angsur bangkit dan siap menghadapi berbagai tantangan, sehingga menjadi pemenang di dunia dan di akhirat. Aamiin. []

Penulis Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Advertisement
Advertisement