April 22, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tutuplah Aib Orang Lain, Maka Dirimu Akan Menjadi Insan Utama Dimata Allah

3 min read

JAKARTA – Saat ini, begitu mudahnya seseorang membuka aib sesama, melempar tudingan, mencari-cari kesalahan, menyebarluaskannya dan bahkan menjadikannya sebagai lelucon, tanpa menyadari akan bahayanya.

Mereka berbicara tanpa mengindahkan larangan agama, berbicara tanpa fakta nyata dan hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Mereka tidak menyadari bahwa semua perkataan yang mereka ucapkan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata aib itu memiliki arti malu, cela, noda, salah ataupun keliru. Menurut al-Fairuz Abadzi dalam Al-Qamus al-Muhith, secara bahasa, aib bermakna cacat atau kekurangan.

Sebagian ulama Mazhab Hanafi menjelaskan aib dengan pengertian:

“Suatu bagian yang tidak ada dari asal penciptaannya dan hal itu dianggap sebagai kekurangan. ” (Al-Hasfaki, ad-Dur Al-Mukhtar, Dar Al-Fikr, Beirut).

Dari pengertian di atas, aib adalah suatu kekurangan. Kekurangan ini harus ditutupi, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya Muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Dikutip dari Islampos.com, ada 3 keutamaan menutupi aib orang lain yaitu:

 

  1. Allah Akan Menutup Aibnya di Akhirat

Orang yang senantiasa menutupi aib orang lain, Allah Ta’ala akan menutupi aibnya di akhirat kelak. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim).

 

  1. Allah Menutup Aibnya di Dunia

Tidak hanya mendapat keutamaan ketika di akhirat, menutupi aib orang lain juga akan diperoleh ketika masih hidup di dunia.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang Siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

 

  1. Seperti Menghidupkan Bayi yang Dikubur Hidup-Hidup

“Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR. Abu Daud).

Melansir Republika.co.id, Dekan Fakultas Tafsir Universitas Al Azhar Kairo Mesir Prof Dr Abdul Badi’ mengatakan, Allah Ta’ala sebenarnya ingin menutupi aib hamba-hamba-Nya.

Seperti seorang Muslim yang mendapati saudaranya tengah berzina. Jika ia memergoki kejadian itu seorang diri, kewajibannya adalah menasihati pelaku zina dan haram baginya untuk menyebarluaskan aib tersebut.

Lain persoalannya jika disaksikan empat orang laki-laki yang adil dan benar-benar menyaksikannya. Berarti, pelaku zina sudah benar-benar keterlaluan sehingga wajib untuk dilaksanakan hukum Islam. Tapi, tentu saja jarang sekali perilaku zina tertangkap basah oleh empat orang laki-laki yang adil.

Menurut Prof Dr Abdul Badi’, model hukum Islam seperti ini memesankan kepada kaum Muslim untuk menutupi aib saudaranya kendati ia sudah tertangkap basah telah berzina. Bahkan, orang yang sudah bermaksiat kepada Allah SWT sekali pun, masih dilindungi aibnya oleh Allah SWT, apalagi orang yang memiliki aib pribadi.

Ketika Ghamidiyah, salah seorang wanita yang dihukum rajam pada zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam akan dieksekusi mati, salah seorang sahabat melontarkan kata-kata yang mencelanya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam langsung menepisnya dan bersabda, “Janganlah engkau menghina dan mencerca Ghamidiyah. Sesungguhnya, tobatnya itu diterima Allah. Sekiranya hendak dibandingkan tobatnya dengan tobat yang lain, tobat ini adalah lebih besar dari Gunung Uhud.”

Semenjak itu, seluruh sahabat mendiamkan kisah Ghamidiyah. Seakan, semasa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tak ada orang yang dihukum rajam karena telah berzina. Para sahabat tidak ada yang berani membahas saudarinya yang pernah khilaf berzina dan dirajam. Mereka sadar, keimanan Ghamidiyah jauh lebih tinggi dari mereka.

Ketika seseorang ingin membuka aib saudaranya, apakah ia menyadari sepenuhnya orang yang ia buka aibnya itu benar-benar lebih hina dari darinya? Tak ada yang bisa menjamin derajat ketakwaan dan keimanan seseorang di sisi Allah Ta’ala.

Bisa jadi, orang yang dibuka aibnya tersebut ternyata lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Apalagi, untuk menghina seorang ulama atau orang saleh yang kemungkinan besar adalah orang yang derajatnya tinggi di sisi Allah. []

Advertisement
Advertisement